Legenda Sang Dewa Naga

Legenda Sang Dewa Naga
Dendam yang terbalaskan


__ADS_3

Cao Yuan sungguh kagum dengan kebersihan di kediaman yang telah ia tinggalkan cukup lama itu.


"Paman, apakah paman yang membersihkan kediamanku ini? " tanya Cao Yuan sambil melangkahkan kakinya, sambil diikuti oleh Guo Jing dan Chi Yue.


Tetua Lu Ye menganggukan kepalanya sebagai tanda membenarkan pertanyaan Cao Yuan.


"Kakak! Chi Yue... emm aku harus memanggilmu dengan nama apa ya? " ucap Cao Yuan kebingungan.


"Ahhh... kakak ipar saja sepertinya sangat cocok. " ucap Cao Yuan kembali.


"Haah..." Guo Jing dan Chi Yue membuka mulut mereka lebar secara bersamaan.


Tetua Lu Ye sendiri hanya diam karena tak ingin mengganggu perbincangan mereka.


"Hehehe.. sepertinya kakak ipar suka dengan kakak, maka kenapa tidak nikah saja? " tanya Cao Yuan yang membuat wajah mereka berdua memerah karena malu.


"Berhenti meledekku Yuaner! " ucap Guo Jing sepertinya sudah sangat merasa malu.


"Benar Yuaner! lebih baik kamu ceritakan saja apa yang telah kamu lakukan ketika menghancurkan sekte Teratai Hitam." timpal Tetua Lu Ye.


Cao Yuan akhirnya menyampaikan persis dengan cerita yang ia sampaikan kepada Guo Jing dan Chi Yue. Waktu berganti pada malam hari, sedangkan mereka tengah makan malam bersama.


"Tuan muda! anda menyimpan sampah untuk apa? " gerutu Niu dipikiran Cao Yuan.


"Sampah? " balas Cao Yuan lupa akan satu hal.


Tiba tiba saja ia menjadi terkejut ketika mengingat bahwa dirinya telah mengurung Chu Tai bersama anaknya didalam Dunia Jiwa.


"Guru! kenapa sepertinya guru terkejut? " ucap Tetua Lu Ye yang dibenarkan oleh Guo Jing dan Chi Yue.


"Emm... tidak apa apa, hanya saja aku lupa belum membersihkan makam ayahku." ucap Cao Yuan mencari alasan.


Mereka berempat akhirnya melanjutkan makan malam mereka, hingga makan malam telah usai, Cao Yuan pamit pada pamannya serta Guo Jing dan Chi Yue.


"Paman, Kakak, dan Kakak Ipar! aku ingin membersihkan makam ayahku, jadi kalian semua beristirahat saja." ucap Cao Yuan langsung beranjak dari kursinya dan keluar dari kediamannya sendiri.


Mereka heran melihat tingkah laku Cao Yuan yang sepertinya merahasiakan sesuatu. Sehingga mereka bertiga pun mengikuti Cao Yuan secara diam diam. Hingga mereka tiba disebuah pemakaman milik Sekte Pedang Naga Langit, mereka menghentikan langkahnya.


Swuuush! tiba tiba saja muncul Chu Tai dan anaknya keluar dari kehampaan. Terlihat wajah Chu Tai dan anaknya yang babak belur seperti telah di pukuli oleh Niu.


"Niu kau apakan kedua sampah ini? " ucap Cao Yuan dipikirannya.

__ADS_1


"Hehehe maaf Tuan muda, aku hanya gemas melihat wajah seorang manusia jahat di depanku." ucap Niu yang membuat Cao Yuan menggelengkan kepalanya.


Bagaimana tidak, wajah Chu Tai dan anaknya kini tak bisa dikenali lagi, akibat muka yang terlihat lebam dan memar, yang mungkin menjadi samsak bagi Niu. Kini Chu Tai dan anaknya hanya diam dengan tatapan kosong, mereka memang sudah tak memiliki kesempatan untuk hidup lagi sehingga mereka hanya diam saja.


"Ayah! aku telah membalaskan dendam mu! tenanglah disana, aku sungguh merindukanmu. Dan lihatlah dari jauh aku akan membunuh orang yang telah membuatku jauh darimu! " ucap Cao Yuan sambil meneteskan air matanya, setelah itu ia menggenggam pedang milik ayahnya dan langsung menebas kepala Chu Tai serta anaknya secara bergantian.


Slaash! Slaaash! kepala Chu Tai dan anaknya menggelinding di samping kuburan Cia San Tong.


Setelah memandangi mayat keduanya, Cao Yuan kemudian mengeluarkan Api Ilahi dari tangannya dan membakar tubuh mereka hingga hangus terbakar menjadi debu.


Tetua Lu Ye, Guo Jing serta Chi Yue yang melihat Cao Yuan mengeluarkan seorang dari kehampaan menjadi sangat terkejut, apalagi saat Cao Yuan mengucapkan isi hatinya yang kini dendamnya telah terbalaskan. Dan lebih terkejutnya lagi yang Cao Yuan bunuh adalah Ketua Sekte Teratai Hitam serta anaknya yang membuat mereka mundur secara perlahan, walaupun mereka bertiga dipihak Cao Yuan tapi masih tetap saja merasa ngeri.


Kraaak! tiba tiba Tetua Lu Ye menginjak sebuah ranting dan membuat Cao Yuan menyeka air mata yang menetes, seketika ia langsung melesat menghampiri suara itu.


"Paman, Kakak? kakak ipar? kenapa kalian membuntutiku? " tanya Cao Yuan.


