
Disisi lain, para Kultivator aliran hitam bersiap siap menuju bukit yang berada di timur kota Vuan dengan membawa puluhan murid mereka. Wajah keheranan terlihat saat mereka tidak melihat satupun anggota aliran putih yang akan memperebutkan pusaka pedang nirwana maut.
"Aneh, kenapa aku hanya melihat sekte aliran hitam saja yang akan memperebutkan pusaka aneh itu. " ucap Hu Feng.
"Fenger, bukankah ini hal yang bagus. " ucap Hu Luo dengan rasa percaya tingginya yang tinggi menatap anaknya .
Hu Feng mengangguk menyetujui ucapan ayahnya, setelah itu mereka menatap kepuncak bukit yang terdapat kabut serta mantra formasi yang sangat kuat menyelimuti sebuah pusaka.
****
Cao Zhen Xin dan semua para Kultivator akhirnya menyetujui pedang nirwana maut akan di simpan oleh Ding Yin. Persetujuan mengenai serangan, bahkan siapa yang akan membuat perisai pelindung telah ditetapkan. Semua telah bersiap, dan akhirnya mereka diam diam kembali ketempat mereka masing masing untuk melaksanakan rencana mereka.
"Senior, aku akan ada dibagian penyerangan, aku harap senior memilih posisi sesuai keahlian senior. " ucap Cao Zhen Xin.
Mereka berlima yang tak lain, Liu dan temannya mengangguk. Setelah itu mereka keluar dari ruang VIP dan membayar semua pesanan yang ada.
"Senior, kita berpisah disini. " ucap Cao Zhen Xin setelah keluar dari kedai resto menghilang dari pandangan.
Mereka berlima kemudian saling berpandangan.
"Kita harus melakukan yang terbaik." ucap Liu memimpin.
"Baik! " jawab mereka berempat kompak.
Cao Zhen Xin muncul diatas langit karena ingin memantau semua rencana yang telah disepakati.
"Apakah aliran hitam juga beraliansi. " gumam Cao Zhen Xin melihat rombongan para murid sekte aliran hitam berbondong bondong menuju kearah kabut racun yang disertai mantra formasi yang kuat.
Tak lama, ia juga melihat pergerakan secara diam diam dari segala sudut.
"Emm setidaknya dengan cara ini, pusaka itu akan ada dipihak aliran putih, namun aku juga tidak tahu watak setiap pemimpin aliran putih, apakah ingin menguasai Benua tinggi menggunakan pusaka yang katanya hebat itu. " gumam lagi Cao Zhen Xin.
__ADS_1
Tiba tiba di tengah gumamannya puluhan pria botak dipimpin oleh biksu Wangyan muncul mengagetkan Cao Zhen Xin.
"Amitabha. " ucap biksu Wangyan.
"Ho-hormat pada senior Wangyan. " ucap Cao Zhen Xin terkejut.
"Zhen Xin namamu kah? Ku lihat kamu sudah memiliki rencana yang matang untuk merebutkan pusaka iblis itu. " ucap biksu Wangyan.
Cao Zhen Xin hanya mengangguk dan menatap hormat kearah biksu Wangyan.
"Senior, apakah sejak tadi senior ada disini? " tanya Cao Zhen Xin.
Biksu Wangyan tersenyum lembut kearah Cao Zhen Xin yang membuatnya salah tingkah.
"Benar, siapa sebenarnya identitasmu anak muda. " ucap biksu Wangyan.
Deghhh! Jantung Cao Zhen Xin berdetak kencang.
"Jika itu rahasia, maka yang tua ini tidak berhak untuk mengetahuinya, aku tahu kamu anak yang baik, jadi setelah peperangan ini, aku meminta kamu untuk datang ke sekte Cahaya Suci diujung barat Benua Tinggi ini, dan urusan mengenai pedang ini aku serahkan padamu." ucap biksu Wangyan memberikan identitas tamu sekte Cahaya dengan batu giok yang terukir.
