
Mata Lyra dimanjakan oleh pemandangan transportasi air kota Amsterdam. Ia tak bosan-bosannya berdecak kagum memandangi riak gelombang air yang dilalui aneka perahu.
Lintang tak jauh berbeda, selera pria maskulin tersebut juga sama dengan Lyra. Sejak kecil, Lintang selalu mencari air setiap kali pikirannya kusut. Entah itu sungai, pantai, atau danau, yang penting alam yang ada airnya.
"Indah sekali, Mas. Sangat indah!" teriak Lyra kegirangan.
"Iya, sayang. Sangat nyaman di hati," Lintang menghirup udara dalam-dalam.
"Apanya yang indah sih?!. Sungai sama perahu aja kok indah. Dikampungku sana juga ada sungai sama perahunya.." kepala Yosi selama seminggu ini lelah geleng-geleng melihat selera bosnya yang antik.
Dalam satu minggu honeymoon, hampir setiap pagi dan sore mereka harus mengawal duo boss, hanya untuk melihat sungai.
"Sudah, jangan banyak komplain. Mau ke sungai kek, mau ke WC kek, mau ke empang kek, mau terjun bebas kek, terserah bos kita. Tugas kita hanya menjaga!" tegur Deo meredam kebosanan pasukannya.
"Metong dong kalau terjun bebas?!, hehe.." Damar ikut nimbrung.
"Itu hanya pengandaian saja. Yang luwes dong. Kaku banget kayak kanebo!" Mukidi bergabung dalam obrolan.
Ke enam pria gagah beracun tersebut tengah asyik ngobrol serta menikmati Expresso didepan sebuah kedai sambil memantau Lintang dan Lyra.
CEKREKK
CEKREKKK
__ADS_1
Lyra mengabadikan momen indahnya bersama Lintang dalam berbagai foto. Dengan niat memanas-manasi, Lyra mengirim foto ke Linda yang sedang menggantikan posisinya di kantor pusat.
"Buruan nikah biar bisa pacaran halal kayak kami!" demikian caption yang disematkan Lyra saat mengirim foto pada Linda.
"Iih cantiknya. Bikin pengen aja lu ah. Gimana mau nikah, Neng. Kalian selalu memberikan kerjaan numpuk seperti ini terus. 🤬 Bisa-bisa gue sampe jompo masih aja jomblo didepan meja ini!" Linda mengirimkan emoticon sumpah serapah pada Lyra.
"Nah gitu dong, Sayang. Yang romantis. Semakin romantis, makin cepet adonan bayinya jadi." Bukan balasan pesan dari Linda yang diterima Lyra, justru pesan Rani yang mengagetkan Lyra.
"Woy jin jompo penunggu meja, kamu kirim fotonya ke Mama Rani?!" tegur Lyra uring-uringan.
"Dasar monyet berhijab. Enak saja kalau ngomong. Gue cuma kirim ke Kak Vian!" bantah Linda tak terima.
"Podo bae alias sami mawon alias sama aja, Dodol. Kamu lupa kalau Alvian itu keponakan mereka?!" Lyra segera mengakhiri chat sebelum ia semakin dongkol.
"Kenapa, Mas?" Lyra penasaran.
"Bagaimana kalau setelah ini kita shopping ke mall itu?" telunjuk Lintang mengarah pada sebuah bangunan besar tak jauh dari sungai.
"Mau cari apa? baju? kan sudah banyak kita, Mass!" Lyra tak mau jika diajak melakukan pemborosan.
"Iya, tapi baju khusus.." Lintang tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Khusus?. Ohh Mas Lintang mau belikan mereka seragam atau baju khusus gitu?" wajah Lyra menoleh pada Deo Cs.
"Yee bukan!!"
"Nah terus??"
"Baju khusus itu biasa disebut pasukan berdaster sebagai baju dinas."
"Baju dinas?. PNS gitu?" Lyra masih tak paham maksud dari suaminya.
"Baju transparan, berenda, ada stockingnya. Yang bikin chocochip kamu menerawang minta disentil. Kamu nanti pakainya pas di kamar." Terang Lintang seperti seorang instruktur senam kegel.
"Ish engga!. Aku malu tau!" Lyra menggeleng cepat.
"Malu sama siapa?. Kan hanya kita berdua dalam kamar!"
"Pokoknya malu, malu, maluu!" wajah Lyra segera merona merah.
"Menyenangkan suami kok malu?. Giliran dandan habis-habisan, baju menonjol kemana-mana saat diluar rumah dan menyenangkan mata banyak pria kok ga malu?" sindir Lintang, bukan buat Lyra, tapi buat pembaca yang merasa saja.
"Ya bukan gitu, Mas. Tapi ini ada indikasi." Lyra melirik kearah Lintang.
"Indikasi apaan?" Lintang bingung.
__ADS_1
"Indikasi keme-suman dibalik sebuah nasehat!" Lintang menutup telinga saat mendengar kata-kata Lyra.
..._-_-_...