
POV Lyra
Baru sekian menit mobil berjalan melewati jalan lengang dengan semak belukar di kanan dan kiri jalan, datang tiga motor trail menghadang laju mobil. Terpaksa Pak Lintang menghentikan mobil dan menepi.
Enam orang turun dari motor dan menggedor pintu mobil dengan kasar. Pakaian mereka serba hitam seperti waktu di rumah sakit.
"Oh ini realisasi pesan ancaman itu. Baiklah, waktunya beraksi. Lama tidak memanggul karung, sepertinya aku perlu media untuk berolahraga. Dan sekarang media itu datang sendiri tanpa diundang, pulang tak diantar." Bisikku dalam hati.
Pak Lintang dan aku turun menapaki tanah becek bekas hujan tadi malam. Tatapan mata bengis mengiringi setiap gerak yang kami lakukan.
"Apa mau kalian?" sentak Pak Lintang langsung dalam frekuensi tinggi.
"Hahaha..kami tak ada urusan denganmu. Menyingkirlah!. Tugas kami hanya untuk menghabisi wanita ini!" balas seorang pria dengan bekas codet disudut mata kirinya.
"Urusan dia, urusanku juga. Jadi, jangan harap aku akan membiarkannya!" lanjut Pak Lintang tanpa mengendurkan tekanan suaranya.
"Bosan hidup kau nampaknya Pak Bos. Ayo serang mereka!. Amannya pria itu tanpa luka sedikitpun seperti perintah Ketua!" pria codet melanjutkan kalimatnya.
Lima orang pria menghambur kearahku dan Pak Lintang. Aku menghadapi tiga orang sekaligus, sedangkan Pak Lintang dikeroyok oleh dua orang sisanya.
Aku berlari menjauh mencari area yang lebih lapang dalam posisi kesiagaan penuh. Ketiga orang itu mengejar.
Dua orang serempak maju dengan menghunus pedang kearahku. Dalam beberapa gerakan lincah, kedua pedang itu menerpa ruang kosong. Namun mereka tak ingin berhenti dan terus saja menyabetkan pedang tanpa henti.
Kulirik satu orang yang lebih dekat. Dengan satu gerakan bantingan aku mampu merebut pedang itu dan lawan terpelanting ke tanah.
CRASHH
Tak ingin membunuh ia hanya kulukai kedua kakinya dalam satu ayunan pedang. Setidaknya ia kini tak mampu berlari kabur dariku.
Aku cepat memutar arah dan menerima ayunan pedang dari lawan ke dua. Suara denting pedang menggema diudara.
__ADS_1
BUGHH!
Satu tendanganku tepat bersarang di ulu hatinya tatkala ia masih berkonsentrasi pada permainan pedangnya.
Ia terlempar ditanah. Aku segera berlari mendekat dan mengayunkan pedang pada pahanya.
CRASHH
Ia mengaduh tanpa bisa berlari kembali.
"Tinggal kau!" teriakku nyaring hingga membuat dua temannya yang sedang melawan Pak Lintang menjadi menoleh kearahku.
BUGHH
BUGH
Kesempatan bagi Pak Lintang melakukan pukulan terhadap lawannya yang sedang terfokus padaku.
"Bergabung, Mas!" teriakku dan langsung direspon Pak Lintang dengan berlari cepat kesampingku.
"Mereka yang kenapa-napa," tunjukku pada dua orang yang bersimbah darah dibagian kakinya.
Mata Pak Lintang seperti terbelalak tak percaya.
Tiga orang lainnya segera berlari bergabung dengan satu lawan didepanku. Kini mereka berempat saling berhadapan dengan kami.
Tak menunggu jeda terlalu lama, dua orang kembali menyerangku, sedangkan dua lainnya menyerang Pak Lintang. Namun anehnya, dua orang yang menyerang Pak Lintang hanya menggunakan tangan kosong tanpa senjata.
Aku tak mau membuang waktu terlalu banyak. Dalam gerakan dua kali salto kebelakang, kuatunkan pedang secara horizontal. Lawan yang menganggap aku hanya melakukan salto, menjadi kaget dan tak siap.
SLASHHH
__ADS_1
Dua orang tersungkur sekaligus saat perut mereka terpapar tajamnya pedang. Sudah kuperkirakan bahwa sayatan itu tak terlalu dalam, hanya menggores sebagian perut saja. Mereka tak akan mati karena pedangku.
Baru saja aku bergerak ingin membantu Pak Lintang, mendadak datang satu van hitam menyeruak diantara medan pertarungan.
Melihat moncong senapan menyembul dari balik jendela kaca mobil, aku segera melompat meraih tubuh Pak Lintang dan berlari untuk berlindung dibalik nisan tua tak bertuan.
DORR
DORRR
Suara tembakan mengarah pada kami, namun posisi kami cukup terlindung. Kami terus merunduk untuk menghindari tembakan.
Sesaat kemudian terdengar deru Van hitam itu menjauh pergi. Mereka membawa ke enam temannya menyelamatkan diri dan membiarkan motor-motor trail mereka tertinggal disana.
"Syukurlah.." aku menghela napas lega.
"Mas tidak apa-apa?" kupandang pria tampan disampingku yang nampak begitu letih dan bersimbah keringat.
"Alhamdulillah aku tidak kenapa-napa. Kamu juga aman kan?" Pak Lintang bertanya kembali.
"Aman terkendali, Komandan!" aku tersenyum manis.
CRUPP
Tak kusangka tiba-tiba Pak Lintang mengecuup bibirku beberapa detik, namun kemudian cepat melepasnya.
"Kamu hebat!" senyum penuh kebanggaan dari Pak Lintang terkembang.
Sontak pipiku terasa panas. Mungkin terlihat memerah jika dilihat oleh Pak Lintang. Aku tertunduk malu meski dalam lubuk hatiku merasa bahagia.
"Halo, Vian. Aku share lokasi. Kami menghadapi musibah. Segera datang kesini bersama tim khusus milik kita!" Perintah Pak Lintang via telepon.
__ADS_1
Aku masih terduduk diam dengan pikiran melayang-layang meresapi bekas kecuupan yang seperti masih tertinggal dibibir ini.
..._-_-_...