Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Ambarwati & Ambarsari


__ADS_3

POV Author


Tiba saatnya kembali pulang. Menggunakan sebuah mobil yang dikemudikan seorang driver, Lintang dan Lyra menuju sebuah lapangan penerbangan kecil milik kawasan pertanian. Pesawat pribadi mereka yang berukuran kecil memang sejak awal mendarat disana pada saat kedatangan. Deo dan tim juka menuju kesana dengan mobil berbeda.


"Tak terasa, sudah seminggu kita disini. Cepat sekali ya, Mas.." Lyra berbicara memecah keheningan dalam mobil yang sebelumnya masih larut dalam pikiran masing-masing.


"Gimana bisa terasa, kita keasyikan goyang semangka terus tiap hari, hehe.." Lyra memberi kode pada Lintang untuk diam karena khawatir suara Lintang didengarkan oleh sopir.


"Tenang saja, dia kan bule. Ga bakal ngerti bahasa kita, Sayang." tepis Lintang tanpa khawatir.


"Pemandangan disini bagus ya, Mas. Area persawahan dan ladang yang subur, suara ternak, lingkungan yang bersih. Sangat menyenangkan sepertinya." Pandangan Lyra menyapu ke luar jendela.


"Iya bu, disini wilayah tersubur diantara wilayah pertanian lainnya," ungkap Driver menjelaskan.


Seketika Lyra menutup mulutnya, "A-anda bi-bisa bahasa kami?" wajah Lyra memucat.

__ADS_1


"Bapak saya Belanda, Ibu saya Pekalongan.." Driver menatap spion tengah mobil.


"Tuh kan, Mas. Aku bilang juga apa!" Lyra sudah malu luar biasa.


"Santai, Bu. Saya juga pernah muda hehe.." Driver yang berusia sekitar 45 tahun itu tersenyum renyah.


Ketika Lyra masih disibukkan dengan rasa malu yang tidak ketulungan, sebuah truk trailer menghadang ditengah jalan.


CIIITT


Suara rem mobil berdecit hingga mengeluarkan bau kampas kopling yang terbakar. Terpaksa Driver menghentikan laju mobilnya karena sebelah kanan dan kiri adalah area persawahan yang curam.


"Hahaha, sayangku. Kenapa kamu malah kesini mengantarkan diri?. Amsterdam adalah tempat dimana aku merintih kembali usaha dari nol. Tapi keberuntungan berpihak padaku, sang pangeran datang sendiri menemuiku." Liana muncul dari pintu belakang box truk.


"Kepung mereka!!" teriak Liana lagi.

__ADS_1


Berhamburan sekitar 30 orang dari balik truk bergegas mengelilingi Lintang dan Lyra. Driver mobil sewaan hanya bisa berdoa didalam mobil tanpa berani membantu.


"Bedebahh kau, Liana. Harusnya kau kuringkus waktu itu berikut nenekmu!" Lintang mengeras wajahnya.


"Kenapa aku tak ikut kau ringkus juga, sayang?! dari pintu kemudi truk datang Riana dan Wiwik dengan tawa menjijikkan mirip Mak Lampir.


"Oo-Omaa?!" Lintang dan Lyra tersentak bersamaan demi melihat wanita tua yang dulu telah mengacaukan rencana pernikahan mereka hingga menyebabkan Pak Joko direnggut oleh maut.


"Siapa yang kau sebut Oma?. Aku bukan Oma kalian!" teriak Riana lantang.


"Bagaimana mungkin.." lirih suara Lintang segera dipotong oleh Riana.


"Baiklah, akan aku ceritakan agar kalian nantinya tidak mati penasaran, hahaha.." tawa khas Mak Lampir kembali terdengar.


"Pria bodoh itu, ya pria itu adalah Ayah Rani. Dia memang menikah dan hidup rukun hingga memiliki anak bernama Rani. Namun satu yang tidak ia tahu, Ibunya Rani adalah saudara kembarku bernama Riana Ambarwati, sedangkan aku adalah Riana Ambarsari. Ambarwati sudah meninggal saat melahirkan Rani. Ayah Rani mana pernah tahu itu?, dia sedang mengurus bisnis di New Delhi saat Ambarwati melahirkan. Si anak pembawa sial bernama Rani itu selalu saja menghalangi langkahku untuk menguasai kekayaan Ayahnya. Tapi aku cukup senang sudah memiliki separuh hak waris dari Ayah Rani meski aku bukan istrinya, hahaha. Dan sekarang, Rani versi baru bernama Lyra kembali menghalangi jalanku untuk menguasai harta Bintang!" Riana Ambarsari melotot keji.

__ADS_1


"Apakah kau masih penasaran tentang hubungan kami dengan Liana?. Silahkan tanya pada Tuhanmu setelah kami kirim kalian sebentar lagi!" Wiwik ikut angkat bicara.


..._-_-_...


__ADS_2