Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Dijodohkan


__ADS_3

POV Author


Sudah lima bulan sejak kepergian Lyra, namun Lintang tak mampu menemukan keberadaan kekasihnya tersebut.


Berbagai tempat telah didatangi, baik itu kontrakan lama Pak Joko, Vila danau tiga warna, bahkan Lintang sampai mendatangi rumah para tukang bangunan yang dulu sempat menjadi tim kerja Lyra saat masih menjadi kuli, namun semuanya nihil. Lyra seperti sengaja menutup rapat semua informasi yang berkaitan dengan dirinya.


Lintang sudah seperti orang hilang ingatan. Tubuhnya yang atletis kini nampak kurus. Rambutnya ia biarkan tumbuh liar hingga memanjang seperti rocker. Lintang sudah malas berangkat bekerja, beruntung ada Alvian yang berkoordinasi dengan Bintang untuk tetap menjalankan Perusahaan yang ada.


"Lintang,"


"Apa sih, Oma.." wajah Lintang kini berubah dingin seperti Papanya.


"Apa kamu tidak bosan dirumah terus?" tanya Riana.


"Ya kalau Oma bosan, balik aja sana ke London. Lagian kenapa sih Oma ga pulang-pulang?, betah banget disini." sinis Lintang tak peduli jika Riana bakal marah.


"Dasar anak nakal. Tega kamu mengusir Oma?" sembur Riana.


"Ya harusnya Oma sadar diri, disini aku butuh ketenangan akibat ulah Oma." Lintang tak mau mengalah.


"Ahh dasar linglung. Ditinggal begitu saja udah klepek-klepek sepeeti ikan kekurangan air. Yang tangguh dong jadi laki-laki," Riana tetap saja meladeni.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita sekarang jalan-jalan. Antar Oma membeli keperluan di supermarket. Nanti Oma traktir Pizza deh," rayu Riana mencoba mempengaruhi.


"Males ah. Sama sopir kan bisa," tolak Lintang.


"Anak bodoh. Siapa yang gandeng Oma saat belanja. Kalau Oma jatuh gimana?" rajuk Riana.


"Kalau jatuh ya bangun sendiri. Susah amat!" Lintang tak peduli.


"Kamu tega lihat Oma masuk rumah sakit?" Riana terus memaksa.


"Ya sudah, ayo ayo. Bawel amat sih. Jangan lama-lama. Dan tidak perlu mampir Pizza segala. Belanja terus pulang!" Lintang terpaksa mengalah demi melihat Nenek-nenek kekanakan tersebut.


--


Selesai dari rak bahan makanan, kini Riana berpindah pada rak kosmetik.


"Heleehh, sudah tuwir aja banyak gaya," desis Lintang.


Rak pakaian dalam adalah yang paling menyebalkan bagi Lintang. Bagaimana dia harus membantu memilih ****** ***** dan bra untuk wanita yang sudah expired?. Belum lagi Riana juga memilih warna-warna ABG seperti pink, merah terang, dan sejenisnya. Membuat Lintang menekuk wajah karena menjadi pusat tontonan para ibu-ibu muda dan gadis yang yang juga berbelanja pakaian serupa.


"Sebentar, Oma haus. Kita minum sebentar di food court itu,"

__ADS_1


"Hahhh..menyebalkan!" kembali Lintang menuruti permintaan Riana setelah usai berbelanja.


"Minum langsung glek glek glek gitu apa tidak bisa ya Oma?. Lama banget perasaan," Lintang merasa tak nyaman.


"Baru juga duduk," sungut Riana.


"Eh Jeng Riana. Kok bisa ketemu tidak sengaja begini," seorang nenek-nenek lainnya tiba-tiba menyapa Riana.


"Lho Jeng Wiwik, dari mana?" Riana menyambut disusul bercipika-cipiki.


"Oh iya hehe, tadi belanja sebentar. Ini cucunya, Jeng?" Wiwik duduk begitu saja dihadapan Lintang.


"Iya, ini Lintang yang aku ceritakan waktu itu. Eh apa cucunya Jeng wiwik jadi kita jodohkan dengan Lintang?"


DUERRR


KEWERR KEWERR


"Oma!! Apa-apaan sih?!" Lintang terlonjak marah.


"Sstt, duduk dulu yang manis. Dengarkan dulu," Riana menenangkan.

__ADS_1


"Kebetulan cucuku tadi ikut, Jeng. Sebentar saya panggilkan. Lianaa, sini kamu!"


..._-_-_...


__ADS_2