
"Aliran Hitam dan putih semua akan mengikutinya, apakah ada yang salah? " tanya kakek tersebut.
Cao Yuan hanya terdiam, dan kemudian menatap lekat wajah kakek tua tersebut dengan dua pikiran yang sedikit tepat.
"Jika benar mereka para Iblis, maka tentu saja kakek ini tidak akan membantu para sekte untuk menghentikan aksi dari Kekaisaran Meiga untuk kepentingannya. " ucap dalam hati Cao Yuan.
"Tapi... " ucap dalam hati Cao Yuan terhenti setelah melihat pembantu kediaman milik kakek tua telah menyiapkan makanan.
"Bocah! Sarapan lah dulu, setelah ini kamu bisa menuju kekaisaran Meiga. " ucap kakek tua tersebut mengejutkan Cao Yuan.
"Ehhh iya iya baiklah. " jawab Cao Yuan kemudian memakan makanan semua yang ada didepannya.
Selang beberapa menit, makanan telah habis Cao Yuan kemudian berbincang santai, namun dalam pembicaraannya Cao Yuan sedikit menyinggung tentang para Kultivator yang berada di Dunia Naga Hitam yang sekarang ia singgahi.
"Kek! Bukankah pasukan kakek semuanya Kultivator hebat? kenapa kakek meminta bantuan saya? " tanya Cao Yuan.
"Emmm walaupun kekuatan mereka hebat, namun sayangnya mereka kurang berpengalaman dalam pertarungan hidup dan mati. " ucap alasan kakek tua tersebut.
Dalam hatinya Cao Yuan sungguh tertawa terbahak bahak mendengar alasan tersebut.
"Hahaha baiklah kek, jika begitu aku akan melanjutkan perjalananku menuju kekaisaran Meiga. " ucap Cao Yuan langsung berdiri dan hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari dunia kecil Naga Hitam.
Namun baru setengah langkah, Cao Yuan kembali dihentikan oleh kakek tua tersebut.
"Bocah tunggu! Aku ingin memberikanmu sebuah batu giok pemanggil pasukanku bila kamu memerlukan bantuan. " ucap kakek tua tersebut memberikan batu giok berwarna kehitaman.
Cao Yuan menerimanya dan memasukan kedalam Cincin ruangnya. Setelah tidak ada yang dibicarakan kembali Cao Yuan segera kembali berpamitan menuju gerbang dunia kecil tersebut.
Swuuush! Selang beberapa menit Cao Yuan telah keluar dari gerbang Dunia Kecil tersebut dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Kita lihat saja apa yang ingin kalian rencanakan. " gumam Cao Yuan kemudian melihat keadaan sekitarnya.
Tiba tiba, suara rombongan kultivator dari arah kota Pamai yang telah dihancurkan oleh Cao Yuan terdengar.
"Emmm sepertinya mereka berasal dari sekte Shijing. " gumam Cao Yuan kemudian melayang diatas langit.
Senyum manis dan tengilnya ia sunggingkan karena tebakannya tidak salah setelah melihat jubah para murid dan beberapa tetua yang ada dirombongan itu. Cao Yuan masih mengamati rombongan tersebut dengan tenang.
"Sepertinya memang jodoh. " gumam Cao Yuan langsung mendarat tepat dihadapan mereka.
"Siapa kamu! " ucap salah satu tetua langsung waspada, yang diikuti para muridnya.
"Hemm entahlah, tapi aku sungguh muak ketika melihat kalian melewati hutan ini. Apalagi melihat jubah kalian." ucap Cao Yuan.
Mereka saling berpandangan, sebagai sekte aliran hitam terbesar dan disegani di Benua Tengah, baru kali ini mereka merasa dipermalukan oleh seorang pemuda yang entah siapa mereka tak kenal.
"Apa maksudmu anak muda? Apakah kau cari mati? " tanya tetua sekte yang kini menaikan alisnya.
"Bre*gsek! hajar pemuda tersebut! " ucap tetua yang sepertinya pemimpin rombongan sekte Shijing.
Swuuush! Swuuush! Dua puluh orang terdiri dari 18 murid dan dua tetua langsung mengepung Cao Yuan dari berbagai sisi, berharap Cao Yuan tidak akan kabur nantinya. Namun dugaan mereka salah, karena didepan mereka Cao Yuan bukan orang lain.
