Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Licik


__ADS_3

POV Author


Butuh waktu hampir 2 kali 24 jam mirip tamu wajib lapor Pak RT, untuk menunggu Bintang sadar kembali. Sebenarnya, pada 24 jam pertama ia telah kembali sadar, namun kondisinya masih sangat lemah dan depresi, perlu 24 jam berikutnya untuk menunggu.


"Bagaimana perasaan Papa?" Lintang mengawali kalimatnya tanpa membahas masalah penyerangan untuk menjaga tingkat emosi Bintang agar tidak langsung melonjak.


"Alhamdulillah Papa selamat. Doa Papa hanya ingin keselamatan kita sekeluarga." Lirih Bintang diatas ranjang kamar rawat inap.


Pagi itu Lintang, Lyra, Alvian, Deo, dan Wulan berkumpul bersama di kamar dimana Bintang dirawat. Sesuai saran dokter Andrian yang juga merupakan teman Lintang sejak kecil, untuk sementara waktu mereka tinggal di rumah sakit agar lebih aman dan menunggu informasi selanjutnya dari tim DZ maupun pihak yang berwajib. Tak lupa Pak Fuad, Pak Zul, dan Bu Dasri juga hadir setelah Lyra mengabarkan kepada mereka melalui Dahlia.


"Lintang dan Alvian, kalian duduklah dekat Papa. Ini terkait Mama dan Linda.." panggil Bintang.


"Pagi itu kami bertiga sedang ngobrol bersama di ruang keluarga. Rencananya, setelah itu kami akan mengajak Linda mengunjungi kantor BTT karena merasa kasihan melihatnya bosan di rumah terus. Namun tiba-tiba kondisi berubah drastis..."


Flashback on


DARR


DARR


BUMMM


Kondisi tiba-tiba mencekam. Suara ledakan pertama berhasil menghancurkan bagian dapur hingga beberapa pembantu meninggal seketika. Ledakan-ledakan berikutnya mulai merembet menghancurkan ruangan lainnya.


Suara beberapa Helikopter mendekat diikuti suara rentetan senjata yang menerjang para penjaga rumah yang ada di luar halaman.

__ADS_1


"Ada apa ini, Pa?" Rani terlihat sangat panik.


Rani dan Linda saling berpelukan dengan tubuh gemetar.


"Kalian tunggu disini, biar aku kedepan melihat situasi!" baru saja Bintang melangkah menuju ruang tamu.


BUKKK


Dua buah tendangan menghempaskan tubuh Bintang hingga tersungkur. Dua orang kulit hitam tertawa sinis.


"Siapa kalian?!" sentak Bintang setelah mampu menguasai keterkejutannya.


"Siapa kami?, hahaha. Bahkan kau sudah lupa dengan sahabatmu sendiri, Bintang!" seorang pria yang sangat dikenal Bintang muncul dari belakang dua pria kulit hitam.


"Hahaha. Hingga setua ini kau ternyata masih saja polos. Kapan kau bisa berubah cerdik sepertiku?" cebik pria bernama Broto.


"Cerdas dan cerdik itu beda. Dan kau, bukan keduanya. Tapi kau licik!" teriak Bintang.


"Ok, aku licik. Tapi sekarang aku menang, hahaha. Dimana anak dan menantumu yang hebat itu?. Mereka sedang aku sibukkan dengan masalah kantor agar tidak melindungimu!" mata Broto membelalak. lebar.


"Jadi semua ini skenariomu?!. Kurang ajar kau, Broto!!" desis Bintang.


"Kurang ajar kau bilang?. Justru kau yang kurang ajar. Papaku, kedua Mamaku, anakku, semuanya kau jebloskan ke penjara. Kau yang brengsekk, Bintang!" bentak Broto marah.


"Kebenaran harus ditegakkan. Tak ada istilah kurang ajar untuk menindak para penjahat seperti kalian!" balas Bintang dingin.

__ADS_1


"Dan tak ada istilah kurang ajar bagiku untuk membalas semua perlakuanmu, hehe. Hari ini lihatlah, rumah dan harta benda yang kau miliki telah hancur. Setelah ini, perusahaan dan keluargamu akan ikut hancur, LEBURRR!!" suara Broto menggema diseluruh ruangan yang kini menjadi puing-puing bangunan.


"Iblis licik!!" maki Bintang emosional.


"Sudah sejak dulu aku memang benci dengan semua usahamu. Manusia sok suci yang menolak ajakanku untuk bermain di dunia bawah tanah. Seandainya saja waktu itu kau menerima tawaranku, tentu kita sekarang sudah menjadi penguasa semua jalur bisnis di negara ini. Bahkan malah menjerumuskanku ke penjara hingga semua usahaku hancur. Sampai matipun tak akan kulupakan semuanya!" ujar Broto dingin.


"Pengawal. Hajar pria bodoh ini dan ringkus kedua wanita itu!" perintah Broto pada pasukannya.


10 Pengawal berkulit hitam maju mengepung Bintang. Perkelahian tak seimbangpun terjadi. Meski Bintang ahli beladiri, fisiknya kini telah menurun. Sedikit demi sedikit Bintang semakin terpojok.


"Papaa!!" teriak Rani dan Linda parau saat melihat tubuh Bintang bagai karung beras yang digebuki lawan tanpa ampun. Bintang tersungkur dengan beberapa bagian tulang patah dan luka tubuh penuh sayatan.


DORRR!!


Satu tembakan dari Broto mengakhiri upaya Bintang untuk kembali berdiri. Ia roboh dengan bersimbah darah.


"Bawa kedua wanita itu!" perintah Broto pada anak buahnya.


"Bandot tua. Maaf, sengaja aku tak membunuhmu dan membiarkan kau merintih kesakitan agar kau bisa mengatakan pada anakmu kejadian hari ini. Katakan pada Lintang, aku meminta semua perusahaan, aset, dan harta kalian untuk ditukar dengan kedua wanita ini!"


"Beberapa hari lagi akan kuhubungi kalian. Satu lagi, jangan coba-coba lapor polisi jika tak ingin kedua wanita ini mati mengenaskan setelah ku-gaga-hi." Broto berikut anak buahnya pergi dengan membawa Rani dan Linda sebagai sandera.


Flashback off


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2