
POV Author
Di ruang rapat BTT..
Deo menerima telepon dan seketika memucat. Mulutnya bergetar hebat, "Astaghfirullah, Pak Lintang. Gawattt!!" Deo berdiri didepan meja rapat dengan tubuh lemas.
"Apa yang terjadi, Deo?" Lintang berdiri dari tempat duduknya.
"Ter-terjadi penyerangan di rumah u-utama!" Deo gemetar hebat.
"Yaa Allah!. Kita telah terperdaya. Ini skenario mereka dengan membuat kita sibuk oleh permasalahan perusahaan dan mengendurkan konsentrasi pada urusan lain. Deo, siapkan seluruh tim DZ. Kita kerumah sekarang juga!" Lintang berlari cepat kearah lift diikuti yang lainnya.
"Aduuhh gimana ini?. Istriku sedang ada disana.." wajah Alvian merebak sendu.
"Jangan mengharu biru seperti itu. Orang tuaku juga sedang berada disana. Mari kita berdoa agar mereka selamat dari segala sesuatu!" desis Lintang sedikit jengkel melihat ego Alvian yang tiba-tiba menguasai hati dan pikirannya.
"Tapi istriku sedang hamil. Dia lemah dan tidak pandai berkelahi!" Alvian justru semakin panik.
"Kau kira Mama juga tidak lemah?. Lebih rasional dong kalau berpikir. Jangan berat sebelah seperti itu!" bentak Lintang.
"Rasional kau bilang?. Kami baru menikah. Bahkan anak saja belum lahir. Kamu tak tahu bagaimana perasaanku!" Alvian kalut, wajahnya memerah.
"Ahh sudahlah!!. Istri masih bisa cari lagi. Tapi orangtua tak akan tergantikan oleh apapun!" Lintang sengaja menyentil Alvian.
__ADS_1
BUGGHH
Dengan penuh emosi Alvian meninju perut Lintang. Ia tak terima jika Lintang mengabaikan Linda seolah tak penting.
Lintang mundur terdorong beberapa langkah kebelakang karena tak menyangka jika Alvian akan menyerangnya didalam lift.
"Pukullah lagi sesukamu!. Ribut hanya karena 1 cewek. Kurasa otakmu sudah bergeser dari tempatnya!" cibir Lintang semakin memancing amarah Alvian.
BAKKK
BUGGHH
BUGHH
"Kau tak tahu bagaimana menderitanya aku. Aku hidup sebatang kara di dunia ini. Orangtua, aku tak punya. Baru saja aku merasa bahagia karena memiliki pendamping hidup dan merasa tak sendiri lagi. Tapi kau menghancurkan anganku!" teriak Alvian tersedu.
"Cukup, Vian!"
BUGHH
BUGHHH
BUGH
__ADS_1
Tiga pukulan Lyra nelesak ke perut dan dada Alvian.
"Kamu sadarlah. Tenangkan dirimu. Apa kau tahu, Mas Lintang sedari tadi tak membalas pukulanmu?. Dan aku justru yang membalasnya karena masing-masing kita membela pasangan. Tak ada orang yang rela melihat pasangannya menderita. Tapi berpikirlah dengan jernih, Vian!. Justru aku yang lebih sebatang kara daripada kamu. Kau masih punya sepupu, paman, dan bibi. Aku punya apa??!. Kita semua mengkhawatirkan Linda, Papa, dan Mama. Tapi kau hanya memikirkan Linda, Linda, dan Linda. Kau mengabaikan kebaikan semua anggota keluarga selama ini!" Lyra meraung galak.
BRUKK
Alvian jatuh terduduk di lantai lift dengan airmata bercucuran.
"A-aku..aa..ku,"
"Bu-bukan begitu maksud-ku. Arghhh aku pusing.." Alvian menangis pedih.
"Ma-af kan aku, Kak. Bukan itu maksudku. Bodoh! dasar aku bodoh!!" Alvian memeluk kaki Lintang dengan terisak, sebentar kemudian ia memukuli kepalanya sendiri dengan keras.
"Vian..Vi-an. tenanglah!" Lintang cepat berjongkok dan memeluk tubuh Alvian yang bergetar.
"Dek Vian.." Wulan ikut berjongkok dan ikut memeluk Alvian.
"Menangislah sepuasmu jika itu bisa mengurangi beban pikiranmu. Kami semua akan berjuang demi keluarga besar kita. Tak terkecuali Linda atau bahkan para pembantu di rumah sekalipun. kita semua adalah satu." Bisik Lintang pada Alvian.
"Dek. Jangan seperti ini. Kami semua sayang padamu, pada Linda. Jangan biarkan ego menguasaimu!" Wulan ikut angkat bicara.
"Tinggalkan saja pecundang itu disini. Masalah besar terjadi pada keluarga kita. Segera bergegas, atau kita akan kehilangan semuanya!" Lyra berlari keluar saat pintu lift mulai terbuka.
__ADS_1
..._-_-_...