Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
Menuju Benua Tengah


__ADS_3

Cao Yuan kemudian melihat isi Cincin ruang tersebut.


"Emm setidaknya buah ini cukup sebagai sumber daya untuk sekteku. " gumam Cao Yuan kemudian melangkahkan kakinya untuk mencari tetua Lu Ye.


Tetua Lu Ye yang sedang bersantai melihat Cao Yuan segera menghampirinya.


"Guru! apakah guru akan berangkat sekarang juga? " tanya tetua Lu Ye.


Cao Yuan hanya mengangguk dan memberikan Cincin Ruang yang didalamnya berisi tumpukan buah Dewa.


"Paman Cincin itu berisi Buah Dewa, semuanya untuk anggota sekte yang memiliki ranah Alam, dan tentunya mereka yang bisa mengkonsumsinya mereka yang bisa mengendalikan energi Qi. " ucap Cao Yuan.


Tetua Lu Ye menaikan sebelah alisnya karena baru mengenal nama Buah Dewa, karena rasa penasaran ia segera memeriksa Cincin Ruang yang diberikan Cao Yuan.


"Apa fungsinya buah ini tuan muda? " tanya tetua Lu Ye sambil mengeluarkan satu buah Dewa.


"Paman, buah tersebut sama dengan sumber daya yang sangat langka di seluruh benua tersebut, buah tersebut hanya tumbuh dialam Dewa. " ucap Cao Yuan tenang.


Tetua Lu Ye yang mendengar asal usul buah Dewa tersebut seketika terkejut dan menjatuhkan buah tersebut.


"Al..a..m Dewa! " ucap Tetua Lu Ye terkejut.


Cao Yuan menghela napas sejenak, ia kemudian menjelaskan semua kegunaan dan cara mengkonsumsi buah tersebut. Karena semuanya telah ia jelaskan, Cao Yuan segera pamit pada tetua Lu Ye.


"Paman! aku ingin segera pergi, oiya! Liyan dan Su Yue kuharap mereka suatu saat nanti menjadi pasangan yang romantis. Jika ada masalah penting sekte yang tidak bisa diselesaikan paman Lu bisa mengirim pesan giok padaku. " ucap Cao Yuan kemudian memberikan hormatnya pada tetua Lu Ye.


"Jaga pedang ayahku ini dengan baik, gunakan untuk membela kebenaran. " ucap Cao Yuan terakhir kali sambil mengeluarkan pedang milik ayahnya.


"Ta-tapi guru! pedang apakah yang akan kau gunakan nanti jika bertarung? " tanya tetua Lu Ye sedikit bingung.


Cao Yuan tersenyum dan kemudian membalikan badannya. Sebuah pedang yang sangat elegan memiliki sebuah ukiran naga, aura yang sedikit menindas seketika keluar saat roh naga melihat majikannya memamerkan pedangnya sehingga membuat tetua Lu Ye kini merinding tak karuan.

__ADS_1


"Naga sialan! " gumam Cao Yuan yang juga merasakan aura pedang yang merembes.


"Paman! jaga sekte! aku pamit. " ucap Cao Yuan yang tak ingin kembali menjelaskan asal usul pedang yang ada di punggungnya.


Tetua Lu Ye hanya diam, dan perlahan bulu kuduknya yang berdiri kini telah tertidur kembali. Kini Cao Yuan telah keluar dari sekte dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melompat keatap bangunan sekte satu keatap bangunan lainnya hingga tiba disebuah hutan yang berada didekat sekte Pedang Naga Langit.


Swuush! Swuuush! Niu dan Luo Luo tiba tiba keluar dari Dunia Jiwa.


"Tuan muda! " ucap mereka berdua hormat.


Cao Yuan kemudian mengangguk dan menatap lembut dua bawahannya.


"Niu, Luo Luo! apakah kalian tahu bagaimana caranya kita bisa pergi ke benua rendah? " tanya Cao Yuan.


Niu dan Luo Luo dengan sigap langsung membuat segel tangan. Dan Swuuush! sebuah lingkaran dimensi berwarna biru terang muncul didepan Cao Yuan.


"Tuan muda! silahkan anda memasuki lorong dimensi buatan kami berdua, namun anda tidak diperbolehkan untuk menggunakan Qi didalam lorong tersebut. " ucap Niu.


"Jika tuan muda menggunakan Qi, maka dapat memicu badai ruang dimensi. " ucap Niu menjelaskan.


