Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Siaga satu


__ADS_3

POV Author


"Bodoh!!"


"Menghadapi satu wanita saja kalian tak becus!"


Seseorang terlihat memerah wajahnya menahan amarah yang menggelegak. Tatapan kecewa begitu tergambar jelas dari pandangannya yang mengarah pada ke enam anak buah yang sedang tertunduk takut. Empat diantaranya terlihat berbalut kain perban di bagian kaki dan perut.


"Dia sangat mahir beladiri, Bos." ucap salah satu dari mereka membela diri.


"Dia yang mahir, atau kalian yang kelewat amatir?. Gara-gara kalian, sekarang aku harus menyusul rencana lagi dari awal. Bangsa*t!" teriak seseorang yang dipanggil Bos tersebut.


"Beri kami kesempatan kedua, Bos. Kami akan bergerak lebih hati-hati dan penuh strategi," imbuh satu orang lainnya.


"Tidak. kalian tidak bisa bergerak sendiri seperti kemarin. Kalian akan kulibatkan dalam tim yang baru, dengan strategi yang baru. Percuma saja jika kalian berangkat sendiri. Yang ada hanya akan menuai kegagalan berikutnya!" sarkas si Bos dengan geram.


"Apa kita tidak akan terlacak oleh Lintang?" tanya seseorang yang dulu sempat dijanjikan oleh si Bos untuk menggantikan posisi Alvian nantinya.


"Tenang saja, Satrio sudah memalsukan plat nomer motor-motor mereka. Lintang memang cerdas, tapi aku lebih cerdas hahaha," tawa si Bos menggema membuat dadanya yang membusung itu menjadi turun naik mengikuti intonasi suara tawa.

__ADS_1


..._-_-_...


"Lu harus lebih hati-hati mulai sekarang, Lyra. Orang-orang jahat itu mengincarmu!" ucap Linda prihatin.


Saat ini Lyra, Lintang, Alvian, dan Linda tengah duduk bersama di ruang kerja rumah Lintang.


"Kondisi sudah bisa disebut siaga satu. Keberadaan Lyra dan Bos Lintang dimanapun akan memancing kedatangan para penjahat itu. Sementara, tempat yang paling aman adalah di rumah ini. Namun tidak menutup kemungkinan pada kenekatan mereka," Alvian nampak serius berpikir.


KRIINGG


"Ya haloo," Alvian mengangkat telepon kemudian menekan tombol load speaker agar mereka berempat bisa mendengar semua.


"Shii*t!. Mereka sengaja menghilangkan bukti dan saksi. Ok, Pedro. Ini aku Lintang. Pantau terus rumah tersangka sambil terus melakukan pelacakan diberbagai tempat. Laporkan segera jika tim khusus mendapatkan informasi terbaru!" jawab Lintang dengan wajah kesal.


"Baik, Pak. Siap," balas Pedro sebelum mengakhiri panggilan telepon.


"Sebaiknya kita kurangi kesibukan Pak Lintang dan Lyra diluar rumah. Kegiatan diluar rumah bisa saya kerjakan sementara. Jikapun harus keluar, Linda dan saya akan ikut menemani berikut kawalan tim khusus dari jarak yang aman," dengan penuh pertimbangan, Alvian mengatur strategi.


"Yahh..ga bisa berduaan dengan Lyra dong," keluh Lintang cengengesan.

__ADS_1


"Ishh apaan sih," Lyra mendesis sebal.


"Aduuh..ada apa ini, sepertinya kita tertinggal hott news," Linda melirik kearah Alvian dengan tersenyum jahil.


"Ada something yang kita don't know," imbuh Alvian sambil terkekeh.


"Kalian kompak banget kalau lagi jahil," sembur Lintang merasa terusik.


"Pak, ingat kan ucapanku kemarin pagi?, kalau sering kompak berarti mereka?


"Pacaran!" Lintang menyambut umpan Lyra dengan sangat baik kemudian menendang bola tepat kegawang lawan.


"Ya ampyun!" Linda terbelalak kaget menerima serangan mendadak tersebut.


"Bujubuneng!" Alvian ikut kaget.


"Eh Vian, ada tugas khusus buat kamu. Sampaikan pada Bu Liana untuk mengangkat Linda sebagai sekretaris CEO. Dengan begitu kau akan lebih terbantu dalam bekerja selama aku tidak aktif. Dan lagi, kau akan lebih bahagia jika ada Linda menemani, Hahaha." instruksi Lintang yang membagongkan.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2