
Putaran sang waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah 3 bulan Lintang dan Lyra menikah. Perjalanan Perusahaan gula juga mulai terlihat kemajuannya setelah dipegang oleh Lyra. Tanpa diketahui sebelumnya, ternyata Lyra memiliki tangan dingin dalam melakukan pengelolaan. Segala yang ia tata menjadi begitu mudah tumbuh dan berkembang dengan hasil yang memuaskan.
"Lintang, Lyra, duduklah sebentar. Papa dan Mama ingin sejenak ngobrol dengan kalian!" Bintang menahan langkah Lintang yang telah dijemput oleh Alvian.
"Jangan lama-lama ya, Pa. Hari ini kami ada banyak janji bertemu klien diluar," pohon Lintang kemudian mengajak istrinya duduk.
"Dasar bocah gemblung. Apanya yang jangan lama-lama?!. Tunda pekerjaanmu disaat orangtua membutuhkan bantuan. Itu kunci dari keberkahan kerja kalian!" tegur Bintang dengan intonasi santai tanpa kemarahan.
"Iya, Pa. Jangan di-judge begitu dong. Lintang dan Lyra sayang kok sama Papa Mama. Hanya saja, terkadang sibuknya pekerjaan membuat kami lalai.." Lintang tertunduk patuh.
"Kami memerlukan bantuanmu untuk menyelesaikan masalah pelik yang Papa Mama alami. Krisis ini sudah berlangsung bertahun-tahun hingga sekarang belum tertangani," ungkap Bintang menatap sedih.
"Kami resah. Tidak enak tidur, tidak enak makan karena kepikiran masalah tersebut.." imbuh Rani membenarkan perkataan suaminya.
"Papa. Kenapa masalah sebesar ini tidak disampaikan ke Lintang?. Jika Papa Mama masih menganggap aku anak kalian, sebaiknya ceritakan apa keluhan itu. Lintang janji akan membantu, bahkan dengan nyawa demi Papa dan Mama," meski tak tahu persis pokok permasalahannya, Lintang tetap berusaha sepenuh hati memberikan motivasi ketenangan.
"Apa kau mampu, Nak?" Rani menatap lekat-lekat putra sulungnya tanpa berkedip.
"Apa Lyra juga siap mendukung suamimu dalam membantu kami?" timpal Bintang berubah pandang pada Lyra.
__ADS_1
"Saya sekarang sebatang kara, Pa. Bagi saya, kalian adalah orangtua kami. Apa yang dilakukan Mas Lintang untuk berbakti pada Papa Mama, saya akan terus mendukung."
"Baguslah kalau begitu," Rani tersenyum lega.
"Ada apa sebenarnya, Pa, Ma?" Lintang sudah demikian tak sabar menunggu penjelasan Bintang.
"Sebelumnya, Papa ingin bertanya. Apa kalian bersedia menunda pekerjaan sementara waktu untuk fokus membantu?" kembali Bintang ingin memastikan kesanggupan mereka.
"Aku melihat sepertinya masalah Papa dan Mama sangat urgent. Ada Alvian dan Linda yang bisa sementara menghandle pekerjaan kami. Katakan saja, Pa, Ma!" keseriusan Lintang muncul sebagai bukti bakti anak kepada orangtuanya.
"Papa dan Mama tidak perlu sungkan," imbuh Lyra sopan.
"Baiklah. Hmmh," Rani menghela napas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Yaa Ampun Papa, Mama!. Ini ga lucu tahu ga?!. Kalian mempermainkan keseriusan kami!" Lintang memijit keningnya.
"No penolakan!" sambar Rani.
"No debat!" lanjut Bintang.
__ADS_1
"Tapi..tapii," Lintang tak habis pikir dengan kemauan orangtuanya yang seperti anak kecil.
Sebaliknya Lyra, tertunduk malu melihat antusiasme kedua mertuanya soal urusan ranjang.
"Ambil cuti, kalian butuh piknik. Lakukan honeymoon kemana terserah!" Bintang menatap tajam sepasang pengantin muda didepannya.
"Kan bisa ditunda jika pekerjaan sudah longgar.." Lintang masih berusaha bernegosiasi.
Pasalnya, untuk memiliki bayi, hal yang paling berperan adalah urusan ranjang, bukan pikniknya, bukan berwisatanya. Goyang Semangka sambil kerja bagi Lintang dan Lyra tak masalah.
"Fokus kalian jika disini adalah kerja, kerja, kerja. Memang sih disini kalian tetap bisa bikin anak. Tapi konsentrasi kalian terpecah. Tapi jika kalian melakukannya ditempat yang jauh dari kesibukan kerja, maka pikiran dan hati akan menjadi fresh!" Lintang dan Lyra sontak tersentak karena Bintang seolah bisa membaca pikiran mereka.
"Ehmm, bagaimana kalau ke Paris?. Ohh Paris, I'm in love. Hahaha," melihat Rani tertawa ceria, Lintang semakin bingung dengan jalan pikiran orangtuanya.
"Belanda menurutku, bercintah sambil mengenang para penjajah, Hahaha." Bintang malah lebih konyol idenya.
"Kemana Lyra?" Lyra kaget saat Bintang melemparkan bola panas padanya.
"Palestina saja, Pa. Bercintah diantara desing peluru tak bertuan!" Lintang seketika terkapar di sofa begitu mendengar jawaban istrinya.
__ADS_1
"Hahahaha..."
..._-_-_...