Luo Luo juga memberi sedikit pengetahuan pada Cao Yuan sehingga semuanya telah jelas, Cao Yuan kemudian meminta Niu dan Luo Luo kembali kedalam Dunia Jiwa. Setelah itu Cao Yuan memasuki lingkaran dimensi tersebut.


Swuuuush! tubuhnya lenyap dibarengi dengan hilangnya lingkaran dimensi yang berada dihutan tersebut. Dengan tenang Cao Yuan masih berjalan terus memasuki kedalam lorong dimensi, namun tanpa ia sedari ia telah berjalan selama tiga puluh menit dan dirinya belum menemukan ujung lorong dimensi.


"Aishh! ternyata membosankan sekali. " gumam Cao Yuan terus melangkahkan kakinya.


Hingga dua jam berjalan, Cao Yuan masih belum menemukan ujung lorong dimensi, dan dirinya kini mengirim pesan pada Niu.


"Niu! apakah lorong dimensi ini tidak ada ujungnya? " ucap Cao Yuan dengan nada sedikit menggerutu.


"Tuan muda bersabarlah! aku rasa sebentar lagi tuan muda akan sampai. " balas Niu.

__ADS_1


Cao Yuan hanya menghela napas panjang, dirinya kini merasa bosan dan sedikit merasa pegal di daerah kakinya karena harus berjalan selama dua jam lebih didalam lorong dimensi. Hingga tiba tiba dirinya melihat sebuah sinar yang mungkin sinar tersebut adalah ujung dari lorong dimensi.


"Akhirnya. " gumam Cao Yuan tiba tiba bersemangat.


Dengan segera ia mempercepat langkahnya, hingga kembali merasa bosan karena lima belas menit telah berlalu namun dirinya belum mencapai ujung lorong. Jika Niu dan Luo Luo tidak memberi peringatan pada Cao Yuan, mungkin dia sudah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, namun mendengar peringatan yang menurutnya dapat membunuhnya jika dia menggunakan Qi. Bagaimana tidak, peringatan yang Niu berikan bukanlah omong kosong.


"Jika tuan muda menggunakan Qi, maka angin kekacauan atau badai dimensi dapat menerpa tubuh anda, ada dua hal berbeda jika anda terkena badai dimensi, tuan muda akan terdampar di Benua yang anda tidak ketahui ataupun tubuh tuan muda hancur. " peringatan Niu masih dengan jelas melekat dipikirannya.


Tak terasa kini Cao Yuan benar benar telah berada dekat dengan lorong dimensi tersebut. Wajahnya yang tadinya lesu, kini kembali bersemangat dan mempercepat langkahnya.


Swuuuush! setelah Cao Yuan menemui ujung lorong, dirinya tiba tiba terjatuh dari langit dan teriakan yang menggema membuat ribuan prajurit yang akan berperang menghentikan langkah mereka.


"Akkkkhh! tolonggg aku terjatuh! " teriak Cao Yuan yang tidak bisa melayang. Suaranya yang menggema membuat ribuan prajurit yang akan berperang benar benar menghentikan langkah mereka,kini mereka semua melihat tubuh pemuda yang terjatuh dari langit.


"Siapa dia! " ucap salah satu jendral.


"Entahlah! " ucap Jendral lainnya.


Baaaamsss! Cao Yuan yang tak sadar dirinya tiba di tengah tengah pertempuran antar kekaisaran kini telah menghantam tanah yang gersang.


"Aduuh! bokongku! " gerutu Cao Yuan dan melihat sekitarnya.


Sedikit rasa terkejutnya saat kanan kirinya terdapat ribuan pasukan yang sepertinya akan berperang pedang dan tombak yang mereka gunakan juga sepertinya sudah siap mencari korban.


"Aku dimana ini! apakah aku sudah sampai di Benua Tengah. "gumam Cao Yuan.


Namun tiba tiba sebuah suara menggema dari arah timur membuatnya sedikit geram.


"Bocah ingusan! apakah kau ingin mati! pergilah! dasar sampah. " teriakan tersebut menggema.


Cao Yuan sedikit tak terima ketika mendengar kata kata Sampah menuju kedirinya. Dengan segera ia mencoba untuk berdiri dan menatap seorang Jendral yang sedang berada diatas tunggangan kuda.

__ADS_1


__ADS_2