Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Solusi


__ADS_3

POV Author


Lintang teringat pada Lyra yang masih terkapar di lantai. Bergegas ia kembali dan menolong Lyra.


"Ya Allah, Lyraa!" Lintang menjadi gugup sendiri melihat lengan Lyra yang kembali berdarah. Belum lagi kondisi Lyra yang terlihat kesakitan sambil memegangi kepalanya.


Perawat segera datang sesaat setelah Lintang memencet tombol darurat.


"Lyra. Bertahanlah," ucap Lintang tulus pada Lyra yang tengah berada dalam pelukannya.


"Lyraaa..ada apa ini, Pak?" Linda dan Alvian menghambur masuk.


"Mana Andrian dan Kepala Rumah sakit?!" bentak Lintang pada perawat setelah mengangsurkan tubuh Lyra pada Linda.


Sebuah peringatan keras telah dilayangkan Lintang pada Kepala Rumah Sakit. Karena keteledoran penjagaan rumah sakit telah membuat pasien hampir saja kehilangan nyawa. Lintang dengan tegas mengatakan akan mengganti Kepala Rumah Sakit bila terjadi lagi hal serupa dikemudian hari.


--


Keesokan harinya..

__ADS_1


"Apa kau mengenal penyerang itu?" tanya Lintang pada Lyra yang telah kembali stabil kondisinya.


"Tidak, Pak." Jawab Lyra.


"Apa kau mungkin pernah punya musuh atau menyinggung seseorang sebelumnya?" lanjut Alvian.


"Seingat saya, tidak. Sejak saja bekerja di Bintang Group, saya hampir tidak pernah ada waktu untuk bertemu teman atau berurusan dengan orang diluar kantor kecuali dengan Bapak saya. Pulang kerja saya hanya memasakkan Bapak dan langsung beristirahat. Saya perlu istirahat yang cukup karena pekerjaan saya berat," terang Lyra panjang lebar.


"Sekarang saja lu baru ngaku kalau pekerjaan lu berat!" sindir Linda.


"Aku tak suka mengeluh, Lin!" Lyra membela diri.


"Lyra..apakah kau memiliki keluarga lain selain Ayahmu?" Lintang kembali bertanya.


"Tidak, Pak. Kami hanya hidup berdua. Ayah dan Ibu adalah anak tunggal seperti saya. Kakek dan Nenek kami juga sudah meninggal semua," jabar Lyra.


"Baiklah. Kalau begitu kamu dan Bapak sementara pindah kerumahku saja. Aku khawatir nyawa kalian terancam jika penjahat itu masih berkeliaran diluar. Lagipula setelah ini kan kamu kerjanya dirumahku, jadi sekalian menginap dengan Pak Joko aku rasa tidak masalah," Lintang berusaha memberi solusi.


"Kami nanti malah akan merepotkan disana. Saya jadi tidak enak hati," tampik Pak Joko serba salah.

__ADS_1


"Pak Joko, jangan berpikir seperti itu. Anggap saja kalian menempati asrama. Nanti saya akan menempatkan kalian pada bangunan terpisah dari rumah induk. Kebetulan dibelakang rumah ada satu rumah mungil layak huni," lanjut Lintang.


"Ehmm..modus lagi sih ini," lirih Linda.


"Stttt..hehe," Alvian memberi isyarat jari telunjuk didepan bibir sambil terkekeh.


"Saya, terserah Lyra saja," akhirnya Pak Joko pasrah.


"Bagaimana Lyra?" kembali Lintang bertanya.


"Harusnya sih tak ada penolakan. Ini demi keselamatan Ayahmu juga," imbuh Lintang yang tiba-tiba seperti memiliki perhatian lebih pada Pak Joko maupun Lyra.


"Sudah saya sampaikan berulangkali, Pak. Saya InsyaAllah selalu siap ditugaskan kerja dimanapun, sekasar apapun. Asalkan tidak untuk kemaksiatan," Lyra mengangguk setuju.


"Yaa kalau semua sudah setuju, tinggal membicarakan ijab qobulnya saja yang belum," kelakar Alvian mencairkan suasana.


"Dasar asisten ga punya tata krama, tidak hafal dasa darma, tidak memahami wawasan wiyata mandala. Minta dipangkas habis gajimu? Hahh?!" Sembur Lintang keki.


"Cieee, si bos udah mulai bisa ngelawak nih ngomongnya. Seumur-umur, baru kali ini aku dengar ucapan lucu dari Pak Bos. Biasanya serius terus, Bos?!" Alvian semakin berani menggoda Lintang.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2