Cao Yuan menerima batu giok tersebut, namun mendengar ucapan biksu Wangyan yang mengajaknya ke sektenya benar benar membuatnya bingung, disisi lain ia harus mencari kakak kandungnya.
"Ta-tapi senior...." ucap Cao Zhen Xin terdiam tidak melihat biksu Wangyan dan muridnya.
"Panjang urusanku. " gerutu Cao Zhen Xin.
Setelah beberapa saat, ia kemudian melesat keatas langit lebih tinggi karena merasakan beberapa aura yang ia kenali, yaitu Ding Yin dan beberapa tetua sekte lainnya yang akan melakukan tugas.
***
"Ding Yin, apakah kau mempercayai pemuda itu. " ucap salah satu tetua.
__ADS_1
Ding Yin menaikan bahunya karena ia juga heran, kenapa ia bisa terbius dengan segala ucapan yang dikeluarkan oleh Cao Zhen Xin.
"Entahlah, namun entah mengapa aku sangat percaya disetiap kata katanya. Apalagi mengenai strategi yang matang ini. " ucap Ding Yin menatap bukit dibawahnya.
Cao Zhen Xin sejak awal yang telah menghilangkan aura keberadaannya dengan tenang menatap mereka yang berbincang santai. Semua telah bersiap di posisi mereka, begitu juga dengan sekte aliran hitam yang memulai memisahkan diri pada kelompok mereka sendiri. Wajah keheranan mereka tambah menjadi jadi akibat tak melihat satupun sekte aliran putih yang akan ikut merebutkan pusaka nirwana maut.
"Apakah mereka benar benar takut untuk berebut dengan kita. " ucap Hu Feng mengedarkan kekuatan jiwanya untuk melacak aura yang ia cari.
"Fenger tenanglah, lagian tujuan kita bukan membunuh mereka, tapi mengambil pusaka nirwana maut. " ucap Hu Luo.
"Baik ayah. " ucap Hu Feng tak puas.
Waktu tiap detik terus berjalan, hingga kabut yang menyelimuti pedang serta mantra formasi yang sangat kuat perlahan ikut memudar sejalannya waktu. Mata tajam mereka bertatap tatapan pada setiap kelompok yang berbeda. Tidak ada raut wajah bersahabat padahal mereka satu aliran, kini yang ada siapa yang dapat mengambil pusaka nirwana maut, ialah yang akan menjadi pemenangnya.
Hingga tiba tiba kabut dan mantra formasi telah benar benar menghilang, setiap kelompok mulai membabi buta menyerang satu aliran yang sama. Dentingan senjata mulai terdengar hingga nyawa satu persatu disetiap kelompok mulai berjatuhan.
"Serang! Jangan lupa tujuan kita. " ucap menggema mereka mulai bertarung satu persatu.
Melihat kekacauan tersebut, Cao Zhen Xin kemudian memberikan kode sinyal untuk melaksanakan rencana mereka.
"Sekarang! " ucap Cao Zhen Xin menggema dipikiran Ding Yin.
Sontak Ding Yin yang sebagai pemimpin aliansi menyalakan kembang api sebagai petanda persiapan.
Baaaams! Dhuaar! Kembang api yang terang ditengah malam terlihat jelas, pasukan aliran putih yang ada disetiap sudut mulai bersiap melepas serangan mereka, begitu juga Ding Yin dan beberapa tetua yang ada disampingnya, mereka memulai membuat pola segel tangan yang sama.
Swuuuuush! Swuuuung! Perisai yang berwarna berbeda beda muncul mencakup seluruh bukit. Setelah itu Ding Yin mengeluarkan kembang api yang berbeda.
Swuuuush! Bamsss! Dhuaaar! Munculnya dua kembang api membuat para aliran hitam yang sedang memperebutkan pedang nirwana menghentikan aksi mereka.
"Arghhhh! Kita terkena jebakan. " ucap Hu Luo yang pintar.
__ADS_1
"Terlambat! Pasukan serang! " ucap Ding Yin menggema keseluruh sudut.