Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Tekad sepenuh hati


__ADS_3

POV Author


[Flashback on]


"Broto, akhirnya aku menemukanmu. Setelah habis masa tahanan kenapa kau tak menghubungi aku?" Bintang secara tak sengaja bertemu dengan Broto disebuah warteg.


"Aku terlalu malu untuk menemuimu setelah kebodohan yang kulakukan dulu," Broto tertunduk tak berani memandang wajah Bintang.


"Haistt..yang lalu biarlah berlalu. Selama kamu mau memperbaiki diri, InsyaAllah akan dipermudah urusanmu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kau kira aku tak mau membantumu untuk bangkit kembali?" Bintang merasa trenyuh hatinya melihat kondisi Broto saat ini yang terlihat hidup menderita.


"Didalam tahanan aku sudah bertobat dan ingin memperbaiki diri. Terimakasih kau mau memandangku meski aku sekarang adalah orang tak punya," lanjut Broto dengan airmata menggenang.


"Aku tak pernah memandang persahabatan dari harta dan pangkatnya. Kaya atau miskin, Tampan atau buruk, Pejabat atau rakyat jelata, semua itu sama bagi Allah. Dengan bertemu saja aku sudah senang, apalagi bisa membantumu," ketulusan hati Bintang terpanggil tatkala melihat kondisi sahabatnya.


"Terimakasih, Bin. Terimakasih atas kepedulianmu," airmata itu kini telah mengalir di pipi Broto.


"Brengsekk, gara-gara perbuatanmu itu hidupku jadi sengsara. Sok suci, sok bersih. Andai saja bisnis prostitusi dan narkotika itu tidak kau bocorkan, tentu sekarang hidupku akan enak. Huh, lihat saja nanti. Aku akan bersandiwara dan akan membalasnya!" batin Broto berkata lain.


"Aku sekarang sudah tua, Bin. percuma saja merintis bisnis dari nol lagi. Butuh proses dan waktu yang tak sedikit. Aku sudah lelah dan ingin tenang di masa tuaku," kilah Broto seolah tak berminat lagi pada gelimang harta.

__ADS_1


"Tidak harus bisnis besar. Setidaknya aku bisa membantu membuat usaha agar kesejahteraan keluargamu terpenuhi," Bintang tak mau menyerah.


"Bisnis konvensional?, hahaha, mimpi. Kapan aku bisa untung besar jika bekerja seperti caramu yang sok suci itu!" kembali batin Broto berteriak.


"Boleh aku mengajukan permintaan lain?" sebagai peraih piala Citra dalam kategori pemeran pria terbaik, Broto melanjutkan aktingnya.


"Apa itu?"


"Aku mengajukan anakku, Liana. Ajak dia untuk bekerja. Didik dia menjadi anak yang tangguh. Aku berharap kelak dia bisa menjadi berbisnis handal dikemudian hari," wajah Broto menghiba, namun hatinya terkekeh jumawa karena merasa bahwa aktingnya hebat melebihi kemampuan artis Bollywood.


"Hanya itu?!" Bintang menaikkan kedua alisnya.


"Kau bisa menjalankan salah satu perusahaanku jika kau mau," tawar Bintang.


"Tidak, Bin. Aku tak mau lagi berkecimpung di dunia perusahaan. Biarlah Liana kelak yang melanjutkan," kelicikan berkedok ketulusan Broto terkesan begitu meyakinkan.


"Hahaha..salah satu perusahaan katamu?!. Semua nanti kuambil. Tenang saja menunggu waktu itu tiba. Bodohh!" geliat batin Broto mentertawakan kepolosan hati Bintang.


"Apa basic pendidikan Liana?"

__ADS_1


"Psikolog."


"Baiklah. Akan aku tempatkan sebagai staf HRD. Jika dia memiliki perkembangan yang bagus, posisi Kepala HRD pun bisa dia tempati kedepannya," Bintang menyanggupi permintaan terselubung Broto tanpa menaruh curiga sedikitpun pada niat Broto.


"Ahyaa, apa kabar anakmu yang tampan itu?. Bagaiamana jika kelak kita jodohnya dia dengan Liana. Aku memproyeksikan kemajuan bisnis pesat ditangan mereka berdua," sang ahli airmata buajul kembali memuntahkan biusnya.


"Ohh Lintang?, dia sekarang sudah mengendalikan beberapa perusahaan kami. Kalau mengenai jodoh, aku tak akan memaksa Lintang. Namun jika ternyata kelak ia berjodoh dengan Liana, whu not?!." Sambut Bintang demokratis.


[Flashback off]


--


Demikianlah, bibit-bibit kebencian itu telah tumbuh dihati Broto sejak beberapa tahun yang lalu. Setali tiga uang dengan ayahnya, Liana juga memiliki karakter yang mirip dengan Broto.


Namun sejak pertemuan tak sengaja itu, kian lama kesehatan Broto kian memburuk. Penyakit hati telah menggerogotinya hingga satu tahun kemudian Broto menghembuskan napas terakhir. Secara otomatis warisan kebencian terhadap Bintang yang dimiliki Liana semakin menjadi-jadi. Semua kesalahan dilimpahkan pada Bintang.


Disisi lain, sudah sejak lama Liana telah menaruh hati pada sosok Lintang yang tampan rupawan. Ingin hati ia merengkuh Lintang, namun ia juga tak sudi jika harus tunduk sebagai menantu Bintang. Satu-satunya cara agar cita-citanya terpenuhi adalah merebut semuanya dari Bintang, baik itu harta maupun anaknya.


"Aku harus memiliki semuanya!" tekad sepenuh hati Liana.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2