Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Bravo!


__ADS_3

Acara pernikahan Alvian dan Linda berbarengan dengan pesta pernikahan Lintang dan Lyra berlangsung meriah dan mewah. 4 pesohor dari Bintang Group sedang melakukan perhelatan akbar, patutlah semua karyawan dan keluarga besar menjadi bersuka cita.


"Aku sangat senang, Ma. Tugas kita sebagai orangtua telah kita tunaikan dengan baik. Setelah ini kita hanya tinggal bersantai menanti cucu-cucu kita lahir," Bintang menatap haru istrinya yang semakin terlihat keriput dengan berjalannya waktu.


"Ga kerasa ya, Pa?. Seperti baru kemarin kita menikah. Sekarang tahu-tahu anak kita yang menikah. Waktu berlalu begitu cepat," Rani menanggapi.


"Eh eh, enak saja!. Tugas usai gimana sih?. Ini aku belum nikah lho.." Wulan yang sedari tadi nguping pembicaraan orangtuanya menjadi uring-uringan.


"Hehe..kamu kelamaan sih nikahnya.." goda Bintang.


"Lah..aku kan masih kuliah, Pa!. Gimana sih ahh.." Wulan menghentakkan kaki karena sangat kesal.


"Hahaha, Sayang. Mana kami lupa sih sama anak gadis Mama yang cantik ini?!. Maksud Papa tadi itu usai mengantarkan anak-anak cowok untuk menjadi seorang suami, seorang bapak. Membentuk anak menjadi pemimpin yang baik itu tidak mudah. Makanya Papa sangat senang karena berhasil mendidik Mas Lintang dan Alvian. Kalau kamu kan cewek. Memang juga tanggung jawab orangtua mendidik anak cewek, tapi nanti setelah nikah akan berbeda, baik buruk istri tergantung bagaimana suamimu kelak dalam menjadi pemimpin keluarga!" terang Rani agar tidak terjadi salah paham atas pemikiran Wulan.


(Untuk kali ini Author sengaja melewati scene malam pertama Alvian dan Linda agar tak terkesan menjadi novel vulgar. Mungkin adegan mereka akan diselipkan pada bab-bab berikutnya.)


1 Bulan kemudian..

__ADS_1


Bintang Terang Timur (BTT) sedang menghadapi guncangan. Perusahaan utama Lintang tersebut dituduh telah melakukan penyelundupan narkoba keluar negeri.


Penyidikan demi penyidikan telah mereka lewati dan semakin menyudutkan posisi BTT karena hanya BTT-lah penyuplai tunggal dalam kasus tersebut.


Bintang tahu pasti bahwa mereka sedang dijebak. Permainan yang disusun sungguh rapi dan sulit menemukan celahnya.


"Jika dalam kondisi seperti ini, Lintang dan Alvian sebagai puncak pimpinan di BTT akan terancam. Bisa-bisa mereka akan diseret ke bui karena merekalah penanggung jawab semua kegiatan perusahaan!" wajah Bintang menegang saat melakukan rapat tertutup bersama tim DZ.


"Apa tidak bisa dicari solusi lain, Pa?" Linda terlihat cemas setelah mendengar bahwa suaminya juga akan terseret dalam masalah ini.


"Kita tak memiliki bukti apapun karena barang ekspor sudah lepas dari tangan. Siapa saja bisa bertindak licik dengan mengganti stok kiriman kita atau bisa juga menyelipkan beberapa narkoba kedalam barang kita yang sudah dikirim. Itu diluar kuasa kita!" Bintang tertunduk lesu karena merasa pikirannya begitu buntu.


"Kita akan masih menjalani beberapa sidang bertahap dalam kurun 1 bulan kedepan," ujar Bintang tanpa gai-rah.


"Berarti penentuan terdakwa masih sekitar satu bulan lagi kan ya?" Lyra masih terus bertanya.


"Iya seperti itu kira-kira. Sebenarnya, apa yang kau pikirkan, Nak?" Bintang menatap Lyra dengan segudang tanda tanya dikepala.

__ADS_1


"Papa masih ingat project dari negara yang menyangkut transaksi narkoba?, waktu itu ditunda karena peningkatan pasal.." Lyra mengajak semua untuk berpikir mundur.


"Iya, kenapa?" Bintang masih belum paham arah pembicaraan Lyra.


"Oh aku tahu!. Kita minta negara membuka kembali project itu. Kita kemudian bergerak dalam mode senyap untuk menyelidikinya dan menemukan pelaku. Benar begitu, sayang?" Lintang cepat menangkap maksud dari Lyra meski belum terlalu paham alurnya.


"Benar, Mas."


"Tapi yang masih belum aku pahami, apakah pelakunya akan sama dengan kasus yang sekarang?" lanjut Lintang.


"100% sama." Jawab Lyra yakin.


"Apa pertimbanganmu?" Lintang semakin tertarik.


"Motif sama, korelasi antara keduanya juga saling menguatkan. Logika sederhananya, kasus penyelundupan narkoba ke luar negeri bukanlah kasus ringan. Itu artinya, hanya ada sedikit otak yang mampu melakukannya. Dalam kurun 1 tahun, sangat kecil kemungkinan jika ada 2 otak besar dalam kegiatan yang sama. Dalam kolam kecil, hanya bisa ditempati 1 ikan besar!" semua menatap ke arah Lyra tanpa berkedip.


"Luas biasa. Bravoo!! itu jawabannya. Ya Allah Terimakasihhh atas petunjuk yang Kau titipkan melalui menantuku," Bintang mengambil sikap sujud syukur karena begitu gembira.

__ADS_1


Semua masih tercengang dengan pemikiran Lyra yang sangat sistematis dan cerdas. Semua akhirnya paham kenapa Lyra disebut bertangan dingin selama mengelola perusahaan gula. Ternyata seperti inilah jawabannya.


..._-_-_...


__ADS_2