
Sejak nasehat dari Bintang, kini Lintang sudah kembali terlihat 'hidup'. Dengan cekatan ia mengumpulkan tim untuk bergerak mencari Lyra.
"Vian, instruksikan kepada para distributor kita agar meminta para agen dan pengecer untuk memeriksa semua pembeli. Sebarkan foto Lyra dan Pak Joko pada mereka. Sepertinya tidak mungkin Lyra jika tak butuh kebutuhan pokok seperti beras, minyak, garam, dan semacamnya. Salah satu dari distributor, agen, dan pengecer pasti akan didatangi oleh Lyra untuk berbelanja. Karena jelas bahwa tepung terigu kita 90% akan selalu berdampingan dengan penjualan kebutuhan pokok disetiap toko." kecerdasan Lintang terpampang jelas.
"Wow brilian. Ini dia bos kita sudah kembali dari tidur panjangnya, hehe. Ngomong-ngomong, itu rambut gondrong dikemanakan kok hilang, Bos?" Alvian akhirnya juga merasa 'hidup' kembali.
"Rambutnya semalam diruwat, hehe." Seloroh Lintang penuh keceriaan.
"Deo, selagi Alvian bergerak menggunakan metode D alias Distributor. Kau juga akan bergerak menggunakan metode F alias Flash. Bergerak cepat ke semua kelurahan di kota ini. Berlanjut semua kelurahan di kota tetangga. Aktifkan pula pemindaian cepat pada semua kegiatan, transaksi, dan aktifitas atas nama Lyranova dan Joko Zubaidi. Saya tunggu update laporannya setiap hari!" perintah berikutnya turun dari Lintang.
Lintang tak mau menunda waktu lagi. Sudah cukup lama ia hanyut dalam kesedihan yang nyatanya justru semakin mempersulit langkahnya sendiri.
__ADS_1
Lintang juga semakin tersenyum lega saat tadi pagi Riana diberangkatkan secara paksa oleh Bintang. Dengan begitu biang permasalahan yang menyebabkan perginya Lyra sudah diatasi.
"Linda, selama Alvian sibuk menjalankan metode D, apa bisa kau membantuku?" Lintang menoleh pada Linda yang duduk 90° disisi kanannya.
"Tentu dong, Pak Bro Bos." Wajah Linda ikut ceria akibat atmosfer kelapangan hati yang dibawa oleh Lintang sejak pagi tadi.
"Periksa semua transaksi dan aktifitas kantor yang tidak wajar. Cocokkan juga dengan arus keuangan. Kamu saya beri mandat untuk memimpin meeting internal kepala divisi nanti siang. Tugas kamu ini berkaitan dengan kasus Liana. Jadi, disamping kita bergerak mencari Lyra, kita juga bergerak mengatasi Liana." Lagi-lagi sepak terjang Lintang hari ini mengundang decak kagum orang-orang disekitarnya.
"Hallo, Mama. Gimana, sudah dapat?" Lintang menghubungi Rani via telepon.
"Beres, Nak. Mama selalu bisa diandalkan untuk urusan seperti ini, hehe." Jawab Rani diseberang sana.
__ADS_1
"Ok, Ma. Aku akan bergerak sore nanti. Terimakasih ya Mamakuh sayangg," balas Lintang dengan senang hati.
"Halah. Kalau ada maunya aja panggil mama sayang-sayang. Ya sudah, Mama masih dijalan. Assalamualaikum.."
"Wa'alaykumussalam.."
Satu persatu anggota tim bergerak sesuai tugas yang sudah ditentukan. Lintang memandang setiap pergerakan timnya dengan tatapan penuh doa. Jauh didalam lubuk hatinya ada perasaan takut kehilangan Lyra.
Namun ia cepat menguasai diri. Ia tak mau terlihat kalut lagi. Baginya, kini ikhtiar maksimal adalah yang paling utama. Mengenai bagaimana hasilnya, sepenuhnya ia serahkan Kepada Sang Maha Pemberi Pertolongan.
"Tetap berpikiran positif, Bos. Aku akan selalu disampingmu untuk membantu sekuat tenaga. Ingatlah, Allah tidak tidur. Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan Hamba-Nya." dukung Alvian sebelum melangkah pergi untuk menjalankan tugasnya teriring senyum Lintang yang merasakan hirupan udara pagi ini begitu nyaman.
__ADS_1
..._-_-_...