Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Penyesalan Lyra


__ADS_3

POV Author


"Ini benar-benar tidak tepat. Laras celaka akibat masalah kita. Jika dia karyawan kita, mungkin itu sedikit bisa dimaklumi. Namun dia hanya karyawan magang, justru terkena imbasnya.." keluh Lyra saat kesemuanya sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit menunggu penanganan terhadap Laras.


"Sayang. Kau terlalu berpikir lurus. Memang jika dipandang dari segi pekerjaan, dia telah menerima imbas dari masalah kita. Tapi apakah kau tak mencoba merasakannya dengan hati?. Mama berani bertaruh, saat Laras telah sadar nanti dan bisa diajak berkomunikasi, maka dia akan mengaku bangga karena telah menyelamatkan Lintang. Mama paham tentang apa yang Laras pikirkan, jika tak dapat menjadi belahan jiwa bagi Lintang, setidaknya dia ingin berkorban untuk cintanya.." Rani yang datang menyusul berusaha memberikan nasehat kepada Lyra agar tidak terus menerus merasa bersalah.


"Begitu ya, Ma?" Lyra ternganga.


"Kau itu sudah jadi ibu-ibu, kenapa masih polos juga sih?!" tegur Rani masam.


"Semua yang terjadi di kantor tadi adalah musibah. Dan musibah bisa menimpa siapapun. Jadi kau berbesar hati lah. Kau bukan Dewi kahyangan yang bisa memenuhi segalanya tanpa cela!" imbuh Rani mengingatkan.


"Iya, Ma. Maafkan Lyra,"


"Keluarga dari saudari Laras..."


Baru selesai Lyra berucap, terdengar panggilan dari pintu masuk UGD.

__ADS_1


"Kami kelurganya, Suster!" Lyra berlari mendekati pintu UGD diikuti yang lainnya.


"Silahkan menemui dokter Prana di ruangannya. Beliau yang akan menjelaskan," terang Suster sebelum kemudian melangkah kembali memasuki ruang UGD.


"Apakah anda kerabat dari nona Laras?" tanya dokter Prana saat Lyra dan yang lainnya tiba di ruang dokter.


"Saya pimpinan dari Laras, Dok." jawab Lyra serius.


"Baiklah. Perlu kami jelaskan disini bahwasanya Nona Laras sudak tidak dapat tertolong lagi nyawanya. Beberapa menit yang lalu dia telah menghembuskan napas terakhirnya setelah usai dilaksanakan operasi pengangkatan peluru dari perutnya," terang dokter Prana dengan wajah kecewa.


Semua wajah berubah sedih penuh derai airmata. Tak ada yang tak sedih begitu mendengar berita ini. Seorang gadis tamu perusahaan telah menjadi korban.


"Kita harus mengantarkan sendiri jenasah Laras ke rumah keluarganya sebagai bentuk rasa tanggungjawab," ujar Bintang memecah keheningan.


"Laras yatim piatu," desau Lyra lemah.


"Apa dia tinggal disebuah panti asuhan?" kejar Bintang lagi.

__ADS_1


"Dia memang pernah bercerita seperti itu," tatapan Lyra berubah kosong.


Dalam hati Lyra seolah mengutuk diri. Jika Lyra mampu mendeteksi kejanggalan hatinya sejak dini, tentu dia tak ingin bermain cantik untuk menjauhkan Laras dari Lintang. Alih-alih membuatnya mundur alon-alon, justru Lyra akan rela bila Laras sejenak meraih kasih dipenghujung usianya. Tapi malang tak bisa dihadang, untung tak bisa dibendung, nasi sudah lagi tidak menjadi bubur, lebih dari itu telah berubah menjadi lontong. Hanya tersisa penyesalan menjadi sebak di dada.


"Laras..maafkan akuu.." bisik batin Lyra dalam iring airmata.


"Jika demikian, kita antar Laras ke panti asuhannya sekaligus kita harus menemui Tuan Julian untuk menyelesaikan ini semua." Lintang berusaha menguatkan hati dan berjalan untuk memeluk istrinya yang terlihat demikian rapuh sejak mendengar kematian Laras.


"Bersabarlah, Sayang. Ini semua telah Digariskan-Nya. Manusia hanya bisa berusaha ataupun menyesali segala perbuatannya, namun Allah Yang Maha Menentukan," hibur Lintang.


"Aku sudah demikian tega pada Laras, Mas. Aku jahat..aku jahattt!!. Hiks..hiks," Lyra menangis pilu.


"Kak Lyra, dengarkan aku. Jangan kau naif seperti itu. Segala yang telah terjadi menunjukkan bahwa itulah jalan yang telah diatur Allah. Jika Kakak menyalahkan langkah yang telah diambil, itu artinya Kak Lyra menyalahkan takdir Allah!. Jika memang salah, jangan hanya sibuk menyesali, tapi segera perbaiki di kemudian hari!" Alvian terpaksa angkat bicara setelah banyak menerima komplain dari pembaca karena tak pernah muncul di banyak episode terdahulu.


"Vian..Vian. Kamu benar. Bodohnya aku yang terhanyut dalam kedukaan yang terlalu mendalam sehingga justru melunturkan iman," Lyra cepat menyeka airmatamya dan berusaha tersenyum kembali.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2