Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Sengit


__ADS_3

Maaf ya pembaca,


Analisa Author dari performance novel ini, setiap hari ada ratusan view, ratusan lho ya, bukan sekedar belasan view. Tapi yang aneh, boro-boro vote atau favoritin, yang like dan komen hanya orang itu-itu terus. Ayolah silent reader, muncullah. Bantu Author menaikkan rating. Cukup jempol dan komen satu titik saja sudah sangat membantu Author lho, beneran.


Maaf ya, bagi yang tak berkenan silahkan abaikan saja.


Ok deh mari kita lanjut kisahnya Lyra..


Semoga harimu menyenangkan.


..._-_-_...


POV Lyra


"Sttt sayang. Kamu kenapa sih?. Kita hadapi saja mereka," bisik Mas Lintang pelan.


"Jangan paksa aku, Mas!. Mereka bawa pistol dan pedang. Sedikit saja kita bergerak bisa mati kita!" bukannya menjawab bisikan Mas Lintang, aku justru berteriak histeris dihadapan para penjahat tersebut.


Wajah Mas Lintang langsung suram begitu melihat responku yang semakin menjengkelkan.


BRAKK


DORRR!!


Tepat seperti yang aku rencanakan, Alvian muncul kemudian membanting pintu dengan keras. Sepersekian detik berikutnya ia menembak tepat kearah genggaman tangan penjahat yang memegang pistol. Penjahat yang masih terkejut tidak mampu merespon dengan baik kedatangan Alvian. Pistol lawan jatuh ke lantai.


"Kurang ajarr!!" Darah mengalir memenuhi kedua belak telapak tangan lawan.


"Jangan ada yang bergerak, atau kubunuh kalian kalian semua!!" sentak Alvian garang sambil mengacungkan senjata ke arah penjahat yang bergerombol.


Memang aku tadi berteriak histeris dengan niat memberi kode pada Alvian yang ada di dalam kamar. Dan ternyata rencanaku itu dicerna Alvian dengan sangat brilian.


"Lyraa, pakai ini!" Alvian melempar senjata padaku dan sigap kutangkap senjata yang diberikan Alvian.

__ADS_1


"Vi-an, kok sapu?!" Aku terbengong mengamati senjata yang diberikan Alvian.


"Hehe maaf, adanya cuma itu tadi di kamar," Alvian menjulurkan lidah.


Mas Lintang langsung menepuk kening melihat sapu yang kupegang erat.


Nampak beberapa penjahat saling berbisik. Tak lama menunggu mendadak gerombolan itu menyerang bersama-sama kearah kami.


DOORR


DORR


Dua lawan terjatuh setelah menerima tembakan Alvian, namun lawan lainnya dengan sigap langsung menendang tangan Alvian hingga pistol itu terjatuh.


Dua pistol ada di lantai dekat dengan kaki mas Lintang namun tak ada yang berani mengambilnya karena semua sedang dalam kesiagaan penuh.


BLAPP


Sengaja aku memberikan tendangan pancingan kemudian berlari bersama Alvian ke halaman belakang untuk mencari area pertempuran yang lebih leluasa.


Lawan berpencar, 4 orang menuju kearahku, dan 3 lainnya menghampiri Alvian. Pertarungan sengit pun terjadi.


ZAPP


ZAPPP


Aku terus menghindar dari sabetan pedang yang seolah tak mau berhenti mengejar nyawaku.


Hingga pada suatu titik..


CEKLAAKK


Kuayunkan gagang sapu tepat ke salah satu tengkuk lawan. Musuh seketika pingsan, namun gagang sapuku juga seketika patah.

__ADS_1


Tak ingin menunda waktu, aku cepat berguling memungut pedang lawan yang telah pingsan.


TRANGG


TRANG


Pemainan pedang lawan segera kulayani. Tiga bilah pedang seperti beterbangan mencari celah dari setiap pergerakan yang aku lakukan.


CLANGG


BUKKK


SLASHHH


Saat pedangku bertemu dengan satu lawan, kulakukan satu kombinasi tendangan hingga lawan terdorong mundur. Detik berikutnya kutebaskan pedang sekuat tenaga ke tubuh lawan.


"Aaarhh," musuh menggelepar dan tak sadarkan diri.


Melalui sudut mata kulihat Alvian juga telah mampu menumbangkan satu lawan. Tersisa 4 lawan dihadapan kami.


Aku dan Alvian mundur sejenak untuk menarik napas. Posisi kami saling memunggungi dengan menghadap pada lawan masing-masing.


"Kita bertukar serangan. Hitungan ke 3 kamu lompat tinggi sambil memutar tubuh. Aku akan mengambil bawah untuk juga memutar tubuh dan menyerang lawanmu. Setelah itu aku akan cepat memutar lagi dan kita akan lempar pedang pada dua orang sisa terakhir," bisik Alvian memberi instruksi.


"Satu."


"Dua.."


DOORR


DORR


DORR

__ADS_1


DORRR..


..._-_-_...


__ADS_2