Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Skenario Lyra


__ADS_3

POV Author


"Rencananya, aku memang akan mengajakmu untuk menghadiri sebuah Expo Bisnis di Jackcity. Tapi maaf ada sedikit perubahan. Kau terpaksa harus mendampingi Pak Lintang menemui klien karena Pak Alvian sedang ada kegiatan lain yang tak kalah penting," ucap Lyra pada Laras saat helikopter mereka baru saja mendarat di atap gedung pencakar langit milik perusahaan BTT.


"Ke-kenapa berubah begitu mendadak, Bu?" Laras tentu saja kaget mendengar perubahan tersebut.


"Iya maafkanku karena mengabarkan terlalu mendadak. Tapi ini karena kondisi sangat urgent. Kami tak memiliki pilihan lainnya," lanjut Lyra.


Lyra memang telah membuat skenario sedemian rupa untuk bisa mempertemukan Laras dengan suaminya. Wanita dimanapun akan merasakan sakit saat suaminya bertemu dengan wanita lain, namun Lyra berusaha menguatkan hati demi sebuah cita-cita mulia. Berbagi suami memang tak semudah berbagi roti, namun itulah yang dicari Lyra, ia rela bisa berbagi roti.


--


Satu jam berikutnya, di Restoran Fang..


"Apa kliennya urung untuk datang?. Kenapa lama sekali?" lirih Laras saat ia duduk berdua bersama Lintang.


"Ehmm..maaf, Laras. Sebenarnya, ini tak seperti yang kau pikirkan. Klien yang kita tunggu hanya fiktif. Semua akal-akalan Bu Lyra agar kita bisa bertemu," ucap Lintang dengan wajah tegang.


"Mak-maksud Bu Lyra apa, Pak?" Laras tergagap.


"Kau diamlah, dan dengarkan semua perkataanku. Bu Lyra ingin kita bersama, kemudian berpacaran, dan menikah. Mungkin ini sangat mendadak bagi kita, tapi beginilah jalan yang harus kita lalui. Lebih baik kita jalani dulu saja. Aku harap kau bersedia untuk menjadi kekasihku," sebuah ungkapan yang aneh terdengar dari bibir Lintang.


Jika diluar sana sang pria akan menyatakan cinta untuk mendapatkan kekasih hatinya, namun tidak bagi Lintang dan Laras. Lintang seperti sedang melakukan lamaran pekerjaan. Logikanya saja yang bekerja, bukan hatinya. Dia hanya meminta status, bukan ikatan batin.


"Tung-tunggu dulu. Ini maksudnya bagaimana, Pak?" Laras jelas bingung dengan kata-kata Lintang.


Memang Laras mencintai Lintang, namun semuanya justru kini terasa canggung dan janggal.


"Yah, seperti yang kubilang tadi. Aku harap kau bersedia menjadi kekasihku. Kita jalani apa yang ada dulu," ulang Lintang tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Apa Pak Lintang jatuh cinta padaku?" Laras memberanikan diri untuk bertanya.


"Belum. Tapi jika dianggap perlu, aku akan belajar," ujar Lintang tanpa merasa bersalah.


"Lalu apa landasan Pak Lintang memintaku untuk menjadi kekasih?" Laras masih saja bingung dan tak paham.


"Sesuai permintaan Bu Lyra," jawab Lintang.


"Kenapa harus mengikuti permintaan Bu Lyra?, siapa dia?" kejar Laras penasaran.


"Begini Laras. Sejak awal Bu Lyra dan Pak Alvian sudah mengamatimu. Mereka akhirnya tahu bagaimana perasaanmu padaku. Mereka juga ikut merasakan bagaimana ketulusanmu. Karena tak ingin melihatmu terluka, maka Bu Lyra memintaku untuk menerimamu. Dia tak bisa melihat wanita sebaik kamu menderita karena cinta," ungkap Lintang.


"Bu Lyra sungguh sangat baik hati. Aku tak mengira bahwa ia mendukungku seperti ini," Laras merasa sangat berhutang budi pada Lyra.


"Jadi, aku harap kau bersedia menjadi kekasihku," ulang Lintang.


"Ya, aku akan belajar romantis jika itu yang kau mau.." Lintang sedikit terhibur melihat betapa imutnya Laras saat merajuk.


"Hmm..cara nembak yang aneh dan tidak wajar," keluh Laras.


"Lalu kau bersedia?" Lintang mengangkat kedua alisnya.


"Ga tau deh. Pikir aja sendiri!" Laras kembali merajuk.


"Kok gitu?!" Lintang mengerutkan kening.


"Yahh kan Pak Lintang sudah dikasih tahu sama Bu Lyra tentang bagaimana perasaanku. Itu sudah cukup mewakili bagaimana jawabanku seharusnya kan?!" Laras terpaksa harus tersipu meski kondisi sedang sangat tidak romantis sama sekali.


"Baguslah kalau begitu.." sambut Lintang datar.

__ADS_1


"Pak Lintang kenapa tidak terlihat bahagia setelah aku terima?" giliran Laras yang mengerutkan kening.


"Aku kau mengucapkannya?. Kurasa tidak!" cebik Lintang protes.


"Kan sudah diwakili sama Bu Lyra!" Laras masih tersipu.


"Hei dengarkan aku!. Aku kau mau jadi kekasihku, Sayang?" Lintang cepat meraih kedua pipi Laras dan menangkupkan telapak tangannya.


Pandangan mereka saling bertemu. Jelas tergambar dalam setiap tatapan Laras bahwa ia sangat mencintai pria dihadapannya.


"K-kau memanggilku a-apa?" Laras seolah tak percaya.


"Itu terpaksa!" kelit Lintang


"Jawab saja cepat!" imbuh Lintang.


"i-iya, aku ma-u." Laras menggoyang wajahnya yang masih dalam tangkuoan tangan Lintang, ia menunduk malu-malu.


"Pertanyaanku belum kau jawab," desis Laras masih menundukkan wajah.


Lintang mencoba mengingat tentang pertanyaan Laras, namun ia benar-benar tak ingat apapun. "Yang mana?" lirih Lintang.


"Bu Lyra itu siapa?" ucap Laras kembali


"Dia istriku!"


"Hahh?!!"


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2