Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
16. Cao Zhen Xin ikut campur


__ADS_3

"Li Yao Tunggu! " teriak menggema She Luan menghentikan aksi Li Yao.


Tao Li Yao tersenyum senang.


"Akhirnya kamu datang juga. " ucap Li Yao melepas cengkeramannya.


She Yang yang merasa sakit akibat lehernya di cengkeram hanya bisa jatuh berlutut sambil memegang lehernya.


"Luaner, apakah kamu bodoh. " ucap She Yang.


"Paman. " ucap She Luan menatap sekitarnya, tadinya keluarga She yang tersisa tujuh puluhan orang, kini hanya tinggal dua puluhan orang saja.


"Berhenti! " teriak She Luan menggema.


Sontak pertarungan berhenti, begitu juga dengan She Mei yang berhenti, namun tiga tetua segera menotok peraliran darahnya.


"Sekarang aku akan menerima lamaran Li Yao, jadi untuk keluargaku tak perlu kalian lanjutkan pertempuran ini. " ucap She Luan tegas.


Sontak sisa anggota keluarga She segera memisahkan diri.


"Hahaha tapi sayangnya mereka harus mati. " ucap Li Yao keras.


Jleeeb! Jleeeeb! Puluhan anggota yang tersisa tiba tiba tewas karena tak siap menerima serangan dadakan tersebut.


"Li Yao kamu..." ucap She Luan geram.


"Belum selesai, kini tinggal She Yang. " ucap Li Yao kembali mengangkat tubuh She Yang dengan cara mencengkeram lehernya.


"Paman! " ucap She Luan bersujud didepan Li Yao agar segera menghentikan aksinya.


****


Cao Zhen Xin yang ingin segera membantu keluarga She tiba tiba dihentikan oleh seorang pria paruh baya dengan jubah hijau.


"Anak muda, kamu tidak bisa mengalahkan tiga pria itu, apakah kau benar benar ingin ikut campur. " tanya sang pria.


"Benar apa katamu senior, tapi.... " ucap Cao Zhen Xin menatap kembali seluruh tubuh pria yang tak bisa ia ukur ranah Kultivasinya.


"Bagaimana jika aku membantumu mengalahkan tiga pria yang memiliki ranah dewa sejati tingkat lima, sedangkan kamu berhadapan dengan pemuda itu. " tanya pria tersebut.


Melihat wajah keseriusan pria paruh baya, Cao Zhen Xin langsung menyetujuinya. Karena tak ingin berlama lama, mereka berdua segera melesat dan menyerang masing masing lawan mereka.


Swuuuuush! Jleeeeb! Cao Zhen Xin melempar pedang berwarna keemasan kearah lengan Li Yao yang sedang mencengkeram erat leher She Yang. Sontak Li Yao melepas cengkeramannya untuk menghindari pedang yang akan memotong lengannya itu.

__ADS_1


"Arghhh! Siapa yang berani ikut campur. " ucap Li Yao marah.


"Aku. " ucap Cao Zhen Xin menatap tajam Li Yao.


"Dewa tingkat tiga ingin mengalahkan jenius sepertiku ini? " ucap Li Yao sombong.


She Yang dan She Luan yang melihat celah untuk kabur segera menjauh, dan mendekat kearah Cao Zhen Xin.


"Tuan kamu.." ucap She Luan.


"Tenang saja. " ucap Cao Zhen Xin menatap She Luan dengan lembut.


Swuuuush! Pedang emas tiba tiba bergetar dan terbang kearah tangan Cao Zhen Xin.


"Mundurlah, biarkan dia urusanku. " ucap Cao Zhen Xin.


"Ta-tapi..." ucap She Luan.


" Tidak ada kata tapi, menjauhlah. " ucap Cao Zhen Xin lembut.


Li Yao hanya menatap Cao Zhen Xin dengan tajam, ia benar benar geram dan kini ia mengeluarkan pedang tingkat Dewa milik keluarga She yang ia rampas.


"Hehehe mau beradu pedang. " ucap Cao Zhen Xin.


Meskipun kekuatannya kalah, entah dari segi kecepatan. Cao Zhen Xin sangat percaya diri jika ia melawan tiga tingkat bahkan empat tingkat diatasnya jika ia menggunakan pedang emas milik ayahnya. Karena pedang tersebut sangatlah tajam dan memiliki kekuatan yang berbeda dibandingkan senjata tingkat dewa.


