
Setelah project didalam genggaman DZ, Lintang segera membuat aturan dan pembagian tim.
"Kita akan menamakan operasi ini dengan sandi 017. Tim utama yakni penyelidik dan penyusup tetap dipegang Lyra dan Deo. Tapi aku tidak mau ambil resiko. Penjagaan lapis kedua harus benar-benar diperhatikan. Linda akan memimpin 7 penembak runduk sekaligus untuk berjaga dari atas gedung tinggi di sekitaran club malam. Alvian memimpin tim penyergapan juga harus stand by didekat lokasi. Yosi, Damar, Sulthon, Joni, dan Mukidi, kalian ikut menyamar masuk dalam tim yang terpisah dari Lyra untuk mengawal tim utama. Mungkin ada pertanyaan sebelum kita berangkat malam ini?" semua tim mendapatkan pengarahan dari Lintang selaku pemimpin utama DZ dibawah Bintang.
"Bagaimana dengan tim Monitor, IT, dan pelacakan?" Deo yang terbiasa sebagai tim pelacakan, angkat bicara.
"Tim monitor dan pelacakan akan aku pimpin sendiri. Sekaligus sebagai tim penyergapan kedua untuk membackup tim dari Alvian. Semua tim teruslah bergerak mengikuti mobilitas tim utama," jelas Lintang.
"Kecuali tim Lyra dan tim Yosi, semua gunakan pakaian tempur lengkap dan juga penutup kepala. Posisi BTT sedang dalam pantauan. Jangan sampai wajah kita terlihat oleh publik dan menimbulkan kesimpulan prematur!" imbuh Lintang memberi komando.
--
__ADS_1
Deo dan Lyra baru saja tiba di ruang rapat club malam saat semua sedang berdiri dan akan pergi meninggalkan ruangan.
"Apa kami ketinggalan agenda hari ini?" Deo menghentikan langkah mereka.
"Kita akan segera bergeser ke gudang penyimpanan. Disana adalah pusat dari stok utama barang yang nantinya akan diecerkan ke kita dan dikirim ke luar negeri dalam jumlah besar. Bos besar sudah menunggu disana!" terang salah satu anggota rapat sambil melangkah pergi.
Bergegas Deo dan Lyra mengikuti langkah semua orang yang turun ke lantai 1, kemudian berlanjut keluar memasuki sebuah bus mini yang sudah menunggu di belakang club malam.
"Semua siaga dan ikuti aku!" bisik Lyra melalui wireless earphone.
semua anggota tim DZ bergerak serentak dalam kesiagaan penuh karena tak ingin tim Lyra lepas dari jangkauan mereka.
__ADS_1
"Oh aku tahu kemana mereka akan berhenti. tim Yosi, tetap ikuti Deo dan Lyra. Sisanya ikuti mobilku melalui jalan tikus agar kita lebih dulu sampai disana dan segera bisa stand by mengawasi!" Perintah Lintang yang langsung bisa didengan semua anggota tim termasuk Lyra melalui wireless earphone.
Malam sudah mendekati dini hari. Gelapnya area jalanan yang gersang dipenuhi ilalang, membuat kondisi cukup mencekam. Gudang penyimpanan berlokasi sangat jauh dari pemukiman warga. Disekelilingnya hanya ada hamparan tanah tandus dan beberapa rumah lapuk tak berpenghuni. Siapa yang akan menyangka jika didalam gudang tersebut bersembunyi bos mafia besar yang memimpin arus bawah tanah.
"Saat Lyra telah turun dari bus, tim Yosi segera merapat dan masuk ke dalam kumpulan mereka. Aku pikir mereka tak akan curiga dengan bertambahnya 5 orang dalam rombongan. Semua siaga 1. Kita tidak hanya akan melakukan penyelidikan. Malam ini akan terjadi pertempuran besar!" nada suara Lintang benar-benar serius.
"Alvian, hubungi Papa dan Wulan untuk datang membawa pasukan tambahan!" ucap Lintang masih melalui wireless earphone.
"Siap Bos." sahut Alvian.
"Linda. Disini tidak ada gedung tinggi sebagai tempat untuk para penembak runduk. Jadi, gunakan bangunan tua dan ilalang yang tinggi sebagai tempat untuk tim-mu!" suara Lintang kembali terdengar.
__ADS_1
"Tim penembak runduk, in a position!" jawab Linda tegas.
..._-_-_...