Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Sindiran telak


__ADS_3

POV Lyra


Aku dan Alvian mundur sejenak untuk menarik napas. Posisi kami saling memunggungi dengan menghadap pada lawan masing-masing.


"Kita bertukar serangan. Hitungan ke 3 kamu lompat tinggi sambil memutar tubuh. Aku akan mengambil bawah untuk juga memutar tubuh dan menyerang lawanmu. Setelah itu aku akan cepat memutar lagi dan kita akan lempar pedang pada dua orang sisa terakhir," bisik Alvian memberi instruksi.


"Satu."


"Dua.."


DOORR


DORR


DORR


DORRR..


Belum sempat kami bergerak, muncul Linda dengan menggenggam 2 pistol sekaligus. Senyum sinis tersungging dari bibirnya. Empat penjahat terakhir terkapar ditangan Linda.

__ADS_1


"Gue hampir mati gara-gara perbuatan komplotan kalian. Sekarang gue minta ganti!" Linda mendelik sadis menatap empat orang tubuh lawan yang tak mungkin mendengar suaranya.


Dari balik punggung Linda muncul Mas Lintang menyeret 3 penjahat yang tadi sempat kami lumpuhkan diruang tamu. Satu orang diantaranya masih sadar, namun dengan wajah babak belur setelah dihajar Mas Lintang.


"Vian, panggil clearing dan bawa satu orang ini untuk menjadi sandera di markas. Kita akan mengurusnya nanti," wajah Mas Lintang mengeras.


Dengan posesif Mas Lintang menarik pergelangan tanganku dan segera memeriksa semua bagian tubuhku, "Kamu tak apa-apa, Sayang?" matanya masih terus memindai tubuhku mencari bila ada luka atau sejenisnya.


"Aku ga kenapa-napa, Mas. Jangan berlebihan gitu dong.." aku menatap Linda serta Alvian dengan perasaan malu dan tidak enak hati.


--


Malam itu juga kami kembali pulang. Melihat kondisi yang cukup berbahaya jika berada diluar membuat kami harus terus waspada.


"Salah kamu juga, sudah tahu Liana masih berkeliaran, eh kamu malah keluyuran!" cebik Pak Bintang keesokan harinya saat kami berkumpul di markas DZ.


"Ya aku pikir, sekali-kali keluar bisa lah. Masa tiap hari cuma mondar-mandir rumah, kantor, markas, balik rumah lagi, ahh membosankan." Mas Lintang membela diri.


"Ya sudah, rencana pernikahannya dimajukan saja. Biar nanti kamu punya hiburan dirumah, ga ingin keluar-keluar lagi!" potong Pak Bintang.

__ADS_1


"Apa saya ini mirip topeng monyet gitu ya, Pa. Kok bisa jadi hiburan?!" meski malu, kucoba sedikit berani menanggapi ucapan Pak Bintang.


"Iya kamu topengnya, dia monyetnya!, hahaha." Gelak Pak Bintang sembari menunjuk ke arah Mas Bintang.


Spontan kami tertawa semua. Tak terkecuali Linda, Deo, dan Alvian ikut terbahak-bahak melihat Mas Lintang di-bully Papanya sendiri.


"Eh, apa ga nunggu Vian lamaran dulu?. Bukannya kita mau nikah masal?" Mas Lintang emang pinter ngeles, melempar bola panas ke Alvian.


"Ga usah. Kalian duluan aja gih," Alvian tersenyum malu-malu.


"Ohh kami duluan?!. Ya ga masalah sih. Tapi, apa kalian berdua ga kepengen anu?, Haha.." wajah Alvian dan Linda langsung terlihat buruk begitu menerima sindiran telak dari Mas Lintang.


"Eh bentar, bentar. Tadi katanya kami disuruh duluan ya?. Oh berarti kalian sudah jadian rupanya!" aku ikut-ikutan mengaduk di air keruh dan membuat wajah mereka kian mendung memburuk.


"Itu..anu," Alvian tergagap.


"Nah nah.. ketahuan deh. Papa, Mas Lintang, Deo, ayo tim semua kumpul. Kita mau ditraktir makan sama Dek Vian," aku semakin menjadi-jadi.


"Yahh runyam deh," keluh Alvian.

__ADS_1


Mas Lintang dengan gemas merespon, "Runyam apaan?!. Anggap aja ini uang ganti sewa Vila mu yang gratisan kemarin!".


..._-_-_...


__ADS_2