
POV Author
Tiba di rumah, keadaan sudah sangat mencekam. Bangunan rusak parah, segala perabot dan isi rumah berhamburan seperti telah diterjang tsunami, mayat para pelayan dan penjaga rumah bergelimpangan seolah nyawa demikian tak berharga.
Tim DZ dan pihak kepolisian sudah datang beberapa menit sebelum Lintang tiba. Mereka sedang menyisir lokasi ketika Lintang datang.
Wajah Lintang dan Wulan merebak panik. Mereka berlarian memasuki puing-puing rumah untuk mencari keberadaan orangtua mereka dan juga Linda. Alvian terduduk dengan lemas di pelataran rumah tanpa tahu harus berbuat apa.
"Yaa Allah. Siapa yang melakukan tindakan keji seperti ini?!" Lyra berusaha berjalan lebih tenang dan mengamati setiap jengkal ruangan dengan teliti.
Wulan terlihat menangis histeris dalam pelukan Lintang. Alvian juga kembali kalap dan ditenangkan oleh Deo.
"Pa-Papaa.." pengamatan Lyra menuai hasil.
Lyra berlari menuju sebuah almari yang menindih tubuh seseorang.
BRAKK
Sekuat tenaga Lyra melemparkan almari yang tidak terlalu besar dan meraih tubuh Bintang. Pria itu sudah tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah.
__ADS_1
"Deooo!!.. bawa tandu dan pasukan kemari. Detak jantung Papa masih ada meski lemah. Segera bawa ke rumah sakit. Sisa pasukan, lanjutkan pencarian!" perintah Lyra mengambil alih komando karena melihat Lintang, Alvian, dan Wulan yang seperti lingkung.
--
2 jam berikutnya..
Semua sedang menunggu penanganan Bintang di rumah sakit dengan cemas.
Hingga semua korban telah di evakuasi, tak ditemukan tubuh Rani dan Linda dirumah tersebut.
"Hikss..Papaa..Mamaa.." Wulan tersedu.
"Harapan kita hanya pada Papa. Semoga Papa segera sadar dan bisa menceritakan semua yang telah terjadi disana!" lirih Lyra ditengah semua orang yang menunggu di rumah sakit.
Alvian sudah kembali tenang. Ia berusaha tegar dan kuat setelah melihat bagaimana Lyra berjuang seorang diri memimpin tim dan memompa semangat semua orang.
"Kalian, ikutlah ke ruangan dokter!" dokter Andrian muncul.
"Pak Bintang mengalami patah tulang rusuk dan paha, beberapa sayatan senjata tajam pada sebagian tubuhnya, dan baru saja kami mengangkat sebuah peluru yang bersarang di lengan kanannya. Kondisinya masih sangat lemah dan tak sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat bius. Tapi tenang saja, detak jantung dan nadinya masih stabil. Semoga beliau segera sadar dalam beberapa jam kedepan!" terang dokter Andrian.
__ADS_1
"Alhamdulillah alaa kulli haal. Lakukan yang terbaik untuk Papa!" Lintang menangis tersedu diantara sedih dan bahagia.
"Deo, bagaimana hasil peyelidikan tim DZ dan kepolisian?" Lyra menoleh pada Deo.
"Saksi mata mengatakan, lebih dari 4 Helikopter terlihat berputar-putar diatas rumah sebelum kejadian penyerangan. Kami masih mempelajari motif dan mencari bukti!" Deo berusaha menjelaskan dengan rinci.
"Lanjutkan investigasi tim!" perintah Lyra.
"Melihat kondisi yang sangat berbahaya ini, aku menyarankan kalian untuk berkantor di rumah sakit ini saja. Semua kita diskusikan disini. Toh ini juga rumah sakit milik kalian juga kan?!" dokter Andrian memberikan masukan.
"Mas Lintang, Wulan, Alvian. Kalian bangkitlah. Jangan terpuruk dalam kekalutan seperti ini. Kita harus segera menguasai diri dan menjernihkan pikiran. PR kita begitu rumit dan berbahaya. Aku butuh kehadiran kalian!" Lyra menatap satu persatu dari mereka.
"Ma-afkan aku, Sayang. Aku akan berusaha tenang. Ayo Wulan, Vian. Kalian juga harus bisa tenang. Kita bantu Lyra memikirkan ini semua!" Lintang mengusap wajahnya dengan kasar, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Bintang Group, are you here?" Lyra kembali memompa semangat.
"Yes, we are here!" Serempak Lintang, Alvian, Wulan, dan Deo berdiri menjawab panggilan Lyra.
..._-_-_...
__ADS_1