
POV Author
"Ternyata keluarga mereka semuanya benar-benar licik. Semoga Mama dan Linda baik-baik saja ditangan mereka!" tatapan Alvian penuh amarah.
"Tenang saja, Vian. Jika perhitunganku tepat, mereka tak akan memperlakukan Mama dan Linda dengan buruk karena akan digunakan sebagai alat tukar." ujar Lintang menenangkan sepupunya.
"Apa rencana kita, Kak?" tanya Wulan ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Lintang.
"Menukar dengan perusahaan, itu tak mungkin. Itu artinya kita menyerah pada pengaturan Broto. Kita akan berpura-pura kooperatif untuk menuruti kemauannya. Datang, serang, dan pulang!" tegas Lintang tanpa basa-basi.
"Ada strategi khusus?" Deo memicingkan mata.
"Tidak ada. Kita menyerang dengan sepenuhnya kekuatan demi orang-orang yang kita sayangi. Hanya akan ada beberapa pembagian kecil tim untuk posisi masing-masing. Mengenai polisi, sampaikan bahwa DZ akan menangani penuh kasus ini. Satu lagi, datangkan seluruh tim Jimmy dan Ronald dari Amsterdam. Kita akan bertarung habis-habisan kali ini!" lanjut Lintang.
KRINGG...
__ADS_1
"Ya, hallo.." Lintang mengangkat panggilan telepon.
"Hallo anak muda harapan bangsa. Tentunya kau sudah mendengarkan cerita dari Ayahmu. Tak perlu panjang lebar. Bawa semua akta perusahaan, data aset dan dan harta, serta surat kuasa pemindahan kepemilikan untuk atas nama Leonardo Subroto. Pergilah ke Jalan Belanda di timur kota, besok malam pukul 19.00. Setelah sampai disana, aku akan memandu arah selanjutnya!" ucap Broto.
"Pastikan Mama dan Adikku baik-baik saja!" balas Lintang singkat.
"Hahaha tenang saja. Aku bukan jenis orang yang tak bisa menjaga mutiara berharga. Besok pastikan kau datang sendiri. Jangan bertindak bodoh!" sambung Broto.
"Dengan sopir dan asisten?" Lintang mencoba bernegosiasi.
"Cukup sopir saja!" Broto menutup teleponnya.
"Vian, buka gudang senjata bersama Wulan. Pastikan semua senjata lengkap berikut amunisinya. Dan untuk Lyra, ikut denganku. Aku mempunyai tugas khusus buatmu!" Lintang kembali menuju kamar Bintang diikuti oleh Lyra dibelakangnya.
"Apa kau yakin rencana ini akan berhasil, Nak?" Bintang menatap Lintang dengan khawatir.
__ADS_1
"Ayolah Papa. Sejak kapan Pimpinan utama DZ memiliki wajah khawatir seperti itu?!. Jika DZ adalah agen rahasia nomer satu di negara ini, maka musuh model apapun akan bertekuk lutut dihadapan kita." Tatapan Lintang penuh keyakinan.
"Aku tak meragukan kemampuanmu dan kehebatan tim kita. Tapi jaman semakin berkembang. Para penjahat jauh lebih hebat daripada dulu!" bukan suatu yang aneh jika Bintang masih terus khawatir, mengingat Rani sedang berada di tangan Broto.
"Iya, Pa. Aku paham tentang itu. Tapi satu yang Papa lupakan. Kita juga bukan tim DZ yang dulu. Wulan sudah tumbuh dewasa, dan kita sekarang memiliki Lyra!" Lintang tetap teguh pada keyakinannya.
"Dan kau lupa jika ada aku disini. Aku akan ikut turun bersama tim Badak untuk membantu Lintang!" Pak Fuad tiba-tiba muncul dikamar Bintang.
Pak Fuad adalah veteran tentara, sama seperti Bintang. Mereka bersahabat sejak masih sama-sama memanggul senjata. Bahkan, Pak Fuad saat itu sudah berada pada level master beladiri. Pak Fuad dulu ditunjuk sebagai pelatih beladiri bagi semua anggota pasukan.
Mengenai tim Badak. Tim tersebut adalah tim bayangan yang sempat dibentuk oleh Fuad dan Bintang, beranggotakan para tentara muda pilihan. Rencana waktu itu adalah sebagai Tim persiapan untuk membentuk DZ. Sayangnya pemerintah menolak karena semua komponen Tim Badak adalah personel militer. Pemerintah meminta agar tim benar-benar versi swasta agar tidak terjadi permasalahan internal negara di kemudian hari. Oleh karena itulah Bintang sengaja dicopot dari posisinya dan dikhususkan untuk mengelola DZ.
"Hahaha, Master. Aku lupa jika memiliki guru beladiri sepertimu dan juga tim Badak yang sangat setia. Terimakasih atas bantuannya.." Bintang berubah ceria ketika menatap Pak Fuad.
"Apa yang kau bicarakan?. Terakhir berada disana, kau sudah menduduki level half master. Itu bukan main-main. Untuk sahabat, tak perlu sopan santun dan ucapan terimakasih kasih semacam itu. Lagipula kita belum bertempur, untuk apa kau ucapkan terimakasih?!" tampik Pak Fuad.
__ADS_1
"Ada sahabat yang baik, dan ada sahabat yang buruk seperti Broto sontoloyo itu. Semua diciptakan serba seimbang. Segala puji bagi Allah Sang Maha Pemberi Pertolongan," Bintang tertunduk haru, bulir airmata menetes membasahi kain perban yang membalut kakinya.
..._-_-_...