"Dan apakah kalian telah mengetahui rahasiaku? " tanya lagi.


"....." mereka bertiga hanya diam tak tahu harus berbuat apa.


"Maafkan kami guru yang telah lancang mengintip guru! " ucap Tetua Lu Ye mewakili Guo Jing dan Chi Yue dengan rasa bersalah.


"Sudahlah, tapi aku meminta kalian bertiga untuk merahasiakan hall yang kalian lihat tadi. " ucap Cao Yuan santai tapi mereka bertiga yang mendengar ucapan Cao Yuan bagaikan perintah yang tak bisa dibantah.


"Baik! " ucap mereka bertiga kompak.


Setelah itu mereka berempat kembali ke kediaman Cao Yuan. Setelah kembali ke kediamannya sendiri, ia kemudian menatap Tetua Lu Ye.


"Paman, besok aku meminta paman untuk mengumpulkan semua murid sekte dan juga para tetua, karena ada beberapa hall yang harus saya sampaikan. " ucap Cao Yuan tenang.


"Baik guru! apa ada perintah lagi? " tanya Tetua Lu Ye.


Cao Yuan hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu tetua Lu Ye meninggalkan kediaman guru kecilnya dan kembali ke kediamannya sendiri untuk beristirahat. Selama perjalanan ia hanya bingung dengan Cao Yuan guru kecilnya yang selalu membuat kejutan disetiap aksinya.


"Kakak, kakak ipar! sekarang kalian beristirahat, besok pagi kalian silahkan ambil pakaian sekte miliku untuk ikut berkumpul dihalaman sekte." ucap Cao Yuan kembali sambil menatap Guo Jing dan Chi Yue.


"Yuaner, bisa tidak jangan menyebut nama Chi Yue dengan panggilan kakak ipar? " ucap Guo Jing memohon yang disetujui oleh Chi Yue.


"Kakak! bukankah kalian saling menyukai? dan tentu saja aku berharap kalian berdua segera menikah. "ucap Cao Yuan membuat Guo Jing dan Chi Yue malah jadi salah tingkah.


"T..a.pi...." balas Guo Jing sedangkan Chi Yue hanya diam sambil menahan rasa malu didepan bocah cilik yang sepertinya peka terhadap perasannya.

__ADS_1


Walaupun baru satu minggu kenal dengan Guo Jing, Chi Yue nyatanya menyukai sifat Guo Jing yang baik, serta perhatian. Begitu sebaliknya dengan Guo Jing, tapi mereka berdua sadar, bahwa umur mereka masihlah muda, Guo Jing berumur enam belas tahun sedangkan Chi Yue sendiri sama dengan Guo Jing.


"Hahaha sudahlah, kakak dan kakak ipar sebaiknya kalian beristirahat. " ucap Cao Yuan kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.


Chi Yue dan Guo Jing hanya saling berpandangan.


"Yuer! istirahat saja jika badanmu lelah. " ucap Guo Jing .


"Baik." ucap singkat Chi Yue dan menuju kamar yang telah disiapkan Cao Yuan.


Sedangkan Guo Jing sendiri keluar dari kediaman dan mencari angin diluar, karena kini ia memiliki perasaan bahagia, bingung yang menjadi satu sehingga ia hanya bisa memandangi malam yang sunyi itu.


Perasaan bahagia diakibatkan dendam yang telah terbalaskan oleh adik angkatnya, dan juga bertemunya dengan Chi Yue. Sedangkan Bingungnya sendiri ia seperti menjadi beban adiknya karena kini ia tengah menumpang di kediaman adiknya.


Tanpa sadar Guo Jing ternyata di awasi oleh Chi Yue yang kini dibelakangnya.


"Jing er" suara lembut dari Chi Yue.


Guo Jing kemudian membalikan badannya.


"Kenapa tidak istirahat? " tanya Guo Jing.


"Aku melihatmu keluar, sehingga aku ingin mengikutimu. " ucap Chi Yue kemudian menghampiri Guo Jing.


Tiba tiba saja setelah mereka berhadap hadapan Guo Jing dan Chi Yue saling berpelukan mesra, seolah olah mereka berdua adalah pasangan yang sedang merindukan kekasihnya.


"Eheemm..." tiba tiba deheman Cao Yuan membuat Guo Jing dan Chi Yue salah tingkah, seketika mereka juga melepaskan pelukannya.


"Yuaner! kukira kamu tidur. " ucap Guo Jing.


"Bagaimana bisa tidur saat aku merasakan kepergian kalian, eh ternyata kalian sedang bermesraan disini. " ucap Cao Yuan dengan meledek.


Guo Jing dan Chi Yue semakin salah tingkah, dan wajah mereka berdua pun tak luput seperti tomat matang yang berwarna merah. Cao Yuan sendiri malah menghampiri mereka berdua dan menarik kedua tangan pasangan yang ia pergoki itu.


"Naah lebih baik kalian menikah saja, bagaimana jika diambil orang lain dulu. " ucap Cao Yuan sambil menggandengkan tangan mereka berdua, ia juga memberikan senyuman penuh arti kepada mereka.


Mereka berdua semakin memerah malu, serba serbi malu karena umur Cao Yuan yang tergolong muda memiliki ide yang jauh untuk menikahkan mereka berdua.


Setelah itu mereka bertiga berbincang bincang kecil hingga tak terasa tengah malam telah tiba. Dengan hati yang gembira mereka bertiga kembali kekamar mereka untuk beristirahat.


Like + Komen

__ADS_1


__ADS_2