Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Adek


__ADS_3

POV Lyra


Acara bertemu klien siang ini terpaksa Pak Lintang datang bersamaku karena Pak Alvian juga sedang menemui calon rekanan di kantor pusat.


"Kedepannya kau tidak hanya sekedar asisten saat aku bekerja dirumah, Alvian sekarang telah naik jabatan sebagai wakil CEO. Secara otomatis dia akan sepenuhnya menghandle perusahaan menggantikanku. Aku akan lebih fokus pada perusahaan kami lainnya agar mampu berkembang lebih pesat seperti perusahaan yang dijalankan Alvian." Terang Pak Lintang saat mobil yang ia kemudikan membelah jalanan menuju sebuah restoran dimana kami memiliki janji bertemu klien.


Pak Lintang lebih suka mengemudikan mobil sendiri dibanding membawa driver. Hal ini sempat kutanyakan padanya, dan dia menjawab bahwa ia tak ingin terlihat ongkang-ongkang kaki dalam mobil seperti seorang raja. Terkecuali jika perjalanan jauh ke luarkota ataupun dia sedang kurang sehat.


Kami memasuki area parkir restoran saat handphoneku berbunyi.


"Maaf Bu Lyra, terpaksa kami mengundur acara bertemu dengan Pak Lintang karena mendadak suami saya dilarikan kerumah sakit karena serangan jantung. Saya akan menghubungi kembali jika keadaan sudah membaik," suara dari seberang telepon.


"Baik, Bu. Akan saya sampaikan kepada Pak Lintang. Semoga Pak Margono segera sehat kembali seperti sediakala," jawabku sopan.

__ADS_1


Saat kusampaikan berita mendadak ini pada Pak Lintang, nampak rona kekecewaan dari wajahnya. Meski memaklumi, namun perjalanan ketempat ini tidak bisa dibilang singkat. Rumah Pak Lintang di sebelah barat kota dan letak restoran di sebelah timur kota memakan waktu hampir 2 jam perjalanan karena terhalang macet dan sebagainya.


"Terlanjur sampai sini, kita makan dulu deh daripada dongkol," Pak Lintang turun dari mobil dan melangkah sedikit gontai.


Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah orang nomer dua di Bintang Group itu tanpa tahu harus berkata apa. Ingin menghibur, namun kami hanya atasan dan bawahan. Apalagi aku masih merasa canggung jika harus berdua saja dengan Pak Lintang.


"Pilihlah makanan yang kamu suka, jangan ditahan, jangan sungkan-sungkan. Siang ini sejenak kita lepas atribut kerja. Kita adalah teman seperti halnya kau dan Linda," kalimat pertama yang terlontar dari mulut Pak Lintang ketika kami baru saja duduk sungguh membuatku terperanjat.


"Ehmm anu, Pak. Saya ini orang rendahan. Kuli kasar yang biasanya hanya berteman dengan rasa lapar dan keringat. Saya tak berani, Pak. Sungguh tidak etis bagi saya," jujur aku menjadi serba salah.


"Kau tahu kan jika aku sedang pusing karena gagal bertemu klien. Apa kau tidak bisa sejenak mendinginkan kepalaku dengan menuruti ucapanku?" kalimat lugas itu terkirim khusus padaku.


"Ma-maaf, Pak. Sa-saya hanya khawtir lancang dan tidak sopan," aku benar-benar takut.

__ADS_1


"Dan satu lagi. Jangan lagi bahas kuli, kuli, dan kuli. Itu hanya masa lalu untuk dikenang. Bukan sebagai hambatan untukmu melompat lebih tinggi. Kau sekarang adalah asisten CEO, dan otomatis derajadmu sudah berubah!" satu lagi kalimat tajam menghujam relungku.


"I-iya, Pak. Ma-maafkan saya," aku hanya bisa menunduk menyesali kesalahan ucapanku diawal tadi.


Aku harus berubah agar Pak Lintang tidak kecewa dan semakin marah. Harusnya aku bersyukur dan berterimakasih pada Pak Lintang karena sudah mengentaskan kehidupanku dan Bapak. Bukan malah membuatnya kecewa. Bodohnya aku!.


"Ba-baik, Pak. Kita bisa berteman diluar pekerjaan," kuperbaiki kesalahan itu.


"Apa kamu terpaksa mengatakannya?, apa itu tulus?" Pak Lintang memicingkan mata.


"InsyaAllah saya sepenuh hati, Pak. Bukan terpaksa ataupun sejenisnya," imbuhku.


"Baiklah. Aku menerimanya. Sekarang kau panggil aku 'Mas' dan kupanggil kau 'Adek',"

__ADS_1


"Apaa?!"


..._-_-_...


__ADS_2