Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Makan berdua


__ADS_3

Hallo pembaca..


Selalu dukung novel Author ya. Buat kamu semua yang udah dukung, Author doakan semoga lancar rizkinya, dijauhkan dari segala penyakit berbahaya, dan dimudahkan segala urusannya. Aamiin.


Tak terasa sudah hampir 30 episode tayang. Itu artinya tinggal 10an episode lagi novel ini bisa naik kontrak, horaiiiy..asek asek.


Tetap setia di novel ini ya. Semoga harimu menyenangkan..


_-_-_


POV Lyra


"Ba-baik, Pak. Kita bisa berteman diluar pekerjaan," kuperbaiki kesalahan itu.


"Apa kamu terpaksa mengatakannya?, apa itu tulus?" Pak Lintang memicingkan mata.


"InsyaAllah saya sepenuh hati, Pak. Bukan terpaksa ataupun sejenisnya," imbuhku.


"Baiklah. Aku menerimanya. Sekarang kau panggil aku 'Mas' dan kupanggil kau 'Adek',"


"Apaa?!" aku kaget, sumpah.


Pikiranku langsung melayang jauh ke angkasa. Pria beralis tebal, hidung mancung, dan berwajah ramping itu kini harus kupanggil 'Mas'. Mimpi apa aku ini?.

__ADS_1


Bahkan panggilan 'Mas' jauh lebih intims dibanding panggilan 'Kak'nya Linda kepada Pak Alvian. "Hahahahahaha..Linda, panggilanku lebih keceh!" dalam hati aku tertawa horor ala Mak Lampir. Bodo amat dah, Pak Lintang ga denger ini.


"Kenapa?" lagi-lagi pria keren didepanku memicingkan mata saat melihatku mesam-mesem sendiri.


"O-oh tidak, Pak." Asli aku gelagapan.


"Pak?!" ulangnya.


"Oh, Pak, eh M-Mas maksud saya.." aku ini gugup gugup gugup tau!.


"Dek, kamu pesanlah makanan yang kau suka," Pak Lintang berusaha tersenyum pasca kedongkolannya.


Ini orang maksudnya bagaimana sih ya?. Bos kok manggil aku, Adek. Janggal dan tidak pada tempatnya. Atau... jangan-jangan dia menaruh hati padaku. Oh.. tidak, tidak. Lyraaa, kau jangan berpikir terlalu jauh dam berangan yang muluk-muluk. Ga ada ceritanya Bos besar kok naksir kuli. Itu mustahil bin mustajab.


"Pak Lin..maksud saya Mas Lintang mau pesan apa?, biar sekalian saya tuliskan." Haistt ini sulit.


"Kau belum terbiasa. Biasakanlah, maka kau akan terbiasa," Pak Lintang seperti mengerti apa yang sedang kubingungkan.


"I-iya, Mas." jawabku.


Aku kikuk sendiri dala jeda menunggu pesanan makanan. Aku tak tahu harus membahas apa.


Sekian saat menunggu, datanglah pesanan di meja kami. Kuhela napas lega karena kini aku bisa lebih menyibukkan diri dengan makanan.

__ADS_1


"Bagaimana kehidupan pribadimu?" ya ampyun, dia masih juga mengajakku ngobrol disela-sela kegiatan makan.


"Pribadi yang bagaimana, Mas?" keningku berkerut.


"Mengenai kekasihmu, mantanmu, yahh semacam itu," lanjutnya.


"Ooh itu. Saya tidak punya kekasih, dan tidak memiliki mantan." ungkapku jujur.


"Belum pernah sama sekali?" wajahnya menunjukkan rasa sangsi.


"Ehmm..ada sih jaman cinta monyet. Itupun ketika saya SMP. Sepertinya itu tidak masuk hitungan karena hanya sekedar keasyikan muda-mudi akil balik," ujarku menjelaskan.


"Yah tetap saja dia mantanmu. Meski hanya sesaat dan masih bocah," air mukanya berubah sedikit menyeramkan.


"Ah iya. Mungkin seperti itu meski tak membekas sama sekali di dalam ingatan maupun hati. Bahkan wajahnya lun saya sudah lupa," kucoba mengimbas kisah lama, namun tak mampu jelas kubaca.


"Ahh lupakanlah pertanyaan tadi. Maaf jika membuatmu tidak nyaman," Pak Lintang kembali tersenyum.


"Santai saja, Mas." Kubalas senyumnya.


"Untuk saat ini, apakah kau ada rencana mencari pendamping?" tanya Pak Lintang dengan sangat hati-hati.


"Saya belum terpikir kearah sana, Pak. Yang terpenting saat ini bagi saya adalah mencari pemasukan agar bisa merawat Bapak." jawabku apa adanya.

__ADS_1


"Aku mendukungmu. Orangtua adalah segalanya bagi anak. Bahagiakan mereka, maka kau kelak akan bahagia. Mulai sekarang kau jangan pernah merasa bingung sendiri dalam mengatasi berbagai masalah. Ceritakan padaku, aku akan membantu memecahkannya untukmu," mendengar perkataan Pak Lintang yang seperti ini, entah kenapa tiba-tiba hatiku merasa hangat dan tenang.


..._-_-_...


__ADS_2