Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Danau Tiga Warna


__ADS_3

POV Author


Setelah membeli karcis, mobil Lintang melaju kembali menyusuri jalan beraspal yang tak terlalu lebar, mungkin hanya kisaran 3 meter. Jalan itu berkelok-kelok panjang dan semakin menanjak. Tak lama mobil berhenti diujung jalan dan menepi.


"Wahh indahnyaaa.." Lyra turun dari mobil dan memandang takjub hamparan danau sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk meregangkan otot yang lelah dalam perjalanan.


"Semoga kamu suka, sayang." Bisik Lintang ditelinga Lyra.


"Sukaaa banget, Mas. Seumur-umur aku belum pernah rekreasi ke tempat wisata karena minimnya keuangan Bapak. Mentok-mentok Bapak membawa aku ke pasar malam atau lihat sawah-sawah jika ingin menghiburku. Terimakasih, Mas. Aku seneng banget," airmata itu mengalir dipipi putih Lyra merasakan kebahagiaan tak terhingga.


"Ini disebut danau tiga warna. Warnanya merah, kuning, hijau seperti warna lampu traffic light. Kamu bebas jika ingin main jetski, naik sepeda air, cobain banana boat, atau mau coba olahraga ekstrim seperti flying fox mungkin," Lintang tersenyum haru melihat kegembiraan yang dirasakan Lyra.


"Mana bisa kalau nyobain semua permainan. Ini sudah hampir sore loh," wajah Lyra menunjukkan sedikit kekecewaan.


"Besok kan masih bisa lanjut.." hibur Lintang.

__ADS_1


"Emang kita nginep?" Lyra tertegun.


"Ya iyalah. Emang kau kuat kalau langsung pulang?, bisa-bisa vantat semvokmu jadi tivis begitu sampai rumah, hahaha." Lintang kembali tergelak setiap kali menggoda Lyra.


"Yeee bukan semokk ini mah, tapi sekseh.." cebik Lyra spontan.


"Masa sih?, coba lihat mana vantat seksehnyaaa?" kembali Lintang tak bosan-bosan menggoda.


"Ish malu, apaan sih!" Lyra mendelik sadis, Lintang langsung kicep diam begitu teringat tongkat macannya yang sedang pingsan.


Disana memang tak ada hotel satupun. Lyra berulang kali memandangi rumah-rumah yang berjajar disekitaran danau dengan jarak cukup jauh antara satu rumah dengan rumah lainnya, namun tetap saja ia tak menemukan bangunan yang bertuliskan hotel didepannya.


"Itu namanya Vila. Kita akan bermalam disana. Kamu bebas memilih Vila mana yang kamu suka," terang Lintang menunjuk rumah-rumah berderet yang tadi dilihat Lyra.


"Serumah?, berdua?. Oh no no no. Lyra ga mau. Gimana kalau Mas lepas kendali dan melakukan hal yang tidak-tidak?!" spontan Lyra menggeleng.

__ADS_1


"Ga. Kamar kita beda. Kalau ga percaya, kunci aja kamarnya dari dalam," mulut Lintang berkata sok iyes, padahal tongkat macannya sudah langsung lemes dan berasa apes.


"Ok sih, ga masalah. Tapi pakaian kita ga dibawa," lanjut Lyra dengan kembali cemberut.


"Itu mah gampang, beli aja disini." Lintang geleng-geleng melihat kebingungan Lyra.


"Ga ah. Sayang bajunya cuma dipakai sekali, sampai rumah disimpan di lemari, itu namanya pemborosan!" tolak Lyra.


"Yaelah pacar CEO ngirit banget dah," giliran Lintang sekarang yang bingung.


"Biar kata Mas itu Presiden, tetep ga boleh itu yang namanya pemborosan. Mau jadi apa negara ini kalau pemimpinnya aja boros." protes Lyra tak suka.


"Hadohh sayangkuh, cintakuh. Kenapa sampai bawa-bawa nama negara sih cuma masalah pakaian aja. Ya sudah deh nanti aku minta tim ambil baju dirumah trus antar kesini. Beres Bos," Lintang mendelik kesal.


"Nah gitu dong Pak Presiden," Lyra tersenyum tanpa dosa.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2