
POV Lyra
"Lin, sekian minggu aku bekerja sebagai asisten Pak Lintang, tak ada sedikitpun kegiatan Pak Lintang yang berbau ilegal seperti yang kamu bilang dulu. Bahkan setiap jadwalku yang kucocokkan dengan jadwal Pak Alvian, hampir tak ada ruang bagi Pak Lintang untuk melakukan kegiatan selain kegiatan perusahaan. Ada beberapa perusahaan yang memang dihandle Pak Lintang, itupun juga dalam pendampinganku, namun semuanya putih." protesku pada Linda.
"Benar. Semakin kesini gue juga mengamati. Terus terang gue juga ragu dengan apa yang gue bilang dulu," Linda mengamini.
"Jangan-jangan informasi dari temanmu itu salah?!. Siapa sih yang bilang seperti itu?" tanyaku penasaran.
"Yudha dan beberapa rekan kerja lainnya," jawab Linda dengan wajah ragu.
"Yudha?, pria songong bin sombong itu?!. Ah kalau memang informasi datangnya dari dia, aku sangsi," cebikku.
"Ehmm..kalau memang informasi itu salah, boleh dong lu lanjut ama Pak Bos?" alis Linda bergerak-gerak menggodaku.
"Lanjut gimana maksudmu?" tepisku pura-pura tak tahu.
"Dulu kan lu bilang masih dalam tahap kagum. Nah saatnya meningkat ke tahap berikutnya, hahaha." goda Linda berlanjut.
"Ciee yang udah duluan ke tahap berikutnya ama Pak Vian..cari pendukung, Bu?" aku membalik keadaan.
Enak saja main serang, noh aku serang balik. Mampius kau Linda, hehehe.
"Lho, kok jadi gue sih. Kan pokok bahasannya di elu!" Linda dong berusaha menghindar.
"Sengaja kamu mah. Fokusin bahasan ke aku, biar kamu bisa melenggang santai bareng Pak Vian tanpa dicurigai. Iya kan?!" hahaha rasain tuh serangan balik nan membabi-buta.
"Eh Lyra, jangan gitu dong. Kalau kedengeran Pak Lintang kan jadi berabe," wajah Linda sontak menghiba.
__ADS_1
"Kamu ngaku dulu, baru aku bisa ambil sikap!" nih nih nih jebakan lubang tikus namanya, haha.
"Ngaku apaan?!" Linda berusaha bertahan.
"Ya terserah, ngaku apa. Aku sih mana tau. Kan kamu yang ngejalanin," PPG (pura-pura gila) deh akunya.
"Haistt jadi runyam, ahhh.." Linda jadi kesal sendiri.
"Harus ngaku gimana sih, Lyraaa?!. Gue tuh belom ada hubungan apapun ama Pak Alvian. Yaudah deh gue cerita. Awalnya kan kita saling panggil 'Pak' dan 'Bu', nah karena merasa tak nyaman akhirnya kita sepakat ngilangin sebutan itu. Jadinya ya gue panggil 'Kak' dan dia manggil gue langsung nama tanpa embel-embel 'Bu'. Gitoohh!" klarifikasi Linda.
"Ooh belum ada hubungan, kalau belom berarti mau. Kecuali kalau tadi bilangnya 'tidak ada hubungan'." Aku masih saja ngeyel.
"Udah deh, lu malah kemana-mana ngomongnya." Linda berlalu masuk menemui Bapak, meninggalkanku diteras rumah mungil.
DRTTT
muncul sebuah pesan WhatsApp di handphoneku. Atau tepatnya handphone yang dibelikan Pak Lintang karena tak tega melihat handphone bututku sudah mangap backdoor nya.
💬Lyranova sang primadona dadakan.
^^^🗨️Siapa ini?^^^
💬Tak penting siapa aku. Yang lebih penting adalah selamatkan dirimu!
^^^🗨️Hah, Maksudnya?^^^
💬Menjauhlah dari Lintang. Carilah pekerjaan lain yang tidak ada hubungan dengan keluarga Bintang Group, maka kau selamat!
__ADS_1
^^^🗨️Kenapa?^^^
💬Ya ga kenapa-napa
^^^🗨️Kalau ga kenapa-napa, ngapain ngelarang-larang?^^^
💬Biar kamu selamat
^^^🗨️Ulangtahunku masih lama^^^
💬Bukan selamat ulangtahun🤬
^^^🗨️Lalu?^^^
💬Arggh udah deh bikin pusing. Yang jelas kau sudah kuberi peringatan.
^^^🗨️Peringatan hari kemerdekaan?^^^
💬Tololl, Begoo
^^^🗨️Ooh peringatan atas ketololan dan kebegoanmu?^^^
💬#-$()?_+?#)#+_-_+(_/\=€\=£
^^^🗨️🤣🤣🤣^^^
Dasar orang aneh. Harusnya dia yang jaga diri jika aku yang mengawal Pak Lintang!. Ngawur aja kalau ngomong ah.
__ADS_1
..._-_-_...