Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Kedatangan Laras


__ADS_3

POV Author


seminggu kemudian..


Entah ini masalah baru atau kebahagiaan baru, mendadak Tuan Julian dari Earth & Sun menugaskan Laras untuk magang sekaligus study banding di perusahaan BTT milik Lintang selama 6 bulan kedepan. Hal semacam itu memang telah disepakati bersama oleh para All-In, bahwasanya dibuka seluas-luasnya pertukaran karyawan dalam bentuk magang dan bertukar ilmu antar perusahaan demi menjalin hubungan baik antar All-In.


Namun yang disesalkan Alvian, kenapa harus Laras yang dipilih untuk mewakili perusahannya?.


Alvian sedang meeting bersama Lintang saat pintu ruang CEO diketuk dari luar. Tak lama muncul wajah gadis musuh bebuyutan Alvian.


"Laras?!" meski Tuan Julian melalui Tuan Andrew sudah mengabarkan perihal Laras, namun Alvian dan Lintang tetap saja kaget dengan kedatangan Laras tersebut yang menurut mereka cukup cepat.


"Silahkan duduk, Laras." Lintang mempersilahkan Laras duduk di sofa letter L yang berada disudut ruangan CEO.


"Mungkin Tuan Lintang audah mendapatkan pemberitahuan sebelumnya dari Tuan Julian. Sebuah kesempatan yang sangat menggembirakan bagi saya," Laras tersenyum lebar.


"Dan sebuah berita yang sangat mengenaskan bagi gue!" belum-belum, Alvian sudah melancarkan provokasi.


"Terimakasih atas pujian Tuan Alvian," Laras justru membalik sarkas dari Alvian, seolah ia tak terprovokasi sedikitpun.

__ADS_1


"Kauuu!!" Alvian memanas telinganya.


"Cukup, Vian. Jangan berikan kesan buruk di hari pertama utusan dari perusahaan lain datang!" potong Lintang cepat.


Ini memang jalan yang sudah diatur Yang Maha Kuasa, ataukah memang rekayasa Author semata?. Kenyataannya, Lyra tak pernah masuk bahasan sedikitpun ketika Lintang bersama dengan Laras. Pada setiap kesempatan, tak pernah pula terjadi pertemuan antara Lyra dan Laras. Alhasil, sampai detik ini, Lintang masih dianggap seorang single dimata Laras.


"Bos, apa tidak sebaiknya..."


"Biar aku yang melakukan pengaturan untuk Laras!" potong Lintang tak ingin Alvian kembali mengaduk di air keruh.


"Oya Laras, dimana rencana kamu tinggal selama magang di perusahaan ini?" tanya Lintang.


"Dikira kita ini kantor pemasaran kos-kosan apa?. Cari sendiri lah. Udah gede kan?!" Alvian memang tak pernah bisa menanggapi Laras dengan cara yang wajar.


"Maaf, Tuan. Saya akan cari sendiri. Kan saya cuma tanya. Jangan marah-marah begitu!" Laras memilih mengalah tak meladeni gesekan demi gesekan yang diciptakan Alvian.


"Sebagai seorang teman, aku akan mengantarmu untuk mencari kosan yang sesuai," Lintang justru membuat Alvian semakin berang.


"Biar aku saja yang anter. Bos jadwalnya padat. Lagian ga pantes kalau Bos Besar harus antar karyawan cari kosan. Apa kata karyawan lainnya nanti jika tahu?!" serobot Alvian.

__ADS_1


"Tuan Alvian benar. Lebih baik Tuan Lintang tidak perlu mengantar saya. bagaimanapun juga Tuan Lintang adalah pimpinan yang diamati banyak orang," entah mengapa, setiap perkataan Laras yang terkesan baik itu justru membuat kedengkian Alvian semakin membuncah.


"Dasar penjilat, suka banget cari muka dengan bertumpu pada celaan gue!" batin Alvian dongkol.


"Saya harap kau betah selama magang disini. Semoga ilmu yang kau butuhkan juga dapat terserap dengan baik. Satu lagi, jika Alvian kembali cari gara-gara denganmu, laporkan saja padaku!" ucap Lintang yang secara tak sadar cukup terpengaruh oleh aksi cari muka Laras.


"Come on, Bos. Gue bukan cari gara-gara, tapi..."


"Sudahlah, Vian. Tak perlu diperpanjang!" kembali Lintang memotong.


"Argggh, sial!" Alvian lagi-lagi merasa dongkol dalam hatinya.


"Oya Laras, aku hampir lupa. Sepertinya kau tak perlu cari kosan disekitar sini. Kebetulan semua divisi sedang full karyawan sekarang. Dan kebetulan pula ada kekosongan tim administrasi di perusahaan gula kami yang terletak di kota Bogypark, sekitar 2 jam perjalanan dari sini," imbuh Lintang yang sontak membuat Laras berubah air muka.


Alvian kini bisa tersenyum lebar setelah mendengar bahwa Lintang ternyata benar-benar menganggap Laras hanya sebagai orang luar. Tak ada tanda-tanda bahwa Lintang ingin selalu dekat dengan Laras. Sebaliknya Laras, jelas kecewa berat karena ia tak bisa bekerja bersama Lintang.


"Kau nanti akan dibimbing oleh Bu Lyra sebagai CEO disana. Kau bisa juga mencari kosan di daerah sekitar perusahaan gula kami agar lebih nyaman dalam bekerja," pungkas Lintang bijak.


"Rasakanlah, nikmati kegalauanmu disana. Bukan deket sama Bos Lintang, eh malah deket sama istrinya. Mampaus ga tuh?! Hahaha." Alvian tergelak dalam hati.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2