
POV Author
Sekian bulan berjalan dalam kondisi kesiagaan penuh dari pihak Lintang, belum terjadj kembali gangguan dari pihak lawan. Alvian dan Linda secara disiplin dan bertanggung jawab mengatur jalannya perusahaan dibawah pantauan Lintang dan Lyra.
Kedekatan demi kedekatan kian terjalin antara Lintang dan Lyra. Mereka sudah tak canggung lagi memanggil 'Mas' dan 'Adek'. Seperti siang itu, mereka berdua memilih mengerjakan tugas kantor di taman samping rumah yang berdampingan dengan kolam renang.
"Aku sepertinya tak pernah bosan memandangimu, Dek." Ungkap Lintang saat mereka rehat sejenak dari kesibukan kerja.
"Gombalnya mulai tumbuh nih," Lyra tersenyum.
"Hahaha, kau selalu saja menganggapku membual. Ya memang sih, ucapan dari seseorang yang bukan kekasih itu tak seampuh ucapan kekasih. Dan sayangnya, aku bukan kekasihmu. Sepertinya kau tidak berminat untuk berlanjut serius denganku," umpan dilempar begitu saja oleh Lintang.
"Bukan begitu, Mas. Tapi.."
"Jika bukan begitu, berarti begini.." Lintang memotong ucapan Lyra dan tiba-tiba sudah..
CRUPP
Bibir Lintang dengan tanpa permisi sudah nangkring saja di bibir Lyra yang berkilat basah tersapu lips gloss.
"Ehhmm, Mas..aku," Lyra menarik wajahnya menjauh karena malu yang sudah menanjak ubun-ubun.
"Aku mencintaimu, Lyra-ku. Maukah kau menjadi kekasihku dan merangkainya bersama menuju pelaminan kelak?" Lintang kembali mendekati Lyra.
__ADS_1
Dari saku celana, Lintang mengeluarkan satu kotak perrhiasan kemudian menyodorkannya pada Lyra.
"Apa itu, Mas?
"Dibuka saja,"
Perlahan-lahan Lyra membuka kotak perhiasan itu. Matanya terbelalak tak percaya setelah melihat isi dari kotak itu.
"Mas.."
"Kenapa?"
"Kok..kok isinya bumbu penyedap?" Lyra terbengong-bengong.
"Itu sebagai pengingat bahwa aku menginginkan berumah tangga denganmu. Bumbu penyedap adalah bahan dasar saat kita memasak bersama kelak. Bumbu penyedap juga akan membantu menjaga keharmonisan kita agar tak hambar. Maaf aku kurang romantis, namun aku berjanji menggantinya dengan cincin yang indah. Tolong jawab pertanyaanku tadi, Dek.." Lintang menatap lekat mata Lyra tanpa berkedip.
"Apaa..Tak bisa?" wajah Lintang mendadak murung.
*Iya, Mas. Maafkan aku. Aku tak bisa lagi menolak pernyataan cintamu, karena aku juga mencintaimu, Mas!" Lyra menunduk malu.
"Apa ini artinya kau menerimaku?" pertanyaan bodoh terlontar dari mulut Lintang dan dijawab anggukan oleh Lyra.
"Lyra!! kau hampir membuat jantungku copoot tau ga?!" Lintang mendelik jenaka.
__ADS_1
"Habisnyaa..Mas kelamaan. Akutuh udah nunggu tiap hari. Ga ada inisiatif banget sih!" Lyra merajuk manja.
CUPP
Lagi dan lagi bibir Lintang berkelana ke bibir Lyra tanpa aba-aba dan tanpa permisi.
Namun kali ini bibir itu bertamu begitu lama. Bahkan ia bergerilya menyibak lembutnya bibir Lyra yang sepertinya juga menerima persuaan itu tanpa penolakan sedikitpun.
Dua lidah menari-nari menyeruak relung-relung dalam melampiaskan rasa cinta yang menggelegak sukma.
Pertukaran saliva tak terelakkan sudah. Tangan-tangan kekar Lintang membelit lembut rampingnya pinggang sang dara dalam pelukan. Pun juga Lyra yang dengan reflek menautkan kedua lengannya dibalik leher sang CEO tercinta.
Hasrat cinta itu kian menggebu, menghanyutkan mereka dalam keindahan pertalian bibir hingga cukup lama. Kembang kempis dada karena kurangnya asupan oksigen mengakhiri perjamuan hangat diantara keduanya.
"Mas," Lyra tertunduk malu.
"Apa sayang?" Lintang menyematkan panggilan baru nan romantis untuk sang pujaan hati.
"Ini pertama kalinya aku bercium*an dengan lawan jenis, selain 2 kecup curian darimu itu tentunya. Tolong, aku tak ingin berpindah ke lain bibir. Aku sepenuhnya menyandarkan diri pada bahumu. Jangan permainkan aku, dan membuatku kecewa," ungkap hati sang dara pada kekasihnya.
"Kita akan segera menikah!" jawab Lintang singkat tanpa basa-basi.
"Kau belum meminta ijin pada Bapak," Lyra melirik pria tampan yang berdiri didepannya.
__ADS_1
"Kita temui Pak Joko sekarang." Lintang menggandeng tangan Lyra dan mengajaknya berlari menuju rumah mungil di belakang bangunan utama.
..._-_-_...