Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Skakmat


__ADS_3

POV Author


Anda siapa?, kenapa sama kasarnya seperti resepsionis?!" ucapan Lintang kali ini spontan membuat Laras melotot untuk memberikan peringatan pada Lintang agar tidak asal bicara.


"Hahaha, Laras. Ternyata temanmu ini jenis manusia rendahan yang bodoh. Dengarkan baik-baik ya. Aku adalah General Manager di perusahaan ini. Dan Laras, temanmu itu, hanya staff administrasi biasa. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku panggil sekuriti untuk mengusir!" ucap Hansen dengan pongah.


"Oh jadi karyawan perusahaan ini terbiasa angkuh dan sombong ya?!" nada suara Lintang meninggi.


"Fanani, jaga ucapanmu!" bisik Laras tak ingin jika Lintang terlibat masalah dengan Hansen, General Manager yang terkenal temperamental dan sok berkuasa.


"Ria, panggil sekuriti sekarang!" benar saja, Hansen terpancing emosinya.


Dalam hitungan detik, 4 orang sekuriti sudah datang dan langsung mencengkeram kedua lengan Lintang.


"Karena mulutnya yang kelewat cerewet menghina saya, hajar dulu dia di pos sekuriti sebelum mengusirnya!" perintah Hansen arogan.


"Hei, yang benar saja. mulut anda dan resepsionis itu yang kelewat sombong. Kenapa malah memutar balikkan fakta?!" Lintang masih saja bersikeras.


"Sudahlah, Fanani. Kau jangan mencari masalah. Ehm Pak Hansen, mohon maafkan teman saya dan jangan disakiti. Mohon lepaskan dia saja jika memang berniat mengusirnya," pinta Laras ingin membalas budi Lintang yang sempat menolongnya.


"Diam kau Laras!!. Cepat bawa dan hajar dia!" bukannya mengendur, amarah Hansen justru semakin meledak-ledak.

__ADS_1


Bertepatan dengan Hansen menyelesaikan kalimatnya, muncul seorang pemuda dari balik pintu lift, "Ada apa ini, Hansen?" tanya pemuda tersebut.


"Tuan Andrew, dia sudah bikin onar di lobi!" Hansen menunjuk kearah Lintang yang masih dalam cengkeraman sekuriti dikanan dan kirinya.


"Tu-tuan Lintang.." Andrew tergagap.


"Siapa Tuan?, Lintang siapa?" tanya Hansen masih tak mau sopan.


"Bodoh kau Hansen!. Cepat kau minta maaf pada beliau!" bentak Andrew marah.


"Untuk apa, Tuan?" Hansen ternyata begitu lambat merespon wajah takut dari Andrew.


"Tuan Lintang. Maksudnya keluarga besar Lin, pengusaha nomer 1 di Incon?" justru Ria, resepsionis tersebut lebih cepat berpikir dan mencerna perkataan Andrew.


"Maafkan saya, Tuan Lin!!" Ria tergopoh-gopoh menghampiri Lintang diikuti oleh Laras.


Para sekuriti juga dengan cepat melepaskan dan meminta maaf pada Lintang.


"Ka-kamu, Tuan Lin?!" Laras ternganga seolah tak percaya.


"Hansenn!!. Kau ingin selamanya menjadi patung?!" sarkas Andrew melihat respon Hansen yang begitu lambat.

__ADS_1


"I-iya..maafkan saya, Tuan Lin." Hansen baru menyadari kesalahannya.


"Saya tak memerlukan permisi maaf kalian. Yang lebih penting, kalian minta maaflah pada Tuan Andrew dan Tuan Julian karena kalian telah melakukan pekerjaan dengan cara yang buruk!" jawab Lintang datar.


"Andrew, saranku, tolong kau periksa kembali kinerja karyawan disini. Jangan sampai hal ini terulang pada tamu lainnya." Nasehat Lintang pada Andrew, Asisten pribadi dari Julian.


"Ba-baik, Tuan." Andrew menunduk takut.


Bagi Andrew, Lintang sama menakutkannya seperti Julian jika sudah berubah menjadi mode dingin. Dengan tatapan dingin itu, segala sesuatu harus berubah menjadi lebih baik.


"Apa saran anda untuk mereka, Tuan?" tanya Andrew menatap pedih pada Hansen dan yang lainnya.


"Copot Hansen dari jabatannya. Tukar posisinya dengan Laras. Tapi itu hanya saran. Aku tak memiliki hak untuk mengatur perusahaan kalian!" Tandas Lintang.


"Baik, Tuan. Akan saya bicarakan dengan Bos Julian. Dan terimakasih atas sarannya," balas Andrew sopan.


"Baiklah. Andrew, tolong antar aku ke ruangan Tuan Julian. Oya, apakah Tuan Albert, dan keluarga Naya sudah datang?" Lintang menoleh pada Andrew.


"Mereka belum datang, Tuan." jawab Andrew.


"Ok. Ayo antar aku kesana. Dan buat Laras, tunggu aku makan siang ditempat yang kau janjikan tadi!" Lintang segera melangkah menuju pintu lift diikuti Andrew.

__ADS_1


to be continued..


..._-_-_...


__ADS_2