Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Kesepakatan


__ADS_3

Siang yang sangat panas. Suhu udara hampir mencapai 40° Celcius. Sebuah hari yang berat untuk bekerja, terutama pekerja kasar seperti aku beserta tim tukang.


Hari ini tepat satu minggu aku beralih tugas sebagai kuli bangunan. Kali ini tugas pembangunan adalah mendirikan gudang ketiga tepat disamping gudang yang sebelumnya aku pernah bekerja sebagai kuli panggul disana.


Aktifitas rutinku adalah memanggul karung semen, memindahkan bata ringan, dan menyiapkan adukan semen untuk digunakan oleh tukang bangunan. Disamping itu ada tugas kecil lainnya seperti memindahkan pasir menggunakan gerobak, Mengikat kawat untuk besi cor, memotong keramik, dan sebagainya. Kesemuanya kukerjakan dengan senang hati. Aku bukan wanita yang gemar mengeluh. Kerasnya pendidikan beladiri telah membentukku menjadi wanita yang tangkas, kuat, dan pemberani meski aku juga harus tetap tidak boleh meninggalkan sisi femininku sebagai kodrat wanita.


Sedang sibuk-sibuknya mengaduk semen, datanglah seorang pria yang kukenal.


"Pak Vian," sapaku ramah.


"Hi, Lyra. kerja bagus. Aku bangga melihatmu!" Pak Alvian tersenyum sembari mengacungkan dua jari jempolnya.


"Bapak ditugaskan untuk sidak ya?" aku tersenyum jahil.


Namun Pak Alvian hanya diam saja tak menggubris. Sebagai ganti jawabannya, muncul si kejam CEO dari balik dinding.


"Yaelah, Simpanse kurap juga ikut. Menyebalkan," batinku dan bersegera pergi membawa timba berisi adukan semen.

__ADS_1


"Woy Lyra, mau kemana?" panggil Simpanse kurap alias CEO kudisan.


Aku tak bergeming, terus saja aku melangkah tanpa mengindahkannya.


"Begitu ya cara karyawan menyambut pimpinannya yang sedang berkunjung?, wow ramah sekali. Aku merasa terhormat.." lanjut Pak Lintang.


Aku segera menghentikan langkah dan menatapnya tajam.


"Bapak yang tidak tahu waktu. Ini jam kerja, kenapa malah mengganggu?. Nanti kalau menyalahi peraturan kerja, saya ditegur lagi sama CEO!" semprotku dengan pedas.


"Oh begitu ya. Baiklah, maaf. Aku hanya ingin bertanya sebentar," Simpanse kurap tersenyum sinis.


"Wahhh, galak sekali kamu nona. Hanya sekedar memastikan, apa kamu nyaman bekerja disini?. Kalau sudah tidak kuat, lambaikan saja tangan ke kamera, Hahaha."


Simpanse kurab, monyet butut, barongsai imitasi, tumis mercon..mulutnya itu minta distaples rupanya. Ish sebel, sebel, sebelll. Yaa Allah berikan hamba kesabaran. Hamba harus bersabar demi Bapak dirumah.


"Pak Lintang mau bertaruh?" tantangku sambil berusaha menenangkan diri akibat emosi.z

__ADS_1


"Bagaimana tata cara dan bayarannya?" eh di terima dong tantanganku.


Dasar pria ga punya perasaan.


"Beri saya waktu satu bulan disini. Jika saya masih bertahan, maka Bapak harus menaikkan gaji saya 3 kali lipat. Namun jika saya terbukti tidak kuat, maka saya akan menuruti semua perintah Bapak asalkan tidak untuk berbuat maksiat seperti mabuk atau berbuat mes*um!" ucapku dengan penuh keberanian.


"Ok. Tapi ada syaratnya," ucapan Pak Lintang membuat keningku berkerut.


"Kau harus bekerja dalam satu bulan tanpa bolos ataupun ijin tidak masuk kerja lainnya, kecuali hari libur. Jika ada satu hari saja kosong, maka saya anggap kau sedang tidak masuk karena tidak kuat dan butuh beristirahat!" ungkap Pak Lintang.


"Baik. saya setuju," sambutku lantang.


"Deal, tanpa interupsi." Pak Lintang mendekat berusaha menjabat tanganku.


"Mundurr!. Jangan cari kesempatan meraba tangan cewek dengan kedok jabat tangan. Lagipula tangan saya kotor terkena semen dan pasir, nanti Bapak bisa kena tetanus." Dengan berani kutolak ajakan jabat tangannya.


Sebenarnya sangat tidak sopan jika menolak jabat tangan dengan Pimpinan. Tapi sudah kepalang tanggung. Aku terlanjur bercitra buruk baginya.

__ADS_1


"Baiklah gadis kecil. Mari kita mentaati apa yang sudah disepakati. Satu lagi, jangan ceritakan kepada siapapun." Dia membalik badan, kemudian melenggang pergi.


..._-_-_...


__ADS_2