
POV Author
Lintang, Alvian, dan Linda berjalan beriringan menuju area parkir mobil. Mereka akan pulang sebentar untuk mandi dan kembali kerumah sakit.
Linda mendapatkan tumpangan dari Alvian untuk pulang dan nantinya dijemput kembali. Sedangkan Lintang berjanji untuk menjemput Pak Joko yang tadi sudah terlebih dulu pulang mengambil beberapa pakaian ganti untuk Lyra.
"Linda, maaf malah membuatmu ikut repot dengan masalah ini," ucap Lintang.
"Lyra sahabat saya, Pak. Bukan sebuah beban untuk menemani dan merawat sahabat yang sedang sakit," tampik Linda.
"Aku akan menjemputmu kembali setelah kau siap. Hubungi aku melalui pesan WhatsApp jika kau sudah siap berangkat lagi," timpal Alvian.
"Siap, Kak."
"Kak?" Lintang merespon cepat.
"Ehmm anu..Pak, bukan Kak. Pak Lintang salah dengar," kelit Linda setelah sejenak saling memberi kode mata dengan Alvian.
"Sejak kapan kupingku perlu cek THT?. Sepertinya tidak begitu kedengarannya tadi. Ahh sudahlah. Aku lagi ga mood bahas hal lain," Lintang meragukan kesalahannya dalam mendengar.
"Bos, kami pamit dulu.." langkah Alvian berhenti didepan mobilnya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Aduhh aku kenapa bisa lupa begini," Lintang tak menjawab Alvian, justru ia malah menepuk keningnya.
__ADS_1
"Kenapa, Pak?" tanya Linda.
"Aku lupa memberikan santunan untuk Lyra seperti yang kujanjikan tadi," keluh Lintang.
"Ya sudah nanti saja, kan kita kesini lagi nanti, Bos.." usul Alvian.
"Tidak bisa begitu. Aku tak mau dianggap ingkar janji. Sebentar kalian tunggu disini, atau kalau mau pulang duluan silahkan. Aku kembali ke kamar Lyra sebentar." ucap Lintang sambil berbalik arah dan melangkah pergi.
"Hati-hati, Pakk!" teriak Linda pada Lintang yang kian menjauh.
"Awas nanti jatuh cinta!" imbuh Alvian melengkapi kalimat Linda sebelumnya.
Lintang menjawab dengan mengacungkan kepalan tangan. Linda dan Alvian hanya bisa terkekeh melihat Lintang.
Lyra sedang terjaga sendiri diatas ranjang kamar rawat inap. Secara bersamaan semua pulang untuk nantinya kembali menemani Lyra.
Tanpa disadari Lyra, dari sisi jendela belakang kamarnya tengah masuk sesosok manusia berpakaian serba hitam. Suasana gelap karena hari telah malam membuat sosok itu tak terlalu jelas terlihat.
Dengan mengendap sosok hitam itu mendekati tempat dimana Lyra berada.
BLUKK!!
Sosok hitam itu memukul ranjang dengan keras. Namun sayangnya, ranjang itu kosong dan hanya berisi guling yang sengaja ditutup selimut oleh Lyra.
__ADS_1
"Cari siapa?" Lyra tahu-tahu sudah ada dibelakang sosok hitam tersebut.
Tanpa menunggu jeda, sosok berpakaian serba hitam itu langsung menyerang kearah Lyra. Sebilah katana dalam genggamannya nampak mengkilat tersapu pantulan lampu kamar. Ia menyabetkan katana kearah perut Lyra.
Lyra bergerak menghindar. Meski tubuhnya masih terasa lemas, namun instingnya tak pernah tumpul. Sebagai balasan, Lyra menghentakkan dua telapak tangan dan menghantam sisi samping dari punggung lawan.
PLAKK!!
lawan terhuyung kedepan. Namun dengan sigap kemudian merunduk dan menyapukan kakinya kearah kaki Lyra.
BUKK
Lyra kini yang terjengkang. Kakinya yang masih lemas tak mampu menahan gempuran ataupun lincah melompat.
Kain perban dilengan Lyra kembali memerah. Darah mengalir lagi dari luka jahit yang belum mengering. Sejenak Lyra memegangi kepalanya yang terasa pusing karena efek gegar otak ringan yang ia alami.
Melihat peluang emas, lawan segera berdiri dan siap menghunuskan katana ke tubuh Lyra.
"Siapa kamu?!" teriak Lintang saat baru saja membuka kamar rawat inap Lyra.
Lintang dengan sigap menghambur ke arah manusia berpakaian hitam tersebut. Melihat usahanya terpergok oleh Lintang, lawan memilih berlari kabur dengan melompat melalui jendela yang tadi ia buka.
Lintang terus mengejar dan melongokkan kepala melalui jendela. Sayangnya, hanya gelap malam yang tersisa.
__ADS_1
..._-_-_...