
POV Author
"..."
BLARRRR
BLARR
Sebuah granat tangan terlontar begitu saja membuat bagian lobi kantor Lyra menjadi luluh lantak. Tak hanya satu, granat terlontar dalam beberapa kali lemparan.
"Ada apa ini?" Lintang dan Lyra segera berlari ke arah lobi.
"Dahlia dan Laras, kalian lindungi diri. Jangan terlalu dekat dengan kami. Kemungkinan didepan sana akan sangat berbahaya," teriak Lyra sambil terus berlari.
Tiba di lobi, kondisi sudah demikian parah. Lantai retak dan berhamburan, kaca-kaca pecah. Kursi sofa dan segala perabot yang ada disana sudah berubah seperti barang rongsokan.
"Hahaha..sudah saatnya kalian binasa," gelak tawa seorang pria melangkah masuk diikuti ratusan anggotanya.
"Siapa kalian?" teriak Lintang lantang tanpa mengenal takut.
"Hahaha. Harusnya kalian tak perlu tahu siapa kami. Tapi baiklah, sebagai hadiah untuk kalian bawa ke liang lahat akan aku katakan. Aku adalah West, tangan kanan dari bos besar Hellfire, Tuan Flad." Pria bernama West tersebut menjawab tak kalah lantang.
"Flad?!, siapa dia?. Aku tak pernah mengenalnya. Untuk apa dia mencari masalah dengan kami?!" Lintang mengerutkan kening penasaran.
"Siapa yang mencari masalah dengan Mr. Frans maka akan berurusan dengan Mr. Flad. Mereka adalah saudara angkat sejak kecil. Ahh bodoh, untuk apa kujelaskan panjang lebar. Hari ini bersiaplah menyambut kematian kalian. Pasukan, seraaang!!" tanpa menunggu lagi West menerjang maju diikuti ratusan gelombang pasukannya.
__ADS_1
Kondisi ini demikian mendadak dan diluar perkiraan. Siapa yang akan menyangka jika masih ada musuh yang tersisa. Lintang juga tak berpikir jika musuh bahkan memburu hingga ke kota kecil tersebut. Namun semua sudah terlambat untuk disesali. Diruangan kantor hanya tersisa segelintir orang yang bakal kuwalahan menghadapi ratusan pasukan lawan. Meski Lura dan Lintang cukup hebat dalam bertarung, tenaga mereka ada batasannya.
Dari balik dinding, Laras dan Dahlia hanya bisa mengintip tanpa bisa membantu apa-apa. Mereka tak memiliki keahlian beladiri sedikitpun.
"B-bu, hub-hubungi Tuan Alvian.." bisik Laras terbata memecah kebekuan.
"Oh..I-iya," Dahlia dengan gugup meraih handphonenya.
Didepan sana baik Lyra maupun Lintang sudah bertarung ditengah kepungan pasukan lawan yang tak bisa dibilang sedikit. Dengan gagah berani mereka bahu membahu melibas satu persatu anak buah West demi untuk melindungi diri.
WUSSS
Tiba-tiba barisan terdepan lawan seperti terpental kebelakang. Tak jauh dari posisi Lyra dan Lintang muncul Pak Fuad menghentakkan kemampuan kultivasinya.
"Ohh menarik. Ada tua bangka yang memiliki kemampuan kultivasi. Tapi sadarlah Pak Tuan, kemampuanmu bukan bandingan jika melawan pasukanku yang sebanyak ini!" sentak West garang.
"Dan kau pria pengacau, kita buktikan apakah ucapanmu memang benar atau hanya bualan belaka!" cebik Pak Fuad sinis.
"Kalian gunakan serangan lapis ke 2 setiap kali aku usai menembakkan tenaga. Nak Lintang dari bagian bawah, dan Nak Lyra serangan dari atas!" bisik Pak Fuad memberikan pengaturan.
"Kita tak memiliki pendukung lagi. Maka maksimalkan segala kemampuan. Jangan sampai lengah!" lanjut Pak Fuad.
"Seraaaang!!" teriakan West disambut ketiganya dengan penuh konsentrasi.
WUSSS
__ADS_1
Sekitar 10 penyerang bagian depan segera terpental seperti diawal tadi. Lintang segera berlari menyambut dan menghasilkan tendangan bawah.
KRAKK
KRAKK
Dua tulang kering dari 2 lawan seketika patah oleh tendangan itu.
"Hiyaaa.." menyusul Lyra yang menggunakan pundak Lintang sebagai tumpuan.
Lyra melompat tinggi mengirimkan tendangan memutar yang menghentak 3 rahang lawan sekaligus. Dalam sebuah kombinasi serangan, mereka berdua berhasil menumbangkan 5 lawan sekaligus.
WUSSS
WUSS
Lintang dan Lyra kembali mundur untuk mengulang skema yang telah diatur Pak Fuad. Beberapa kali putaran, cara tersebut cukup efektif. Namun kian lama, musuh mulai bisa membaca pola itu.
Pak Fuad segera memberikan pengarahan singkat untuk merubah pola serangan, namun musuh datang bagai air bah. Mungkin mereka tak hanya ratusan orang. Bisa jadi mereka berjumlah hampir 1000 orang.
Wajah Lintang, Lyra, dan Pak Fuad semakin memburuk. Tenaga mereka terus saja berkurang, namun lawan masih saja berdatangan tak ada habisnya.
"Berapa lama lagi bantuan dari DZ Badak datang?" bisik Pak Fuan dengan napas tersengal.
"Jika Dahlia dan Laras cukup tanggap menghubungi Alvian, maka paling cepat mereka akan datang dalam 30 menit." Terang Lintang kalut.
__ADS_1
"Terlalu lama. Kita tak akan bisa bertahan selama itu!" desis Pak Fuad seolah putus asa.
..._-_-_...