Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Permintaan maaf


__ADS_3

POV Author


"Sebentar saya menyela sebelum terjadi perdebatan lebih panjang," potong dokter Andrian menengahi.


Semua pandangan mata kini beralih pada dokter Andrian.


"Dari hasil observasi dan wawancara dengan pasien dapat disimpulkan bahwa Lyranova hanya mengalami gegar otak ringan disamping luka luar lainnya," ungkap dokter Andrian.


"Jadi hemat saya, mari kita berdiskusi lebih ringan. Tak ada kondisi berat pada pasien," imbuh dokter Andrian bijak.


"Tapi tidak bisa begitu juga dong, Pak. Alhamdulillah jika Lyra tidak mengalami kendala serius. Tapi dari penyebabnya, tetap beresiko tinggi untuk seorang wanita!" Linda masih saja bersikeras membela Lyra.


"Nak, sudahlah. Toh Lyra juga sudah selamat. Ada baiknya kita mengendalikan emosi," tutur Pak Joko menimpali.


Alvian yang notabene adalah asisten dari Lintang menjadi serba salah. Diankesulitan angkat bicara dan berdiri pada pihak yang mana.


"Vian, ada yang ingin kamu usulkan?" Lintang menyadari kegundahan dari Alvian.


"Ehmm..Langkah selanjutnya ada ditangan Pak Bos. Dengan memperhatikan kepentingan Pak Joko sebagai pihak keluarga, dan pendapat Linda maupun dokter Andrian tentunya," Alvian berusaha memilih kalimat paling sesuai agar tak terlihat condong sebelah.


"Baiklah, giliran saya yang berbicara sekarang. Tapi sebaiknya kita berlima berpindah ke kamar Lyra agar dia juga bisa mendengarkan penjelasan saya," ujar Lintang yang langsung disetujui oleh semua orang.

__ADS_1


Berlima mereka beringsut tempat ke kamar rawat inap yang ditempati oleh Lyra.


"Bapak.." teriak Lyra lirih saat melihat Pak Joko memasuki kamar itu.


Sejenak mereka berpelukan.


"Alhamdulillah kamu tidak apa-apa, Nak. Bapak sangat khawatir begitu menerima kabar tentangmu dari Pak Mandor," Pak Joko mengelus lembut puncak kepala anaknya.


"Tenang saja, Pak. Lyra anak yang kuat," Lyra memaksakan senyumnya.


"Mari Pak dimulai saja," Linda sudah tak sabar menunggu penjelasan Lintang.


"Ehemm. Baiklah. Pertama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Lyra dan Pak Joko atas kejadian ini. Saya menyesal telah memberikan keputusan yang tidak sesuai untuk Lyra." Lintang sejenak menarik napas panjang.


"Yang terakhir, saya akan kembali memindah tugaskan Lyra agar lebih manusiawi," pungkas Lintang.


"Pindah kemana itu, Pak. Jangan kebagian pegawai kasar lagi. Kasihan dia," Linda dengan berani mengejar penjelasan Lintang lebih detail.


"Dia bersama dengan Alvian akan menjadi asisten saya," Lintang tersenyum.


"Jangan, Pak. Anak saya cuma lulusan SMA. Dia tak berpendidikan tinggi seperti Pak Alvian," tampik Pak Joko merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Benar, Pak. Saya hanya terbiasa pekerjaan kasar," imbuh Lyra.


"Asisten tidak perlu keahlian khusus. Dia hanya memenuhi yang saya butuhkan. Nanti Lyra bisa beradaptasi bersama Alvian," jawab Lintang.


"Lalu bagaimana dengan Pak Vian?, saya tidak mau merebut pekerjaan Pak Vian," bantah Lyra.


"Siapa bilang kalian akan berebut tugas?!" kalimat Lintang menggantung.


"Maksud Bapak?" Lyra masih belum paham.


"Lyra akan menjadi asistenku dirumah hingga tiba di kantor, setelah itu tugas asisten akan dilanjutkan Alvian!" terang Lintang.


"Ooh jadi PRT!" potong Linda.


"Bukann!. Saya ada pekerjaan kantor yang dibawa kerumah. Tugas Lyra adalah menjadi asisten saya selama bekerja dirumah hingga saya kembali ke kantor lagi. Maka daripada itu, komunikasi dan kekompakan antara Lyra dan Alvian harus benar-benar terjaga," kembali Lintang menjabarkan agar lebih jelas.


"Tapi, Pak.."


"Mohon tidak ada penolakan lagi ya. Kamu kan sudah kalah bertaruh denganku. Jadi mohon konsekuensinya untuk menepati kesepakatan kita sebelumnya," potong Lintang tersenyum penuh kemenangan.


"Moduss!!" lirih Linda yang masih bisa didengar Alvian.

__ADS_1


"Sstt..diamlah," bisik Alvian tak ingin suara mereka terdengar oleh yang lainnya.


..._-_-_...


__ADS_2