
Maaf pembaca,
Beberapa hari kemarin Author sakit, jadi tidak update bab. Hari ini sebenarnya belum terlalu sehat, tapi InsyaAllah up lagi biar pembaca tidak kelamaan nunggu.
Selamat membaca..
--
POV Author
"Oma, aku minta waktu sebentar untuk berbicara dengan Liana," Lintang berusaha menyembunyikan ketegangan akibat emosinya yang kian meluap.
"Oh kalian sudah saling mengenal rupanya. Iya silahkan, ngobrollah berdua dan bertukar pikiran. Mari Jeng Wiwik kita jalan-jalan dulu. Berikan waktu berdua untuk mereka," Riana menggamit lengan Wiwik.
"Apa kabar, Pak?, ehm Mas, eh Sayang?" Liana mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, sayangnya Lintang mengacuhkan uluran tangan itu.
"Jaga mulutmu. Dengan semua perbuatanmu, sekarang kau berani menunjukkan diri!?" mata tajam Lintang menatap Liana dengan garang.
"Oh tenanglah dulu. Aku datang membawa perdamaian kok, sayang. Sebuah penawaran bagus untuk kamu. Dengan kekuasaan yang kau miliki dipadukan dengan kemampuanku, yakinlah kita akan menyatukan bisnis negeri ini dalam satu genggaman. Syaratnya begitu mudah. Cukup kita bersatu menjadi pasangan serasi di pelaminan dan di dunia bisnis, semuanya akan bertekuk lutut pada kita!" Liana tanpa malu mengungkapkan niatnya.
"Licik kamu. Aku tak tertarik dan jangan sekalipun mengganggu hidup keluargaku lagi!" desis Lintang.
__ADS_1
"Kau lupa?!, nenek peyot itu sudah menjadi alatku. Meski kau menolak, cepat atau lambat tetap saja kau menjadi milikku, hahaha." Liana terbahak.
"Akan kulaporkan kau!!" ancam Lintang meraih handphonenya.
"Silahkan laporkan. Apa kamu memiliki bukti kejahatanku?. Kita disini hanya ngobrol, lalu kau melaporkanku?. Apakah akan ada orang yang percaya?" Liana menatap sinis.
Yang diomongkan Liana memang benar. Meski ia telah melakukan kejahatan, namun nyatanya selama ini dia bukan buron polisi. DZ memang sengaja menyembunyikan kasus agar lebih leluasa menangani.
"Sialll," Lintang memejamkan mata frustasi.
"Baik aku akan pergi. Pikirkan baik-baik tawaranku." Lanjut Liana sebelum berlalu.
"Nenekmu mau kau tinggal pulang?" teriak Liana.
"Bodo amat. Udah gede bisa pulang sendiri. Kalau mau kau culik, silahkan dengan senang hati," sinis Lintang.
--
Keesokan harinya..
"Kita harus segera menemukan Lyra dan Pak Joko. Ulah Oma semakin menjadi-jadi," keluh Lintang ditengah rapat tim DZ.
__ADS_1
"Lacak Handphone nya kan bisa to?!" Didin yang biasanya hanya diam, kini angkat suara.
"Yang kau maksud handphone ini?" Lintang menyodorkan sebuah handphone.
"Punya siapa emang?" Alvian ikut penasaran.
"Ya punya Lyra dong. Itu handphone kan aku yang belikan. Jadi sengaja dia tinggal karena merasa tidak memiliki hak," terang Lintang.
"Reputasi kita bisa jatuh. Mencari calon istri sendiri saja aku ga becus!" imbuh Lintang sebal.
"Bukannya tidak becus. Kau terlalu kalut, Nak. Jadinya bingung sendiri kan?!. Lebih baik kita kembali ke langkah-langkah penyelidikan sesuai protokol. Aku yakin, dengan berbagai metode yang kita miliki, Lyra akan ditemukan. Ini juga sebagai pengingat untuk semua anggota tim agar selalu bekerja sesuai prosedur," ucap Bintang menengahi.
*Baiklah. Menurut Papa, metode apa yang paling sesuai?" wajah kurus Lintang terlihat semakin sendu.
"Metode D dan F," singkat Bintang.
"Apa kedua cara itu efektif, Pa?" Lintang sedikit sangsi.
"Kita tak akan tahu hasilnya jika tak mencoba. Lagipula apa salahnya mencoba. Iya kan?" Bintang menatap twduh anaknya.
..._-_-_...
__ADS_1