Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Awas nanti jatuh cinta


__ADS_3

POV Author


"Bagaimana menurutmu, Vian. Apa dia bakal bisa bertahan sampai satu bulan?" tanya Lintang pada Alvian saat mereka meeting berdua.


"Dia wanita tangguh," jawab Alvian singkat.


"Ga perlu memuji, apalagi membela. Aku hanya bertanya kemungkinannya," Lintang menunjukkan wajah tak suka.


"Come on, Bos. Ada apa denganmu?. Kenapa bersibuk-sibuk memikirkan gadis itu?!" serang Alvian karena merasa ada yang tak beres pada diri Lintang.


"Kamu kan sudah tahu betapa keras kepalanya Lyra itu!. Dia menolak Peraturan Perusahaan. Aku ulangi, DIA MENOLAK MENTAH-MENTAH. Yang benar saja. Kuli rendahan aja kok sok suci, sok hebat." Wajah Lintang memerah, entah karena marah, ataukah malu karena menutupi sesuatu.


"Iya tahu. Tapi kamu ga seperti biasanya. Kenapa gampang banget terpancing oleh kuli rendahan?. Justru aku yang tak habis pikir melihat respon kamu yang menurutku terlalu berlebihan," Alvian terbiasa bicara apa adanya bila berdua dengan Lintang karena pada dasarnya mereka adalah sepupu.


"Berlebihan gimana maksudmu?. Aku biasa aja deh kayaknya," tampik Lintang.


"Menurutmu biasa aja karena kau adalah pelaku. Tapi bagi pengamat sepertiku, ini warbiasah." Alvian tersenyum tipis.


"Dibagian mana berlebihannya?" kejar Lintang merasa tak puas dengan tanggapan Alvian.


"Dibagian terpancingnya. Udah deh, serahin urusan beginian ke bagian HRD saja. CEO kok ngurusi anak buah yang levelnya paling rendah. Kurang kerjaan lu, Bos?" ucap Alvian berusaha mengarahkan.


"Wah ga bisa dong. Dia sudah mencorengku dengan mencederai keputusan yang kubuat dalam peraturan kerja. Aku benci orang seperti ini dan kupastikan bakal habis ditanganku!" kembali wajah itu memerah.


"Benci?"


"Ya benci!"


"Benci, Benar-benar Cinta maksudmu?"


"Viann!"


"Benci kok sama kuli. Ga berkelas." Goda Alvian memperkeruh suasana hati Lintang.


"Kamu kenapa sih, tumben-tumbenan malah memojokkan aku. Ingat, kamu asistenku. Mau aku potong gaji atau aku rumahkan sekalian?" Lintang semakin frustasi.


"Kamu yang kenapa, Boskuh. Demi ambisi melibas kuli sampai-sampai rela memecat aku?!" bukannya terpancing, Alvian justru semakin menggoda Lintang.

__ADS_1


"Karena aku benci banget dengan gadis itu. Harga diriku jatuh gara-gara dia!" Lintang terus saja membela diri.


"Ati-ati, Bos. Jangan terlalu benci.."


"Emang kenapa?"


"Awas nanti jatuh cinta,"


--


… Aku punya niat yang baik


Coba kuungkapkan padamu


Berharap kamu 'kan menjadi


Rencana besar dihidupku


… Tapi kau bilang


"Pergi sana"


Kamu tak mau melihat diri ini selamanya


… Awas nanti jatuh cinta


Cinta kepada diriku


Kamu terlalu membenci


Membenci diriku ini


Awas nanti jatuh cinta padaku


… Aku punya niat yang baik


Telah kuungkapkan padamu

__ADS_1


Kau tetap bilang


"Pergi sana"


Kamu tak mau melihat diri ini selamanya


… Awas nanti jatuh cinta


Cinta kepada diriku


Kamu terlalu membenci


Membenci diriku ini


Awas nanti jatuh cinta padaku


(Armada)


--


"Sori, levelku bukan kaum rendahan. Apalagi kaum rebahan..haistt," emosi Lintang sedikit mengendur setelah digempur gurauan Alvian berulang kali.


"Dia cantik sih, berhijab pula. Oya, dia kan sempat cerita pernah memenangkan turnamen beladiri. Wah ahli beladiri juga. Paket komplit, tinggal poles dikit, jadi deh. Ya udah sih kalau kamu ga mau. Biar aku aja yang maju. Dari awal aku perhatikan dia kayaknya cocok juga jadi pendamping saat ada undangan resepsi, pendamping hidup juga boleh, hehe.." Alvian terkekeh gembira.


"Jangan ngawur kamu, Vian!" potong Lintang cepat.


"Kenapa, ga rela?" goda Alvian.


"Bukan begitu. Kamu kan playboy cap kupu-kupu. Jangan cari korban lagi!" kilah Lintang.


"Haha..lebih baik playboy daripada jomblo abadi sejak bayi. Lu normal kan, Boskuh?"


"Viannn!!"


..._-_-_...


Kisah Mbak Kuli terus berlanjut. Jangan lupa favoritkan jika tak ingin terlewatkan notifikasi updatenya ya kawan.

__ADS_1


^^^Bersambung 🔜^^^


^^^-------->^^^


__ADS_2