"Hehehe aku suka gaya kalian. " ucap Cao Yuan memprovokasi.
Provokasi yang singkat namun membuat api dihati mereka berkobar membuat mereka tak segan mengeluarkan senjata dan mulai menyerang Cao Yuan dari berbagai sisi. Dengan tenang Cao Yuan menghindari serangan dari segala sisi.
"Lambat!" ucap Cao Yuan terus berbicara disela sela menghindar tanpa membalas serangan.
"Argghh! Kau meremehkan kami bocah! " jawab salah satu tetua marah.
__ADS_1
Cao Yuan masih tetap tenang, hingga Cao Yuan mengeluarkan telapak Ilahinya dengan kibasan tangan. Swuuush! Swuuush! Baaaams! Dhuaaar! serangan telapak Ilahi yang mendadak membuat para murid menjadi kabut darah karena tidak menghindari telapak tangan yang muncul dari langit tiba tiba. Pertarungan terhenti setelah melihat 7 murid telah tewas tanpa memberikan luka pada tubuh pemuda yang kini mereka kroyok.
"Kenapa berhenti? Katanya sekte yang disegani, tapi nyatanya hanya dengan kibasan tanganku murid kalian tewas seketika. " ucap Cao Yuan memprovokasi.
"Sombong! " ucap tetua yang dari tadi melihat pertempuran kini melesat dengan kecepatan puncak Surga satu.
Cao Yuan hanya diam, melihat tetua yang melesat sudah melancarkan tinjunya kearah wajah Cao Yuan, dengan sigap ia memblokir tinju dengan telapak tangannya.
Baaams! Dhuaaar! serangan yang diblokir oleh Cao Yuan membuat daya kejut yang cukup untuk mendorong murid serta tetua yang berada didekat pertempuran tersebut. Dan setelah mereka melihat apa yang terjadi, rahang mereka terbuka lebar.
"Bagaimana bisa! " ucap mereka semua kompak yang melihat tetua mereka yang menyerang malah terhempas jauh kebelakang, darah segar dari bibirnya pun mentes.
Melihat semua murid dan tetua masih terkejut, Cao Yuan segera melemparkan tali yang terbuat dari Qi untuk mengikat tubuh mereka satu persatu. Setelah itu sebelas murid dan dua tetua menghilang dari kehampaan. Tetua yang telah bertukar serangan dengan Cao Yuan terkejut.
"Dimana muridku dan tetua sekte... Kau ... " ucap tetua tersebut tiba tiba tidak bisa bergerak saat merasakan sebuah tali mengikat tubuhnya.
Cao Yuan dengan tenang menghampiri tetua tersebut, senyum mengerikan bagaikan harimau yang tengah melihat mangsa ia perlihatkan.
"Tenang saja, kau akan menyusul mereka. " ucap Cao Yuan.
Swuuush! tubuh tetua tersebut dimasukan kedalam Dunia Jiwa. Setelah itu Cao Yuan mengamati keadaan sekitarnya. Setelah itu tak lupa ia juga mengambil Cincin ruang tujuh murid yang telah ia bunuh.
"Sudah saatnya aku menuju kekaisaran Meiga! " ucap Cao Yuan langsung melesat kearah timur dengan kecepatan puncak dalam menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, meskipun dengan terbang dia dapat sampai lebih cepat, namun lingkaran Qinya masih belum cukup untuk terbang dengan leluasa.
Tiga jam perjalanan, Cao Yuan tak menemukan masalah apapun sehingga dia kini telah sampai didepan gerbang Kerajaan Tao Lao. Dengan tenang ia melangkahkan kakinya menuju gerbang dimana ia harus kembali memberikan identitas untuk memasuki kerajaan atau kota.
Seperti biasanya Cao Yuan akan menjelaskan pada penjaga gerbang bahwa ia tidak memiliki identitas sama sekali, sehingga ia harus membayar untuk biaya memasuki kota. Tak menemukan kendala lagi yang harus membuatnya menghentikan perjalanan, Cao Yuan memasuki Kerajaan Tao Lao dengan wajah yang sedikit kagum.
"Kerajaan Lao Tao ini sangatlah luas. " gumam Cao Yuan yang melihat dari kejauhan terdapat istana megah yang berdiri.
__ADS_1
####
Klo ada kesalahan tolong minta masukannya gan, tapi yang baik baik. Terimakasih, jangan lupa untuk like.