
Setelah Cao Yuan memberikan pengetahuan Kitab Pedang Langit, tiba tiba Liyan langsung berlutut.
"Terimakasih guru! aku pasti akan belajar kitab pemberian guru dengan baik!" ucap Liyan serius.
"Aku tak butuh ucapan, tapi bukti. Baiklah, jaga diri kalian masing masing." ucap Cao Yuan langsung pergi begitu saja.
Mereka bertiga pun hanya memandangi ketua sekte yang kini perlahan meninggalkan mereka.
"Liyan, jika adikku memberi kepercayaan padamu jagalah kepercayaan tersebut. Jika kamu berani macam macam, maka aku sendiri yang akan memburumu! " ucap santai Guo Jing tapi terdengar jelas oleh Liyan ucapannya seperti sebuah ancaman baginya.
"Ba-baik paman guru! " ucap Liyan menyebut Guo Jing dengan sebutan paman.
Setelah itu mereka semua bubar ke kediaman masing masing untuk berkultivasi. Ditengah perjalanan Cao Yuan terus menuju aula sekte dengan tenang walaupun ia benar benar khawatir.
Sesampainya, para tetua telah berkumpul diaula sekte dan melihat Cao Yuan memasuki aula.
"Hormat kami tuan muda! " ucap para tetua kompak.
Cao Yuan kemudian menerima hormat mereka dan ia kemudian langsung menuju kursi kehormatannya.
"Aku kumpulkan kalian kembali karena aku harus mengumumkan tentang kepergian ku dari sekte. Karena aku sendiri ingin mencari tahu siapa kelompok yang telah menyerang anggota sekte kita, dan aku minta para tetua untuk tetap waspada dari serangan kapan saja yang bisa terjadi. " ucap Cao Yuan, seorang bocah tapi memiliki wibawa kepemimpinan yang tegas serta bijaksana.
"Baik tuan muda! " ucap mereka kompak.
"Untuk sementara para faksi yang telah dibuat, aku minta para tetua membimbingnya sesuai dengan tugas mereka. Tingkatkan kekuatan sekte agar dapat menjadi sekte terkuat di Benua Rendah ini. " ucap kembali Cao Yuan.
"Baik tuan muda!" ucap para tetua kompak.
"Kepemimpinan sekte akan dipimpin sementara oleh tetua Lu Ye kembali, apakah ada yang keberatan? " tanya Cao Yuan.
"Kami tidak berani tuan muda! " ucap mereka kompak dan cepat.
"Jika terjadi penghianatan di sekte, apalagi berani merusak nama sekte yang ayahku dirikan, maka aku sendiri yang akan membunuh penghianat tersebut! " ucap Cao Yuan tegas.
Setelah membahas hal lainnya, Cao Yuan memberikan pedang Tingkat Langit buatannya untuk tetua Lu Ye, karena seorang ketua sekte membutuhkan senjata yang bisa tergolong tinggi untuk memperkuat sektenya sendiri.
"Baiklah aku akan pergi, ingat semua ucapanku tadi! " ucap Cao Yuan menatap para tetua kembali.
"Baik tuan muda! " jawab mereka semua kompak.
Setelah itu pertemuan dibubarkan, tetua Lu Ye kemudian menghampiri Cao Yuan.
"Guru! apakah guru benar benar ingin menyelidiki kelompok misterius tersebut? " tanya tetua Lu Ye khawatir.
__ADS_1
Cao Yuan hanya mengangguk saja, dan memikirkan sesuatu.
"Aku rasa kehancuran sekte Teratai Hitam lah yang membuat mereka berani mengusik sekte kita. Jadi ini tugasku sendiri, jagalah sekte ayahku untukku." ucap Cao Yuan langsung pergi meninggalkan tetua Lu Ye.
Tetua Lu Ye hanya menatap punggung Cao Yuan yang kelamaan terlihat keluar dari aula sekte. Cao Yuan terus melangkahkan kakinya hingga di depan gerbang sekte.
"Hormat pada Tuan muda! " ucap penjaga gerbang.
"Ini buat kalian, jaga sekte dengan baik! " ucap Cao Yuan kemudian mengeluarkan beberapa Pill penyembuh dan Pill peningkat kultivasi.
"Terimakasih tuan muda! " jawab para penjaga senang.
Setelah itu Cao Yuan kembali melanjutkan perjalanannya, Ditengah tengah itu ia ingin cepat menuju barat. Karena ia dapat merasakan satu kelompok yang sedang bersembunyi diarah barat sekitar satu kilometer berada di barat sekte.
Sesampainya, Cao Yuan masih merasakan aura yang tengah bersembunyi diatas pohon. Tapi ia dengan sengaja pura pura tak mengetahui keberadaan mereka.
Swuuush! Swuuuush! tiba tiba sepuluh orang bercadar ataupun berbaju hitam muncul mengepung Cao Yuan.
"S..i.ap.aa kalian? " tanya Cao Yuan pura pura panik.
"Siapa kami itu tak penting, terima saja ajalmu! " ucap salah satu kelompok tersebut langsung menyerang Cao Yuan.
Seketika Cao Yuan langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan mereka bersempuluh.
"Tunggu apalagi cepat bunuh dia! " ucap lagi kelompok tersebut.
Swuuush! Swuuush! Swuuush! Sepuluh kelompok itu langsung melesat menggunakan pedang mereka masing masing kearah Cao Yuan.
