
POV Lyra
Aku menjadi celingak-celinguk sendiri karena kini Pak Lintang justru duduk dihadapan orangtuanya.
"Katanya mau kerja, Pak?" tanyaku polos.
"Duduk dulu disini," perintah Pak Lintang yang langsung membuat dingin sekujur badanku.
Ya, aku memang masih minder jika harus berhadapan dengan kaum konglomerat seperti mereka. Aku ini hanya kuli, tak lebih. Dan sekarang aku harus duduk dikursi yang sejajar dengan mereka?. Perutku langsung mulas.
"Duduklah," Pak Lintang mengulangi kata-katanya dan menarik lenganku untuk duduk disampingnya.
Asli, aku gemetar. Jika dalam film kartun mungkin tubuhku sudah menyusut dan mengecil karena merasa malu dan rendah diri.
"Mulai sekarang kamu harus belajar menjadi wanita yang berani. Jangan hanya berani mendamprat Bosmu habis-habisan seperti tempo hari. Kamu harus berani menghadapi siapapun. Mau itu pejabat, atau presiden sekalipun. Karena kedepan, kamu akan berhadapan dengan klien kita yang bermacam-macam. Kau mengerti?" nasehat Pak Lintang karena melihat keminderanku yang dalam taraf memprihatinkan.
"Ba-baik, P..Pak." Jawabku dengan gugup.
__ADS_1
"Pa, Ma. Ini Lyranova yang kuceritakan kemarin." Ucap Pak Lintang memperkenalkan diriku.
Meski saat datang tadi pagi kami sudah disambut baik oleh mereka, namun secara pribadi aku belum bertatap muka dari jarak dekat.
"Kamu cantik sekali, Nak. Cantik sekali. Woy Lintang, cari jodoh itu yang seperti ini. Sudah cantik, berhijab, sopan pula." Pujian Bu Rani, Mama dari Pak Lintang bukan membuatku bangga, justru membuatku takut.
Aku takut mengecewakan mereka bila ada kesalahan kerja disaat mereka sudah terlalu simpatik kepadaku. Itu akan terasa sangat mengganjal bagiku.
"Mama, jangan bicara macam-macam. Tuh lihat Lyra sampai ketakutan begitu," Pak Lintang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Bawel dan keras kepala kata Papa?. Begitulah hasil keturunan kalian. Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya!" Pak Lintang membela diri.
"Nak Lyra, bantu Lintang menemukan jodohnya. Mama itu bingung, umurnya sudah hampir 30 tahun, tapi teman cewek saja tak punya," keluh Bu Rina dengan wajah murung.
"Teruss saja deh habisi anak kalian tanpa ampun. Kalau perlu, tukar aja. Biar Lyra jadi anak Papa dan Mama, aku yang akan jadi asistennya," Pak Lintang merajuk.
"Tuh Lyra lihat, umur sudah mau 30 tahun, CEO, tapi kelakuan masih kolokan seperti itu!" cibir Bu Rina yang spontan membuatku tersenyum.
__ADS_1
"Rasain lu tong, diketawain Lyra..Hahaha." Pak Bintang menimpali.
--
POV Author
Disebuah ruangan..
"Aku harus cari cara melenyapkan wanita berkerudung itu. Aku sudah berusaha menggagalkannya saat interview, tapi nasib mujur masih berpihak padanya. Saat kau menjegalnya dan dia dihardik Satrio habis-habisan, malah ada Linda membantu. Saat Satrio sudah bisa kutaklukkan dan kuberi tugas menggagahiinya, eh tuh bocah berkerudung ternyata ahli beladiri. Dia juga selamat dari reruntuhan bata yang kita buat, Bahkan Lintang melindunginya saat orang suruhan kita sudah hampir menusuknya. Aku bingung dengan kemujuran anak itu. Apa lagi yang harus kulakukan agar dia lenyapp?" ucap seseorang dengan penuh amarah.
"Kau hanya perlu bersabar. Kita akan cari cara agar bisa meluluskan rencana kita. Tapi ingat bayaran yang kau janjikan jika kita berhasil nanti!" sambut lawan bicaranya.
"Hahaha..kupastikan, kau akan menggantikan posisi si bedebah Alvian saat kita berhasil nanti!"
"Akan kutagih janji itu!"
..._-_-_...
__ADS_1