Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
Masalalu Liyan


__ADS_3

Sesampainya dikediamannya sendiri Cao Yuan menghentikan langkahnya, dan menatap Liyan yang kini tengah menundukkan kepalanyanya.


"Liyan, mari masuk. " ucap ramah Cao Yuan.


"Ba-baik tuan muda! " balas Liyan.


Setelah memasuki kediamannya, Cao Yuan mengajak Liyan menuju tempat ruang tamu yang terdapat dikediamannya.


"Duduklah, aku ingin berbincang bincang santai dengan mu. " ucap kembali Cao Yuan.


Liyan dengan suasana canggungnya akhirnya duduk dan memberanikan diri untuk bertanya pada Cao Yuan.


"Tuan muda maaf, ada apa tuan muda mengajak saya kemari. " ucap Liyan sopan.


"Aku melihat potensi didalam dirimu, apakah kamu ingin menjadi murid pribadiku? " ucap Cao Yuan kemudian, tiba tiba saja wajah Liyan terlihat heran.


"Aku tahu apa yang dipikiranmu, aku hanya ingin mengangkat mu menjadi murid pribadiku, karena jujur saja aku tak memiliki murid. " ucap Cao Yuan berterus terang.


Liyan terdiam dan mencoba memikirkan keputusannya.


"Katakan saja apa keputusanmu, aku pasti akan menerimanya. " ucap Cao Yuan yang melihat wajah Liyan ragu.


"Aku..." ucap Liyan kemudian terdiam.


"Katakanlah apa yang ingin kau katakan." ucap kembali Cao Yuan.


"Aku sedikit ragu tentang kebenaran tuan muda yang telah menghancurkan sekte aliran hitam terbesar di Benua Rendah ini. " ucap Liyan.


"Jika aku mengatakan kebenarannya apakah kau akan percaya? " tanya kembali Cao Yuan.


Liyan hanya mengangguk, ia juga sepertinya memiliki harapan besar yang ia simpan.


"Benar, aku yang menghancurkan sekte tersebut. " ucap Cao Yuan tenang.


Liyan terdiam dan menatap wajah Cao Yuan untuk memastikan kata katanya apakah terdapat kebohongan didalam setiap ucapannya, tapi ia tak melihat kebohongan melainkan sebuah wajah yang tenang.


Tiba tiba saja Liyan langsung berlutut.


"Hormat pada guru! " ucap Liyan tulus.


"Hormatmu aku terima, menjadi muridku tidaklah sulit, hanya saja buang sifat kearogananmu, boleh saja arogan tapi untuk lawanmu, bukan temanmu ataupun orang disekitarmu. " ucap Cao Yuan kemudian mengangkat tubuh Liyan yang masih berlutut.


"Ba-baik guru! " ucap Liyan gembira.


"Dimana tempat tinggalmu? " tanya Cao Yuan kembali.


"Aku berasal dari kota Lihu guru!" ucap Liyan cepat.


Cao Yuan kemudian menganggukan kepalanya. Mereka berdua kini tengah berbincang bincang santai. Hingga Guo Jing yang bersama Chi Yue memasuki kediaman.

__ADS_1


"Kak? dari mana saja? " ucap Cao Yuan.


"Hem habis berlatih dengan Chi Yue tadi." balas Guo Jing sambil menatap Liyan, ia heran melihat Cao Yuan membawa seorang pemuda yang telah menyinggung Cao Yuan sendiri.


"Hehehe kenalkan kak, dia Liyan murid resmi pertamaku. Liyan, dia kakak ku Guo Jing dan sebelahnya calon istrinya Chi Yue. " ucap Cao Yuan.


Wajah Chi Yue memerah akibat malu. Setelah saling memperkenalkan diri mereka berempat kembali berbincang bincang tawa kecil pun terkadang mengisi perbincangan mereka.


"Liyan, kakak! aku ingin ke aula sekte untuk membahas sesuatu, kalian bisa melanjutkan perbincangan kalian. " ucap Cao Yuan kemudian pergi begitu saja.


Cao Yuan kini masih dilanda kekhawatiran, entah mengapa rasanya ia ingin sekali mencari tahu kelompok yang berani menyerang anggota sektenya, karena itu ia ingin segera merundingkan masalah tersebut dengan para tetua lainnya.


Sesampainya di aula sekte, aula tersebut hanya ada beberapa tetua, termasuk tetua Li Chan dan tetua Hong Bao.


"Hormat pada tuan muda! " ucap mereka berdua yang melihat Cao Yuan memasuki aula sekte.


Cao Yuan kemudian menghampiri mereka berdua dan menerima hormat yang diberikan padanya.


"Tetua Li Chan, apakah anda melihat keberadaan tetua Lu Ye? " tanya Cao Yuan kemudian.


"Tetua Lu Ye kini sedang melatih para alchemist sekte, untuk memberi arahan cara pembuatan Pill yang katanya terbaru. " ucap tetua Li Chan sopan.


"Memang ada kepentingan apa tuan muda? " timpal tetua Hong Bao.


"Aku ingin menyelidiki kasus tentang penyerangan kelompok tertentu yang telah menyerang sekte kita." ucap Cao Yuan serius.


Cao Yuan hanya menggelengkan kepalanya.


"Masalahnya tidak sesimple itu tetua, lebih baik kalian semua segera tingkatkan kekuatan kalian. Dan nanti malam kita akan melakukan pertemuan diaula sekte, aku harap seluruh tetua menghadiri pertemuan ini. " ucap Cao Yuan dan berpamitan untuk kembali ke kediamannya.


