
Warning ⚠️ Mengandung adegan 18+. Bijaklah dalam membaca.
POV Author
Awan gelap, hujan membasahi persada. Malam pun kian hening terasa. Hanya suara derai hujan yang menggema bersambut cambuk kilat yang putih menyilaukan pandang. Tumbuhan dan pepohonan membasah segar. Hewan-hewan berdesakan di sarangnya demi menghindari dingin air hujan. Setiap insan merasa enggan keluar rumah dan memilik menarik selimutnya menghalau dingin yang semakin menggigit.
Lintang menatap teduh bidadarinya yang terlihat kikuk, tak tahu harus berbuat apa. Lyra telah melepas hijab menampilkan rambut legam terurai panjang hingga ke punggung.
"Dengan atau tanpa hijab, kau tetap cantik. Tak ada yang berubah," puji Lintang yang memerahkan wajah Lyra.
"Apa adek sudah pernah melihat adegan dewasa melalui film?, atau mungkin pernah secara tak sengaja melihat es degan panas?" sebuah prolog yang amat perlahan dihantarkan Lintang melihat betapa lugu istrinya untuk memulai maghligai malam yaang panjang.
Lyra menggeleng lemah. Rasa takut dan hasrat saling berebut mengisi rongga jiwa. Ia semakin erat mendekap bathrobe dengan tatapan kosong diagonal ke bawah, seolah tiada habisnya menghitung jumlah ubin kamar hotel.
"Kemarilah, Sayang." Lintang melambaikan tangan pada Lyra yang sedari tadi duduk mematung diatas kursi rias.
Lintang meraih pundak istrinya dan menekannya halus, meminta sang dara duduk dipangkuan.
Semerbak aroma wangi segera menyeruak indera penciuman Lintang. Dengan mesra ia memeluk tubuh ramping istrinya untuk semakin menyesap aroma wangi yang bersumber dari sana. Wajah Lintang terbenam di bahu Lyra, menghirup dalam-dalam kesedapan sabun, cologne, berpadu khasnya aroma tubuh yang akan selalu melekat dalam ingatan selamanya.
"Ehmh." Tubuh Lyra bergetar halus merasakan rengkuhan pertama dalam hidupnya.
"Sayangkuu," wajah Lintang bergeser pelan tapi pasti dari bahu Lyra menuju ke tengkuk dan berakhir di pipi.
Ciu-man lembut mendarat di pipi putih bak pualam. Lyra sedikit menggeliat tatkala bulu kumis halus Lintang menggesek tengkuk sensitif miliknya.
"Boleh aku buka?" mata sayu Lintang memandang lekat-lekat sisi samping wajah yang hanya berjarak sekian centimeter dari pandangan.
__ADS_1
Lyra mengangguk saja dan sedikit berdiri dari pangkuan untuk membantu Lintang meloloskan kain bathrobe yang melekat ditubuhnya.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Lintang untuk bisa memandang tubuh polos yang sebelumnya tersimpan dari sapuan mata.
Nampaknya Lyra telah berinisiatif menanggalkan onderdil dalamnya sebelum mengenakan bathrobe untuk memberikan suguhan terbaik bagi sang suami tercinta. Ia tak tahu pasti bagaimana bentuk suguhan yang tepat karena ia masih awam dalam hal begituan. Lyra hanya mengikuti naluri saja.
"Subhanallah.." samar suara Lintang saat memandang keindahan tanpa cela.
Tubuh jenjang dengan kulit putih tanpa noda. Gundukan fujiyama dengan ukuran presisi pas di badan. Bemper belakang yang membulat padat ternyata tersembunyi selama ini dalam pakaian yang tak pernah pres body.
"Aku malu, Mas. Jangan hanya dipandangi seperti itu!" Lyra mengulurkan tangannya menutupi mata Lintang yang seperti lapar memindai segala menu kelas bintang lima milik istrinya.
"Kalau malu dilihat. Maunya apa?" kedua alis mata Lintang bergerak menggoda.
"Berdirilah. Biar aku bantu melepas pakaianmu!" Lyra benar-benar berusaha memposisikan diri selayaknya seorang istri yang siap sedia melayani suami.
"Mas Lintanggg. Jangan gerak-gerak terus. Susah kan jadinya mau bantu lepas pakaian!" Lyra mencebik saat tanpa permisi jemari tangan Lintang bergerilya menggapai segala jenis gundukan didepannya.
Lintang berhenti dari aksinya. Namun..
HPPPMMH
Sebagai gantinya, Lintang menerjang bibir mungil Lyra hingga sang empunya menjadi gelagapan karena tak siap menerima serangan mendadak.
Perlahan namun pasti Lyra berusaha beradaptasi pada persuaan bibir yang tentu ia juga sangat mengharapkannya.
Pertautan dua katup bibir berpadu uluran lidah saling memburu teriring mata sayu. Lintang segera merengkuh punggung Lyra berniat memeluk dalam dekapan. Namun Lyra menyangkalnya. Justru jemari Lyra sibuk membuka kaitan demi kaitan kancing kemeja Lintang dalam posisi mulut yang masih berpadu erat.
__ADS_1
Sejenak Lyra mundur menarik napas kemudian berjongkok melepas kaitan sabuk yang melingkar pada celana katun Lintang.
Sebuah area segitiga dengan tengah membukit seketika terpampang didepan mata Lyra. Pikiran sang dara menjadi kacau terbius kegamangan dan keinginan yang silih berganti meletup-letup di dalam sukma.
Lintang menarik tubuh Lyra untuk kembali berdiri sejajar.
"Peganglah." Ia menuntun jemari lentik Lyra merabai gundukan area segitiga bermuda.
HEMMMH
Lagi-lagi Lintang mema-gut ranum bibir yang seolah tiada habis rasa manis untuk dikecapi.
Sebuah inisiatif dari pengaruh keinginan mendorong Lyra untuk menarik kebawah kain segitiga Lintang. Sang pria membantu agar mudah terloloskan dari tubuhnya.
Mata Lyra terbelalak ngeri saat kembali tangan Lintang menuntun untuk menggenggam mercusuar miliknya. Bukan tanpa alasan, sebab ukuran mercusuar itu terasa ganjil bagi indera peraba Lyra.
"Ehmm, Mas. Kenapha bwesar shekali?" Lyra mengeluh disela pertautan bibir dalam keadaan tubuh yang gemetar ngeri.
"Hadiah buat istri yang sudah kupersiapkan sejak SMA dengan berbagai ramuan ramah lingkungan," candaan Lintang tak membuat Lyra tersenyum.
Sebaliknya, Lyra lebih memilih untuk sejenak mundur dan melihat secara langsung mercusuar yang sudah menjulang tinggi dengan panjang dan diameter diluar rata-rata.
"Hmmp, kenapa sebesar itu?!" Lyra menutup mulutnya demi melihat sesuatu yang diluar dugaan.
..._-_-_...
Babak pertempuran ternyata membutuhkan 2 bab untuk merampungkannya😓
__ADS_1