"Hahahaha tentu saja percaya diri, karena raja neraka baru berpesan padaku untuk mengantar rohmu ke tempatnya. " uca Cao Zhen Xin memprovokasi.


Benar saja, provokasi singkatnya berhasil membuat Li Yao wajahnya memerah.


"Arghhh! "


Swuuuush! Li Yao menghilang dan muncul dibelakang Cao Zhen Xin.


"Sampah! "


"Tuan muda belakangmu! "


Dengan cepat Cao Zhen Xin membalikan badannya dan menangkis pedang tingkat Dewa milik keluarga She dengan pedang emasnya.


Baaaamss! Dhuaaaar! Daya kejut dari benturan pedang terjadi, Cao Zhen Xin mundur sepuluh langkah, sedangkan Li Yao lima langkah.


"Bagaimana bisa..." ucap Li Yao terkejut.

__ADS_1


Sama halnya dengan She Luan dan She Yang.


"Tentu bisa, untuk apa aku berani melawanmu jika ranah kultivasimu lebih tinggi. " ucap Cao Zhen Xin.


Swuuuush! Mereka berdua melesat berlawanan arah, seketika mereka bertukar serangan pedang dengan kecepatan yang lebih unggul pada Li Yao.


"Hehehe segini saja kecepatan mu. " ucap Cao Zhen Xin memprovokasi, karena ia telah menggunakan seluruh kecepatannya.


Seseorang yang terbawa emosi dalam pertarungan, tentu saja akan mengakibatkan hal fatal. Salah satunya celah pada gerakan mereka.


"Sombong! " ucap Li Yao tambah naik pitam terus membabi buta menyabetkan pedangnya.


Emosi yang terus meningkat pada Li Yao membuat Cao Zhen Xin sedikit kewalahan menerima serangan dari Li Yao, namun itu hanya berapa saat saja, karena benar dugaannya Li Yao akhirnya memberikan celah padanya.


Slaaaash! Cao Zhen Xin membalikan badannya dan berlari, saat itu juga Li Yao mengejarnya, namun tanpa diduga Cao Zhen Xin bersalto kebelakang dan menyabetkan pedangnya kearah lengan Li Yao. Tentu Li Yao yang telah emosi membuat celah saat mengejar Cao Zhen Xin, akhirnya lengan kirinya terlepas.


"Arghhh! Tanganku. " ucap Li Yao menelan pill penyembuh untuk meredakan rasa sakit..


"Uppss! Aku tak sengaja. " ejek Cao Zhen Xin.


"Bedebah! Aku harus membunuhmu hari ini. " teriak Li Yao dengan amarahnya yang menggebu gebu setelah ia menelan Pill penyembuh tingkat tinggi.


Cao Zhen Xin kembali menghindari segera serangan, ia kembali kewalahan menerima kecepatan serta tebasan yang mengandung Qi sangat besar itu.


***


She Mei telah bebas oleh pria paruh baya yang telah bekerjasama dengan Cao Zhen Xin.


"Terimakasih senior. " ucap She Mei hormat.


Pria paruh baya mengangguk dan kemudian menghilang setelah berhasil membunuh tiga tetua keluarga Tao.


***


"Bagaimana bisa. " ucap She Yang tak bisa berhenti kagum dengan Cao Zhen Xin.


Begitu juga dengan She Luan yang tak berkedip melihat gerakan yang diperagakan Cao Zhen Xin, meskipun begitu ia sangat khawatir terhadap Cao Zhen Xin.


"Li Yao kah namamu. " ucap Cao Zhen Xin ingin memprovokasi.


Li Yao tersadar kesalahannya yaitu emosi saat bertarung hidup dan mati, karena itu ia membiarkan ucapan pemuda lawannya keluar dari telinganya dan berfokus pada gerakan, serta mencari celah yang diperlihatkan Cao Zhen Xin.


"Kenapa pemuda itu terpojok tapi tidak memiliki celah yang dapat aku manfaatkan. " ucap lirih Li Yao terus memberikan serangannya.

__ADS_1


"Itu karena kamu bodoh! " ucap Cao Zhen Xin akhirnya berhasil memancing emosi kembali.


Benar Li Yao seketika hatinya terasa sakit, selama tujuh belas tahun di keluarga Tao, ia tidak pernah mendengar kata bodoh kepadanya , sehingga mendengar kata bodoh dari pemuda yang entah siapa, membuatnya kembali naik pitam dan melupakan fokus untuk memenangkan pertarungan.


__ADS_2