Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Kau dimana?


__ADS_3

POV Author


"Hallo..Pak, anu..eh Dek Vian.."


"Eh iya Hallo, Lyr eh hmm Ka-Kak Lyra," Lyra dan Alvian sama-sama kikuk menggunakan kata panggilan baru yang terpaksa harus mereka gunakan karena paksaan Rani.


"Sudah 7 jam sejak Mas Lintang pamit menemui klien tadi pagi, tapi kenapa belum pulang ya?. Dihubungi handphonenya juga tidak aktif. Tidak ada kasih kabar juga. Apa kamu tahu dia dimana?" nada suara Lyra terdengar panik.


"Aku menghubungi juga tidak bisa, Kak. Biasanya sebelum jam tutup kantor selalu dia menghubungi atau datang ke kantor untuk mendengarkan laporanku seputar kegiatan hari ini. Tapi ini kok aneh ga ada kabar begini," suara Alvian dalam speaker telepon juga terdengar mulai panik.


"Sepertinya ada yang tak beres. Ooh semoga firasatku salah. Eh, Dek. Tolong jemput aku bisa?. Kita harus cek ke tempat Mas Lintang bertemu klien tadi untuk memastikan. Oya sampaikan juga kondisi ini pada Bu Liana Kepala HRD agar dia juga bisa membantu berpikir," jantung Lyra semakin berdetak kencang.


"Baik. Aku akan segera meluncur dan menyampaikan juga pada Bu Liana," Alvian bergegas menutup sambungan telepon.


--


Sekian menit berselang..


DINNN


DINN


"Pa, Ma, Pak..Saya berangkat dulu," Lyra segera berpamitan Pada Bintang, Rani, juga Pak Joko yang sedang berkumpul begitu mendengar klakson yang dibunyikan Alvian.


"Hati-hati, Nak. Cepat beri kabar pada kami jika sudah bertemu Lintang," desah Bintang dengan wajah kalut.


"Bapak yakin, kamu tentu bisa mengatasi ini. Kau anak yang tangguh. Berusahalah!" Pak Joko memberi semangat pada anak semata wayangnya.


"Kalian semua harus kembali dengan selamat!" wajah Rani merebak menahan airmata yang telah menggenang dikelopak mata.


Lyra mengangguk sopan kemudian berlari menuju mobil Alvian yang menunggu di halaman.

__ADS_1


"Kita langsung menuju Restoran Yellow di timur kota," ucap Lyra begitu menjatuhkan buah pantat sekalnya di jok belakang mobil Alvian.


"Lu yang sabar ya, Sayang. Jangan panik yang berlebihan biar tetap bisa berpikir jernih," hibur Linda yang duduk manis disamping Alvian.


"Iya, Lin. Oya apa sudah kabar baru?. Bagaimana tadi setelah menemui Bu Liana, apa dia ada kontak dengan Mas Lintang?" Lyra mengiyakan perkataan Linda kemudian cepat mencecar Alvian dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Belum ada kabar lagi, Kak. Dan Bu Liana ternyata sedang sakit dan tidak masuk kerja hari ini," ujar Alvian tanpa bisa menyembunyikan kerisauannya.


"Yaa Allah.." mata Lyra mulai berkaca-kaca, namun cepat ia berusaha menguasai diri agar tetap kuat dan tidak cengeng.


Sebutan Kak dan Dek dari Lyra dan Alvian sebenarnya cukup menggelitik bagi ketiganya untuk dibahas. Tapi kondisi tegang membuat mereka susah untuk tersenyum.


Sekian menit dalam perjalanan, mobil Alvian telah tiba ditempat yang dituju. Bertiga mereka segera turun dari mobil.


"Lho ini mobil, Bos Lintang," ucap Alvian yang sedang mengamati sebuah sedan mewah keluaran terbaru berwarna silver.


Lyra berlari kebagian resepsionis "Mbak, reservasi atas nama Bapak Lintang apa belum selesai kegiatannya?" tanya Lyra.


"Iya betul,"


"Pak Lintang sudah keluar dari sini, ehmm kira-kira 4 jam yang lalu." ucap resepsionis.


"Apa mbak tahu dia kemana?" kejar Linda yang ausah berdiri disamping Lyra.


"Aduh maaf Kak, Pak Lintang tidak berpesan apapun pada kami," jawab resepsionis sopan.


"Baiklah, terimakasih." Lyra dan Linda kembali berlari menuju area parkir.


"Mas Lintang, kamu dimanaa?!" keluh Lyra dengan wajah sedih.


"Pe-permisi. Bapak dan Ibu mencari pemilik mobil ini?" Bapak penjaga parkir menghampiri mereka.

__ADS_1


"Iya, Pak. Batak tahu dimana dia?" Alvian menanggapi.


"Tadi pas Bapaknya itu mau masuk mobil, ada mobil hitam gede berhenti didepan sini. Setelah itu Bapaknya menghilang sat mobil hitam keluar dari sini," terang Bapak parkir.


"Yaa Allah..kenapa Bapak diam saja?, kenapa tidak lapor pihak Resto atau Polisi?" bentak Alvian memerah wajahnya.


"Ma-maaf, Pak. Saya tidak tahu. Saya pikir itu teman-temannya yang menjemput," kilah Bapak parkir ketakutan.


"Tidak bisa begitu. Keamanan area parkir adalah tanggung jawab Bapak kan?!" Alvian masih terus menyerang.


"Sudah. sudah..tolong jangan memperkeruh suasana. Bapak ini tidak tahu apa-apa, jangan jadikan dia kambing hitam. Lebih baik kita segera bergerak agar bisa menemukan Mas Lintang!" Lyra berusaha menengahi dan mempertahankan hati serta pikiran untuk tetap jernih.


"Baik, Pak. Terimakasih atas informasinya. Kami akan mencarinya. Nanti jika dianggap perlu, saya harap Bapak bersedia untuk menjadi saksi," ucap Lyra sopan.


"Baik, Bu. Saya akan membantu sepenuh hati. Nama saya Imron. Ibu bisa bertanya kepada resepsionis bila nanti membutuhkan saya," Bapak parkir bernama Imron itu menunduk hormat.


"Yaa Allah, ini pasti penculikan. Ini aneh sekali. Biasanya kan yang diculik itu ceweknya. Kenapa ini malah cowoknya?!" gumam Alvian bingung.


ADUDUHH


AWWW


"heh, yang bener kalau ngomong. Kau ingin Lyra yang diculik?!" Linda dengan keras menjewer kuping Alvian karena jengkel.


"Ampun..ampun, bukan begitu maksudku!. Adoowwh," Alvian mengaduh menahan kesakitan.


..._-_-_...


Dimana Lintang?. Cerita semakin menarik dan mendebarkan. Simak kelanjutan episodenya hanya di sini.


Semoga harimu menyenangkan..

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2