
POV Lyra
Seminggu kemudian aku sudah tidak berada di rumah sakit lagi. Kondisiku cepat membaik berkat perhatian semua orang disekelilingku. Pengacau yang tempo hari datang juga tidak menampakkan batang hidungnya kembali.
Aku bersama Bapak sedang memasuki sebuah rumah yang dijanjikan oleh Pak Lintang. Masih dalam lingkungan satu pagar dengan rumah induk, hanya saja letaknya terpisah dibelakang rumah induk.
Pada bangunan utama, Pak Lintang tinggal bersama kedua orangtuanya, Pak Bintang dan Bu Rani. Mereka sangat ramah dan tidak menunjukkan sebuah kesombongan sedikitpun meski mereka kaya raya dan termasuk sebagai konglomerat kelas wachid.
Rumah induk itu berdiri bak istana. Bangunan dengan karakteristik khas Romawi tersebut berdiri menjulang tinggi dan gagah.
"Yaa Allah, ini sih bukan rumah mungil namanya, Pak. Ini rumah gede!" aku terbengong-bengong saat melangkahkan kaki memasuki rumah dibelakang bangunan utama bersama Bapak dan Pak Lintang.
Dengan jumlah kamar tidur 4, dan rumah yang terdiri dari 2 lantai, tentunya itu bukanlah tergolong rumah mungil bagiku dan Bapak.
Rumah 'mungil' versi Pak Lintang tersebut juga bergaya romawi seperti halnya rumah induk.
__ADS_1
"Rumah ini adalah tempat tinggal untukmu dan Pak Joko mulai sekarang. Tinggallah disini seterusnya jika kalian mau. Rumah kontrakan kalian yang lama sudah dibereskan oleh Alvian dan diakhiri masa sewanya. Sekarang kontrakan kalian adalah disini dengan Lyra bekerja padaku sebagai bayarannya," terang Pak Lintang.
"Jadi saya tidak digaji, Pak?" aku ternganga.
"Hahaha..apa yang kau pikirkan?!. Tentu saja digaji penuh. Rumah ini adalah fasilitas dari kantor. Tenang saja, aku tak berat sebelah. Alvian juga mendapatkan fasilitas rumah tak jauh dari kompleks perumahan ini," lanjut Pak Lintang.
Aku sangat lega. Inilah yang dinamakan 'dibalik segala kesulitan ada keasyikan'. Bapak juga terlihat menitikkan airmata bahagia. Ternyata Pak Lintang tak seburuk yang aku sangka.
Siapa yang bisa menyangka, hanya karena kecelakaan kerja membuatku justru menjadi bahagia.
"Berbenahlah, hari ini kau sudah mulai bekerja. Satu jam lagi kutunggu kau diruang kerja bangunan utama. Oya, jika kau tak sempat memasak untuk Pak Joko, diatas nakas ruang tengah ada telepon. Disana ada kode angka untuk setiap layanan. Ada layanan masakan koki rumah ini, ada bagian laundry, bagian kebersihan, bagian pembenahan rumah, dan bagian apapun lainnya juga tersedia lengkap. Kalian bebas mengakses layanan mereka karena Lyra sekarang adalah asistenku yang otomatis juga merupakan atasan semua pelayan, sama sepertiku." Imbuh Pak Lintang sebelum kemudian berlalu pergi.
Aku terlena hingga kaget saat Bapak mengetuk pintu kamar mandi.
"Lyra, apa yang kau lakukan, Nak. Ini sudah hampir satu jam. Apa kau lupa sudah ditunggu Pak Lintang untuk bekerja?" teriak Bapak dari balik pintu.
"I-iya, Pak. Sebentar.." Aku kelabakan menyelesaikan mandi atau tepatnya memulai mandi karena sebelumnya aku hanya sibuk bermain busa sabun dan berendam.
--
__ADS_1
"Ma-maaf, Pak. Saya telat 5 menit." Aku tergopoh-gopoh menemui Pak Lintang yang sudah menunggu diteras rumahnya.
"Tidak apa-apa. Kau pasti sibuk karena banyak pakaian dan barang-barangmu yang harus dibenahi dirumah baru. Ayo ikuti aku," Pak Lintang untung ga marah, syukurlahh.
Aku terus mengikuti langkah Pak Lintang yang memasuki ruang tamu rumah utama. Disana sudah ada Pak Bintang dan istrinya.
"Permisi, Pak, Bu.." sapaku ramah dan segera melintas hendak mencari ruang kerja Pak Lintang.
"Hei..hei. Mau kemana kau?" panggil Pak Lintang kepadaku.
Aku menjadi celingak-celinguk sendiri karena kini Pak Lintang justru duduk dihadapan orangtuanya.
"Katanya mau kerja, Pak?" tanyaku polos.
"Duduk dulu disini," perintah Pak Lintang yang langsung membuat dingin sekujur badanku.
Ya, aku memang masih minder jika harus berhadapan dengan kaum konglomerat seperti mereka. Aku ini hanya kuli, tak lebih. Dan sekarang aku harus duduk dikursi yang sejajar dengan mereka?. Perutku langsung mulas.
..._-_-_...
__ADS_1