
POV Author
"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tatap Linda tak bersemangat.
"Ini tentang Lyra.."
"Keluarga Lyranova?"
Alvian belum menyelesaikan kalimatnya saat panggilan perawat mengagetkan mereka.
"Iya, kami rekan kerjanya," Linda berlari mendahului Alvian.
"Silahkan menemui dokter diruang sebelah," perawat tersebut mempersilahkan.
Serempak Linda dan Alvian bergerak memasuki ruang yang tadi ditunjukkan perawat.
"Silahkan duduk," sapa dokter Andrian yang sudah mengenal Alvian dengan baik.
"Lyranova ternyata staff kalian?" tanya dokter Andrian memastikan.
"Iya, Dri." Jawab Alvian tanpa menyebut embel-embel dokter karena sudah terbiasa memanggil nama sejak dulu.
__ADS_1
Andrian adalah kakak kelas Alvian sejak SMP hingga SMA. Andrian juga akrab dengan Lintang karena terbiasa bermain bertiga bersama Alvian.
"ini mengenai Nona Lyranova. Luka dibagian lengan dan bahunya sudah kami sterilkan dan juga dijahit pada beberapa bagian. Hanya saja dia mengalami trauma di bagian kepala. Meski tak ada luka luar pada bagian itu, namun sebenarnya ada bagian sisi kiri kepalanya yang memar dan bengkak. Terjadi gegar otak pada Lyranova," ungkap dokter Andrian.
"Yaa Allah, Lyra.." kembali Linda menangis sendu.
Alvian ingin menenangkan Linda, namun ia merasa canggung karena belum terlalu akrab dengan wanita tersebut.
"Apa itu berbahaya?. Apa yang harus kami lakukan?" tanya Alvian tegang.
"Berbahaya atau tidak, belum bisa kami pastikan. Pasien baru saja sadar. Kita karus melakukan Rontgen kepala besok untuk memastikan. Jadi kalian tolong berikan waktu untuk nona Lyranova beristirahat beberapa jam. Aku akan menghubungi Vian setelah nanti kondisinya mulai stabil," jawab dokter Andrian.
--
"Pak Hendro kemana, Pak?" tanya Linda saat ia dan Alvian duduk di kafetaria rumah sakit sambil menunggu kabar dari dokter Andrian.
"Pak Hendro sedang mencari pihak keluarga dari Lyra. Bagaimanapun juga, keluarganya harus tahu masalah ini," jawab Alvian dengan tatapan menerawang.
"Bapak sudah menghubungi CEO itu?" sinis Linda.
"Setelah ini. Tadi kita cukup sibuk mengurus Lyra. Oya, jika Bu Linda lelah, silahkan pulang dulu. Ini sudah melewati jam kerja kantor. Biar saya yang berjaga disini," ujar Alvian.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya masih gadis. Tolong jangan pakai sebutan 'Bu', kesannya kok saya tua banget," sambar Linda.
"Ahahaha..baiklah, ehmm Linda. Tapi tolong jangan panggil saya 'Pak' juga saat diluar jam kerja. Saya juga masih perjaka tong-tong," Alvian menjulurkan lidahnya jenaka.
"Hehehe baiklah..Mas, eh Kak Vian. Oya soal pulang, kayaknya enggak deh. Saya ingin disini dulu memastikan keadaan Lyra. Lagipula saya diperlukan disini jika Lyra butuh sesuatu. Pak, ehmm Kak Vian tentu tidak bisa menangani semua seorang diri," tukas Linda.
"Terserah kamu saja, tapi jangan lupa besok kamu ada jam kerja," ucap Alvian sambil mengangkat handphone untuk melakukan panggilan.
"Halo, Bos. Ahh runyam nih. Lyra masuk rumah sakit karena kecelakaan kerja. Bos dimana sekarang?, mau kesini atau cukup saya saja?" ternyata Alvian sedang menghubungi Lintang.
"Apaa??. Wah runyam juga ya. Aku baru saja keluar kantor menuju rumah. Sementara kamu handle yah urusan di rumah sakit. Aku akan kesana besok. Hari ini aku penat banget," ucap Lintang diseberang telepon.
"Dia akan kesini besok," ujar Alvian.
"Datang atau tidak sama sekali, tak ada manfaatnya buat Lyra," sarkas Linda.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?. Sepertinya ada sesuatu yang tak beres telah terjadi sebelum Lyra mengalami musibah. Sangat jelas sekali ada kejanggalan dari kalimat Kak Vian tadi saat menelepon Pak Lintang," desak Linda pada Alvian yang terlihat sedikit gugup setelah mendengar kalimat yang diucapkan Linda.
"Sebenarnya..."
..._-_-_...
__ADS_1