Tetua Hong Bao dan tetua Li Chan hanya menganggukkan kepalanya, setelah melihat kepergian Cao Yuan, tetua Li Chan membuka pembicaraan.


"Walaupun tuan muda masih sangat muda, tapi ia dapat berpikir dengan jernih layaknya seorang ketua yang sudah berpengalaman." puji Li Chan.


"Tidak hanya itu saja, kekuatannya juga selalu ia sembunyikan, dan ketika merasakan auranya saja kita bergidik ngeri apalagi kekuatannya? " ucap Hong Bao sambil menebak nebak ranah kultivasi Cao Yuan.


"Sudahlah yang penting kita harus menjaga tuan muda, aku percaya ia akan menjadi seorang legenda kelak. " ucap Li Chan.


Mereka berdua pun bergegas untuk melaksanakan perintah Cao Yuan untuk mengundang para tetua agar menghadiri pertemuan di aula sekte.


Cao Yuan kini telah kembali dikediamannya sendiri, ia pun disambut oleh Liyan, Guo Jing beserta Chi Yue di depan kediaman.


"Yuaner! mari makan siang. " ucap Guo Jing.


"Baik kak! " ucap Cao Yuan kemudian memasuki kediamannya.


Setelah berada di ruang makan, Cao Yuan, Guo Jing, dan Chi Yue heran melihat Liyan yang berada dibelakang Cao Yuan.


"Kenapa kamu jadi seperti pengawal Liyan? " tanya Cao Yuan.

__ADS_1


"Ehh...." ucap Liyan langsung terppotong oleh Guo Jing ucapannya.


"Kamu sudah dianggap oleh kami sebagai keluarga, jadi kemarilah ikut makan siang bersama kami. " ucap Guo Jing yang disetujui oleh Chiyue dan Cao Yuan.


Liyan kemudian duduk dikursi kosong yang terdapat disebelah Cao Yuan, ia sendiri kini seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya terdiam.


"Liyan? kenapa kamu diam saja? apa yang kamu pikirkan? " tanya Cao Yuan bingung.


"Aku..." ucap Liyan kemudian tak melanjutkan pembicaraannya.


"Katakanlah! " ucap Cao Yuan tegas dan membuat Liyan gelagapan.


Guo Jing dan Chi Yue hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku rindu makan bersama seperti ini, karena ayahku seorang walikota Lihu sehingga ia sangat sibuk dan jarang sekali untuk makan bersamaku seperti ini." ucap Liyan sedih.


"Memang ibumu kemana? " tanya Guo Jing penasaran.


Tiba tiba Liyan merubah wajahnya menjadi bertambah sedih, ia juga meneteskan sedikit air matanya. Guo Jing, Chi Yue serta Cao Yuan menyatukan alis mereka melihat perubahan Liyan.


"Ibuku telah tewas pada saat malam hari di kamarnya, dan ketika pembunuhan itu, aku tak sengaja terbangun dari tidurku, lalu melihat dengan mataku sendiri ibuku ditusuk oleh sebuah pedang di perutnya. " ucap Liyan mengingat peristiwa tersebut.


Guo Jing dan Chi Yue pun menghampiri Liyan, mereka berdua memberi semangat dan juga berharap Liyan untuk tetap sabar, tapi berbeda dengan Cao Yuan yang malah penasaran, ia ingin Liyan segera melanjutkan ceritanya.


"Apakah kamu tau siapa pembunuhnya? " ucap Cao Yuan.


"Tidak guru! aku hanya melihat pembunuhnya mengenakan baju hitam, yang hanya terlihat matanya saja." ucap Liyan.


"Emm jadi begitu. " ucap Cao Yuan kemudian mengerti alasan Liyan yang menjadi arogan, karena masalalu dan kurangnya perhatian dari ayahnya.


Tiba tiba saja Cao Yuan terkejut setelah mengingat ucapan Liyan.


"Baju hitam dan hanya matanya saja yang terlihat." gumam Cao Yuan dan mengingat peristiwa yang telah menyerang anggota sektenya sendiri.


"Karena itulah aku ingin segera menjadi kuat, untuk melindungi orang orang yang kusayangi kelak, dan ketika aku kuat nanti, aku tak akan membiarkan orang jahat melukai orang terdekatku. " ucap Liyan sungguh sungguh.


"Maafkan kami yang telah mengungkit masalalumu. " ucap Chi Yue yang sebenarnya memiliki kenangan lebih pahit dari pada Liyan.


Mereka berempat kemudian melanjutkan makan mereka, setelah itu mereka berbincang bincang kembali, hingga tak terasa malam pun tiba.


"Kalian bertiga berkultivasilah dengan baik, karena malam ini aku ingin pergi meninggalkan sekte. " ucap Cao Yuan kemudian memberikan Pill peningkat kultivasi pada mereka bertiga sesuai ranah kultivasi masing masing.


"Liyan, kemarilah! " ucap Cao Yuan.


"Ba-baik guru. " ucap Liyan langsung menghampiri Cao Yuan.


Setelah itu Cao Yuan menempelkan jarinya ke kening Liyan. Sinar keemasan memasuki kening Liyan dan membuatnya mengetahui sebuah kitab berpedang, setelah itu Liyan menjadi terkejut ketika melihat sampul dikitab tersebut.


"Kitab Pedang Langit, tingkat D..e.w.aa! " Ucap Liyan terkejut setengah mati .

__ADS_1


__ADS_2