Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Histeris


__ADS_3

POV Lyra


Aku akhirnya tidak jadi kembali ke Vila mas Lintang setelah tahu ada something wrong antara Linda dan Alvian.


Mungkin mereka sudah berakting sebaik mungkin agar aku tak curiga, namun instingku sudah terbiasa terasah melalui beladiri. Jika hanya membaca gelagat dan gerak-gerik, itu mudah bagiku.


Entah apa yang mereka sembunyikan dariku. Aku segera menghubungi Mas Lintang dan mengabarkan kecurigaanku. Mas Lintang pun cepat kembali ke Vila dimana Alvian dan Linda berada, dan berniat untuk tidur disana.


Linda kubiarkan tidur sendiri dikamarnya. Aku memilih untuk tidur diruang tamu menemani Mas Lintang karena ia juga tengah membiarkan Alvian tidur sendiri di kamar.


"Menurutmu, apa yang sudah mereka lakukan?" bisik Mas Lintang yang tidur beralaskan karpet, sedangkan aku tidur meringkuk diatas sofa panjang.


"Aku belum tahu, Mas. Yang jelas dari tatapan mata, dari gerak tubuh, dari ucapan, semuanya mendukung kecurigaanku. Aku yang mendadak datang tadi itu disambut dengan wajah aneh. Belum lagi pakaian dan rambut mereka yang mendadak kusut," aku juga berbisik menanggapinya.


"Wah pasti mereka sedang berasyik asoy saat kamu datang, kemudian kaget dan akhirnya kentang deh hehe," Mas Lintang menahan tawanya agar tak meledak.


"Yaudah sih, biarin aja. Sudah sama-sama dewasa," lanjutku.


"Iya, tapi setidaknya dengan kita ada disini bisa meminimalisir mereka agar tidak kebablasan," Mas Lintang masih menahan senyum.

__ADS_1


"Halahh, kaya Mas ga gitu ajah. Kucing dikasih ikan asin, ya diembat." kucibir perkataan Mas Lintang yang sok iyes.


"Aku sih bukan gitu juga. Emang iya kadang aku suka becanda yang berbau nyerempet-nyerempet ke arah por-no, tapi ya hanya sebatas itu. Aku mah udah komitmen dalam hati, siapapun cewek yang deket sama aku, ga bakal aku buka kado sebelum resmi merid," ternyata Mas Lintang menanggapi cibiranku dengan serius.


"Makasih, Mas." Hatiku menghangat dan kutatap lembut wajah pria kesayanganku yang sedang tiduran dibawah sofa.


Baru sekian menit tertidur, terdengar suara aneh dari pintu masuk Vila.


CEKLAKK


CEKLAKK


"Jangan melawan jika tak ingin mati konyol. Cepat berkumpul ditengah ruangan!" tiba-tiba datang sepuluh orang berpakaian serba hitam.


Satu pistol mengarah padaku dan Mas Lintang. Sisa sembilan orang lainnya nampak berjaga dengan pedang ditangan mereka.


"Pasti kalian orang suruhan Liana lagi. Ga ada kapok-kapoknya tuh orang!" bentak Mas Lintang yang kini tersudut bersamaku di sisi sofa.


"Ingin kuledakkan kepalamu?!. Tutup mulut dan angkat kedua tangan kalian!" pria pembawa pistol ikut membentak dengan nada yang lebih tinggi.

__ADS_1


"Apa mau kalian?!" aku berteriak histeris dan menangis.


Hehe aktingku seolah sebagai cewek yang lemah semoga mampu mengecoh konsentrasi mereka.


"Hahaha..ikat mereka dan bawa ke mobil!" perintah pria pembawa pistol kepada anak buahnya.


"Tolong jangan, Pakkk!. Berapa uang yang kalian mau, bilang saja!!" aku semakin menangis meraung-raung tak karuan.


Mas Lintang menatap heran kearahku karena baru kali ini aku terlihat lembek dan begitu ketakutan.


"Sttt sayang. Kamu kenapa sih?. Kita hadapi saja mereka," bisik Mas Lintang pelan.


"Jangan paksa aku, Mas!. Mereka bawa pistol dan pedang. Sedikit saja kita bergerak bisa mati kita!" bukannya menjawab bisikan Mas Lintang, aku justru berteriak histeris dihadapan para penjahat tersebut.


Wajah Mas Lintang langsung suram begitu melihat responku yang semakin menjengkelkan.


BRAKK


PLAKK!!

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2