
POV Author
Memanfaatkan waktu dimana 4 All-In masih berkumpul di kota yang sama, Suretown, kini 4 penerus muda janji bertemu di Kantor Media Massa Earth & Sun milik Julian Lincoln. Agenda mereka adalah menyamakan visi dan misi terkait hubungan baik dan kerjasama yang menjunjung tinggi azas kekeluargaan. Sudah menjadi rahasia umum tentang bagaimana kejamnya dunia bisnis. Bahwasanya disana terbiasa adanya pemahaman tak mengenal kawan maupun lawan. Tak ada yang namanya teman abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Mereka hanya melakukan segala sesuatu demi keuntungan semata.
Melalui wacana itulah All-In ingin mematahkan persepsi bahwa bisnis dengan napas kekeluargaan itu juga akan baik untuk dijalankan. All-In ingin menanamkan tentang prinsip keuntungan bukanlah segala-galanya. Justru dengan adanya kebersamaan dan hubungan yang baik akan melahirkan kenyamanan serta tumbuhnya rasa yang aman dalam bekerja.
Lintang datang ke perusahaan Julian tanpa didampingi oleh Alvian yang memiliki tugas lain untuk melakukan negosiasi pembelian bahan dasar tepung dengan petani lokal Suretown. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil melakukan pertemuan, apa salahnya sekalian melakukan pekerjaan lainnya.
Lyra dan Linda memilih untuk kembali dulu ke Jackcity sementara waktu karena tak bisa meninggalkan perusahaan-perusahaan terlalu lama meski ada Deo dan Dahlia yang dipercaya disana. Setidaknya mereka perlu memantau beberapa saat sebelum kembali menemani suami mereka di Suretown.
Lintang sengaja berjalan kaki dari hotel menuju kantor Julian yang tidak terlalu jauh. Sedikit berolahraga pagi hari sekaligus menghirup segarnya udara pagi adalah tujuan Lintang saat memilih berjalan kaki.
"Auwwh," Lintang dikejutkan oleh teriakan seorang gadis yang terjerembab diatas trotoar akibat berjalan terlalu terburu-buru tanpa memperhatikan kondisi trotoar yang ternyata sedikit berlubang.
"Berhati-hatilah," dengan itikat baik Lintang membantu gadis tersebut berdiri.
"Ehm, terimakasih, Mas e." ucap gadis tersebut.
"Lututmu berdarah," tunjuk Lintang pada area lutut kanan sang gadis yang tidak tertutup pakaian karena ia menggunakan rok kerja yang panjangnya sedikit diatas lutut.
"Oh tak masalah. Aku bisa mengobatinya di kantor. Sekali lagi terimakasih. Oya, perkenalkan namaku Laras. Kamu?" Laras memperkenalkan diri sambil menyeka luka dilututnya menggunakan tisu.
"Aku Fanani," jawab Lintang tanpa menyebutkan nama depannya karena khawatir menerima respon yang lebih besar dari Laras jika mengetahui bahwa dihadapannya adalah seorang bos besar.
__ADS_1
"Kau mau kemana? sepertinya terburu-buru," tanya Lintang berbasa-basi.
"Aku bekerja di perusahaan itu, dan ini sudah hampir telat." Ujar Laras menunjuk sebuah bangunan tinggi dimana Julian berkantor disana.
"Kebetulan sekali, aku juga mau kesana.." Lintang berterus terang.
"Baguslah. Kita bisa bareng jalan kesana," Laras segera mensejajarkan diri untuk berjalan bersama Lintang dengan sedikit tertatih.
"Kamu mau interview di E&S ?" lanjut Laras.
"Oh tidak. Hanya ingin menemui seorang teman saja," balas Lintang singkat.
Beberapa menit berjalan, sampailah mereka di halaman gedung E&S, "Permisi aku harus cepat masuk sebelum kena penalti. Jika tak sibuk, tunggu aku di kafetaria gedung saat makan siang. Mungkin aku bisa mentraktirmu sebagai ucapan terimakasih," Laras berpamitan dan bergegas meninggalkan Lintang.
"Lihat nanti saja," jawab Lintang.
"Permisi mbak, saya ingin ketemu Tuan Julian," ucap Lintang saat tiba di bagian resepsionis.
"Maaf Pak, hari ini Tuan Julian sibuk karena akan ada pertemuan penting," jawab resepsionis ketus.
Memang sengaja Lintang menyembunyikan identitasnya. Ia ingin merasakan bagaimana menjadi orang biasa dan tak dianggap.
"Tolong sampaikan, saya dari Jackcity ingin bertemu. Sayang mbak, saya jauh-jauh dari luarkota tapi tidak bisa ketemu," pinta Lintang bersikeras.
__ADS_1
"Bapak gimana sih?!. Mau dari Jackcity atau dari Pluto, itu urusan Bapak. Yang jelas Tuan Julian saat ini sedang sibuk dan tidak bisa diganggu!" bentak resepsionis dengan kasar.
"Tolonglah mbak, berikan saya waktu sebentar saja untuk bertemu dengan beliau.." dasar Lintang cari-cari masalah.
"Bapak ingin diusir dari sini?" nada suara resepsionis semakin meninggi.
"Eh ada apa Ria?" seorang gadis muncul bersama seorang pria.
"Ini orang ngeyel minta ketemu Tuan Julian, Pak, Bu!" jawab resepsionis bernama Ria ketus.
"Lho Fanani. Maaf Tuan Julian memang sedang sibuk," gadis yang ternyata adalah Laras menjelaskan pada Fanani dengan sopan.
"Nah, ngomong yang sopan seperti Laras kan bisa. Sori, aku ga ngeyel, hanya kesel aja lihat resepsionis yang kasar seperti itu. Apa perusahaan ini tak pernah mendidik anak buahnya dengan baik?!" sindir Lintang.
"Laras, apa dia temanmu?" tanya pria yang dayang bersama Laras.
"Iya, Pak Hansen." Laras mengangguk.
"Hai, Bung. Meski kau adalah teman Laras, kau tak pantas mengomentari kinerja resepsionis kami!" sembur pria bernama Hansen setali tiga uang dengan resepsionis.
"Anda siapa?, kenapa sama kasarnya seperti resepsionis itu?!" ucapan Lintang kali ini spontan membuat Laras melotot untuk memberikan peringatan pada Lintang agar tidak asal bicara.
"Hahaha, Laras. Ternyata temanmu ini jenis manusia rendahan yang bodoh. Dengarkan baik-baik ya. Aku adalah General Manager di perusahaan ini. Dan Laras, temanmu itu, hanya staff administrasi biasa. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku panggil sekuriti untuk mengusir!" ucap Hansen dengan pongah.
__ADS_1
to be continued..
..._-_-_...