
POV Author
"Sayang, rasanya hati ini menjadi tenang saat para pengacau telah berhasil diamankan. Perusahaan juga telah lolos dari jeratan hukum setelah menemukan bukti baru dari kegiatan terlarang Frans," Lintang merebahkan diri dengan posisi kepala berada di pangkuan istrinya.
"Aku lebih tenang lagi, Mas. Berawal dari kuli, sekarang semua terpenuhi. Sungguh aku sangat senang. Sayangnya Bapak tidak bisa ikut merasakan kegembiraan ini," Lyra terlihat cukup sentimetil saat teringat pada Almarhum Pak Joko, Bapak dari Lyra.
"Semua sudah Kehendak-Nya. Tak ada yang diluar kendali Allah. Bahkan daun yang jatuh pun atas Kehendak-Nya. Yakinlah, Bapak akan tetap bahagia diatas sana. Bapak telah berhasil membentuk seorang anak gadis menjadi sholehah dan bertabiat baik, itu adalah keberhasilan terbesar bagi Bapak. Kita doakan saja Bapak agar selalu dalam Rahmat-Nya." Lintang bangkit, kemudian menggamit bahu Lyra dengan penuh rasa sayang.
"Jika kamu bersedih, Bapak akan ikut bersedih.." bisik Lintang.
"Iya, Mas. Maadkan aku.."
"Daripada kita berharu-biru, bagaimana kalau kita ajak Alvian dan Linda nongkrong bareng. Sudah lama kita tidak bersantai bersama.." Lintang memberikan ide.
"Wah setuju, Mas. Sebentar aku hubungi Linda dulu.." Lyra terlihat kembali sumringah.
--
Kafe Bambu Kuning, sebuah kafe pinggir sungai yang dikemas apik layaknya pesta kebun. Suasana menjadi terkesan santai dan asri.
Dua pasang pengantin baru sedang asyik bercengkrama sambil menikmati kudapan yang telah mereka pesan. Iringan live music turut melengkapi rasa nyaman yang ada.
"Eh kapan nih dapet kabar kalau aku akan menjadi Om?" mata Alvian bergerak-gerak mencari masalah ke arah Lintang dan Lyra.
"Ish Om-om genit, haha.." Lyra tergelak membalas serangan Alvian.
"Harusnya kalian dulu yang kasih kabar hamil. Secara kan kalian duo eesek-eseek. Lihat sikon sepi dikit udah gercep aja masuk kamar..hahaha," Lintang ikut membantu Lyra.
"Lah, kenapa aku yang malah diserang balik?!. Bukannya kalian juga duo mecum. Dengar-dengar dari Deo kalian jarang keluar kamar saat honeymoon!" Alvian sang mantan playboy tak pernah kurang materi dalam hal menindas lawan bicara.
"Hahaha dasar suami kamu itu, Lin. Licin banget lidahnya, udah seperti belut dimandiin oli!" Lyra menyerah tak mampu membalik lagi godaan Alvian.
__ADS_1
"Iya sih, licin banget lidahnya. Gue aja sampai berasa kesetrum...eh aduh kelepasan," Linda menutup mulutnya.
"Yaelah, Honey Baby Sweetie my darling ter-unyu. Macam begitu diceritain!" Alvian menepuk keningnya.
"Ups sori, kelepasan..hehe," Linda tersenyum dan menjulurkan lidah.
"Kena batunya. Wkwkwk," Lintang terbahak, diikuti ketiga lainnya yang akhirnya ikut tergelak.
"Eh sebentar aku ke toilet," Lintang sejenak berlalu meninggalkan ketiganya.
Sekian menit berlalu, terdengar suara pembawa acara live music.
"Hadirin semuanya. Hari ini kita kedatangan tamu spesial yang akan menyumbangkan sebuah lagu untuk kita semua. Mari kita sambut CEO muda paling terkenal di negeri ini, Pak Lintang Fanani.."
"Sebuah lagu untuk istri tersayang, dan kedua adik saya yang ada disana. Lagu ini adalah lagu yang dulu selalu menemani saya saat masih mengejar cinta bidadari yang sekarang sudah menjadi istri saya.."
Lyra, Alvian, dan Linda langsung berdiri karena kaget. Semenitpun mereka tak pernah mendengar Lintang berdendang atau mendengarkan musik. Sepertinya hampir tak percaya jika sekarang Lintang berdiri diatas panggung dan memegang mic.
--
Menemani di setiap sepi
Ini aku, sedang merindu
Rindu tentang kamu
Malam, tolonglah, mimpikan tentang dia
Agar ku bisa lihat senyumannya
Malam, tolonglah, bantu ku caranya
__ADS_1
Sampaikan angin, bawakan dia ke arahku
Ini aku, sedang merindu
Rindu tentang kamu (tentang kamu), wo-wo
Malam, tolonglah, mimpikan tentang dia (mimpikan tentang dia)
Agar ku bisa lihat senyumannya
Malam, tolonglah, bantu ku caranya
Sampaikan angin, bawakan dia ke arahku
Segera kututup mata
Sebelum fajar menyapa
Kar'na sebenarnya
Aku ingin lama mimpikannya
(Mahen - Mimpi tentang dia)
--
Diakhir lagu, Lintang mendekati meja ketiganya, kemudian mengecup lembut punggung tangan Lyra.
"Merdu sekali, sangat menyentuh hati.." Lyra menangis larut dalam lirik lagu yang tadi dibawakan Lintang.
Linda juga terlihat menitikkan airmata. Ia yang paling tahu bagaimana perjalanan Lyra hingga meraih cintanya.
__ADS_1
Alvian sebenarnya ingin menangis tapi malu, dan memilih untuk mengunyah potongan nugget dengan rakus untuk menyembunyikan raut muka sedihnya.
..._-_-_...