Senyum misterius Cao Yuan sunggingkan, ia kemudian melesat berlawanan arah dengan tangan kosongnya .
Pertempuran jumlah yang tak seimbang pun kini terlihat. Cao Yuan dengan ranah kultivasinya yang tergolong tinggi di Benua Rendah sangat mudah untuk menghindari serangan kelompok bercadar hitam dengan lihainya.
"Sial dia bukan tandingan kita! " ucap salah satu yang merasa kecepatan Cao Yuan tak bisa diimbangi walaupun dengan tangan kosong.
"Benar! tapi tenang saja, apa yang bisa ia lakukan, kita ini berkelompok dia hanyalah sendiri! " ucap salah satunya terus menerus menggempur Cao Yuan.
"Gerakan Dua Puluh Naga! " teriak Cao Yuan mengeluarkan jurusnya.
Gerakan Cao Yuan tiba tiba bertambah cepat, serangan yang tak bisa ditebak arahnya membuat kelompok tersebut benar benar kewalahan.
Baams! Baamms! Baaams! Baaams! empat kali ledakan yang meledakan tubuh empat orang kelompok tersebut terdengar.
Enam orang sisanya benar benar terkejut, Karena mereka membawa kelompok yang bisa dibilang kekuatannya patut diperhitungkan. Tiga orang tingkat emas, dan tujuh orang tingkat Baja lima.
__ADS_1
Pertarungan kembali terhenti akibat melihat teman mereka terbunuh dengan mudah. Cao Yuan tak ingin memberikan waktu untuk mereka kabur ataupun menghela napas sejenak.
Dengan cepat ia langsung melesat kembali dan mengarahkan tinjunya, karena kelompok mereka yang telah berkurang, membuat pertempuran terlihat sangat unggul pada Cao Yuan.
Telapak Ilahi pun muncul dari langit menghantam para kelompok misterus tersebut. Ledakan masih terdengar dan tiga orang pun kembali tewas tanpa perlawanan bearti. Kini tersisa tiga orang di tingkat emas satu.
"Sebenarnya kelompok mana mereka? aku rasa mereka berasal dari salah satu sekte! " ucap Cao Yuan yang melihat ranah kultivasi mereka cukup tinggi jika digunakan hanya untuk membunuh para anggota sektenya.
Tiga orang tersebut saling tatap seakan akan ingin segera kabur, namun gerakan mereka yang mencurigakan membuat Cao Yuan mengetahui rencana mereka.
Dengan kecepatannya yang sangat cepat tiba tiba saja tubuh mereka terlilit oleh sebuah tali yang terbentuk dari Qi.
"Argghh! " teriak mereka bertiga berusaha keluar dari lilitan Qi yang dibuat oleh Cao Yuan.
"Siapa kamu! " ucap lagi mereka bertiga.
"Nanti aku jelaskan siapa aku! " ucap Cao Yuan dingin langsung memasukan mereka kedalam Dunia Jiwa.
Setelah pertempuran selesai, dengan ilmu meringankan tubuhnya ditingkat mendekati kesempurnaan membuat kecepatannya seperti sebuah bayangan saja.
Sesampainya menemukan sebuah goa yang aman untuknya memasuki dunia jiwa, dengan cepat ia menyegel mulut goa dan langsung memasuki dunia jiwa.
Didalam dunia jiwa, tiga tawanan Cao Yuan dipukuli oleh Niu dan Luo Luo.
"Kakak keenam tendang kemari tubuhnya! " ucap Niu yang menganggap tawanan Cao Yuan seperti bola.
"Baik adik, bersiaplah atau dia akan meledak jika kau tak menangkap tubuh tawanan tuan muda! " ucap Luo Luo akan menendang tubuh tawanan Cao Yuan.
Para tawanan hanya bisa menahan amarah, karena kini ia telah terlilit oleh sebuah Qi yang membuat tubuh mereka tak bisa digerakkan, dan tentunya mereka kini sedang berpikir dimana mereka berada. Tiba tiba mereka langsung bertemu dua manusia aneh yang menganggap mereka sebuah mainan.
Tanpa sadar Cao Yuan telah melihat tingkah laku mereka, dan ditanggapi dengan gelengan kepalanya.
"Pantas Chu Tai dan anaknya menjadi bengkak bengkak, siksaan mereka sungguh kejam. " ucap Cao Yuan terus melihat mereka berdua sedang bermain bola dengan tubuh tawanannya.
Swuuush! tiba tiba Cao Yuan berada di depan Niu dan Luo Kui untuk berhenti membuat tawanannya ketakutan.
"Hormat kami tuan muda! " ucap Luo Luo dan Niu.
"Br*ngsek! lepaskan kami! " tiba tiba tawanan yang melihat munculnya pemuda yang telah menawan mereka mencaci maki Cao Yuan.
Niu yang geram mendengar caci maki tawanan Cao Yuan langsung menghampirinya.
Slaaash! Slaaash!
__ADS_1
Kedua tangan tawanan yang mencaci maki Cao Yuan terpotong saat itu juga. Satu tawanan yang masih sadar pun bergidik ngeri dengan kekejaman yang dilihatnya. Sedangkan tawanan satunya terlihat lemas seperti pingsan akibat menjadi bola untuk Niu dan juga Luo Luo.