Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Khayalan tingkat tinggi


__ADS_3

POV Author


Persiapan acara pernikahan yang mendadak, membuat semua kerabat terdekat menjadi kalang kabut. Semuanya berkerja bahu membahu demi terlaksananya acara tersebut. Meski acara tersebut bisa dibilang semi resmi karena hanya dipandu oleh penghulu tanpa penerbitan surat nikah pemerintah, namun bukan berarti acara itu menjadi biasa saja. Resmi atau semi, tetap saja Bintang menginstruksikan kepada semua agar serius menanganinya. Terlalu mepetnya waktu memang tidak cukup jika harus melalui pengajuan resmi ke KUA pemerintah.


Tak terkecuali bagi Alvian dan Linda yang baru mendarat bersama Bintang serta Rani menggunakan Helikopter ke 2. Mereka ingin ikut melibatkan diri dalam kesibukan persiapan acara penting tersebut.


Alvian sibuk membantu tim dekorasi. Keahlian seni rupa dan handycraft Alvian sangat bermanfaat untuk kegiatan dekorasi. Disisi lain, kemampuan memasak Linda yang tergolong bagus, dibutuhkan oleh Bu Dasri untuk kegiatan tim konsumsi. Praktis keduanya langsung sibuk dengan tugas masing-masing.


Sore harinya, Alvian tampak duduk bersantai melepas lelah didepan gedung pabrik. Tak seberapa lama datang Linda yang mencari keberadaan Alvian.


"Capek, Kak?" Alvian sejenak menoleh ke arah datangnya suara.


"Hemhh. Capek atau tidak, kita harus terus bergerak. Bos Lintang itu tak hanya pimpinan bagiku. Dia adalah sepupu dan sahabat terbaikku. Sangat picik jika aku tak sepenuh hati membantunya," Alvian menghela napas.


"Betul. Aku juga begitu. Meski baru kenal Lyra saat di dunia kerja, aku seperti merasa begitu dekat dengan gadis pemberani itu. Dia tak hanya bisa menjadi sahabat, ia mampu memposisikan diri layaknya saudaraku. Dan lagi, aku sedih dan kasihan melihat perjalanan cinta dua orang tersebut. Penuh airmata dan perjuangan," Linda sependapat dengan Alvian.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kita?" pancing Alvian.


"Setelah acara ini, aku mau dilamar secepatnya!" Linda mengembungkan pipi.


"Kapan-kapan aja ya.." goda Alvian iseng.


"Kok kapan-kapan sih uhh!. Aku juga pengen dong nikah seperti Lyra. Ish gimana sih Kak Vian ini!" sambar Linda dengan cemberut.


"Hahaha..kalau manyun gitu, kamu semakin menggemaskan tau ga!. Pengen aku gigit aja tuh bibir, hehe.." Alvian terkekeh.


"Me-sumnya aja digedein. Nikahnya dibelakangin!" sembur Linda jengkel.


"Uluhh uluhh, calon istriku ngambek ni yeeh. Hahaha. Iya iya tenang saja. Setelah mereka nikah, gantian mereka kita bikin sibuk membantu kita," jika tak ditempat umum, mungkin Linda sudah diterkam Alvian yang begitu gemas melihat Linda yang uring-uringan.


"Awas aja kalau ga jadi. Biar aku dorr aja itu perkutut gede!" ancam Linda sadis.

__ADS_1


"Waduh waduh. Sadis amat, Neng. Eh tapi emang beneran gede ya?! Hahaha," Alvian tak ada bosannya menggoda Linda.


"Bodo." Linda membuang muka kesal meski sebenarnya itu untuk menutupi rasa malunya karena merinding membayangkan tongkat sakti Alvian yang ukurannya tidak normal.


"Emang lembah kamu bisa muat?" Alvian masih saja melancarkan aksinya.


"Justru Kak Vian yang bakal klepek-klepek kejepit lembah berkedut milikku. Paling ga sampai 5 menit udah muntah tuh perkutut!" akhirnya dengan berani Linda membalas perkataan Alvian.


"Halahh, sok iyes. Kita lihat saja nanti siapa yang bakal minta ampun. Atau mau di DP sekarang dulu biar ga penasaran?" pancing Alvian me-sum.


"Ga usah ngayal deh. Urusan Lyra dan Pak Lintang aja belum kelar, udah mau enyak-enyak aja. Dasar perjaka ca-bul bin me-sum!" cebik Linda seolah tak suka.


"Ohh, jadi beneran ga minat nih sama tongkat saktiku?"


"Kak Viannn..sudah, diemm!!"

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2