
POV Author
Lyra, Rani, Linda, dan Wulan sedang asyik memilih desain kebaya di butik milik Bintang Group untuk rencana pernikahan Lyra. Lyra terlebih dahulu melakukan fitting pakaian, sedangkan Lintang rencananya akan menyusul fitting keesokan harinya karena hari ini ada keperluan penting untuk menemui klien di suatu tempat.
"Mas Lintang mah payah. Masa fitting pakaian nikah yang begitu penting malah dinomer duakan demi menemui klien. Urusan klien kan bisa dtunda hari lainnya," cibir Wulan kesal.
"Ga bisa, Dek. Kliennya hari ini hanya singgah 2 jam sebelum selanjutnya bertolak ke Amsterdam. Akan butuh waktu lagi untuk menyesuaikan jadwal jika ditunda," Lyra menanggapi.
"Kan ada Dek Vian bisa jadi pemain cadangan," sergah Wulan.
Memang Alvian berusia seumuran Lintang. Namun karena Ayah Alvian adalah adik dari Bintang, maka status Alvian menjadi saudara muda.
"Pak Vian juga sedang meeting di kantor," imbuh Lyra.
"Kok Pak sih. Vian itu saudara muda, dia anaknya om, jadi mulai sekarang kamu belajar panggil dia Dek seperti Wulan tadi atau langsung panggil namanya saja," tegur Rani yang merasa tak nyaman jika Lyra harus bersopan-sopan berlebihan terhadap Alvian.
"Hehe, iya, Bu." Lyra tersenyum canggung.
"Yeee, 'Bu' lagi. Panggil 'Mama' gitu dong Kak!" Wulan ikut menegur Lyra.
"@$-\=€¥°©×#*" pikiran Lyra spontan kusut.
__ADS_1
"Lu pilih warna apa, Lyr. Buat pakaian utamanya?" Linda cepat tanggap merubah topik pembahasan begitu melihat Lyra yang senewen diapit Calon Mertua dan Calon adik iparnya.
"Aku dan Mas Lintang sepakat warna biru. Aku biru muda, dia biru tua." Lyra kembali tersenyum cerah saat tahu jika Linda sengaja membantunya.
"Mama sih setuju saja. Kamu itu cantik, jadi mau pakai warna apa saja akan tetep cantik," Rani tersenyum bahagia memandang calon menantunya yang memang kualitas unggulan.
--
Di lain tempat..
"Well, thank you for trusting and being a regular customer of our products. Hopefully this good communication can be established in the future. Excuse me, I have to go back to the office again. See you later (Baiklah, terima kasih sudah percaya dan menjadi pelanggan tetap produk-produk kami. Semoga kedepannya bisa terjalin komunikasi yang baik seperti ini. Permisi, saya harus kembali ke kantor lagi. Sampai jumpa)," Lintang bersalaman dengan Mr. Frank sebelum kemudian berpamitan.
Lintang berlari kecil menuju mobil sambil melihat jam tangannya, "Hmmm, masih ada waktu untuk ke butik untuk menjemput mereka sekaligus aku ikut fitting," batin Lintang.
BRUMM
BRUMM
Tiba-tiba sebuah mobil van hitam berhenti tepat didepan mobil Lintang yang sedang diparkir.
"Siapa kalia..."
__ADS_1
BUKKK
Lintang belum menyelesaikan kalimatnya, namun dari sisi belakang sebuah balok menghantam tengkuk Lintang. Ia langsung hilang kesadaran.
Dengan gerakan cepat beberapa orang menyeret tubuh Lintang ke dalam mobil van hitam dan kemudian mobil melaju pergi dengan kecepatan tinggi.
--
kembali ke butik..
"Lyra, coba kau hubungi Lintang. Apa dia jadi menjemput kesini?" pinta Rani pada calon menantunya.
"Sebentar, Ma." jawab Lyra sopan.
Pertama kali menghubungi, telepon langsung ditolak. Merasa penasaran, Lyra kembali menghubungi. Namun kali kedua dan seterusnya, handphone Lintang sudah tidak aktif lagi.
"Kok aneh. Padahal tadi handphone Mas Lintang aktif. Kenapa sekarang tidak aktif ya," gumam Lyra sambil berpikir.
"Mungkin dia masih sibuk, Nak. Atau bisa juga handphonenya kehabisan baterai. Ya sudah biarkan saja dulu jangan diganggu. Mama akan menghubungi mang Cecep untuk minta jemput," ucap Rani dengan bijaksana.
"I-iiya, Ma." Jawab Lyra dengan terbata.
__ADS_1
"Tapi ini hal yang tidak biasa. Meski sesibuk apapun, Mas Lintang biasanya akan tetap mengirim pesan singkat jika tidak bisa menjawab telepon, bukan malah menonaktifkan handphonenya. Dan sangat tidak masuk akal jika baterainya habis. Dia itu tipe orang yang teliti. Lagipula dia juga membawa power bank," batin Lyra bergelojak, namun ia menutupinya dengan tetap tersenyum ramah pada Rani.
..._-_-_...