
Beberapa menit mengantri, akhirnya Zhen Xin memasuki kota dengan menaikan satu alisnya, terlihat wajahnya yang sangat heran melihat ramainya pengunjung kota Vuan.
"Sebenarnya apa yang mereka cari. " gumam Cao Zhen Xin.
Karena ia sendiri tidak mengetahui tujuan para kultivator yang berkunjung dikota Vuan, ia akhirnya memutuskan mencari informasi di kedai terdekat. Sesampainya.
"Tu-tuan muda, apakah anda akan memesan minuman? " tanya pelayan menghampiri Cao Zhen Xin dengan sedikit terbata bata.
Nyatanya sejak awal ia memasuki kota, Cao Zhen Xin menjadi sosok yang membuat para Kultivator heran. Wajahnya yang tampan, jubahnya yang berwarna biru keemasan membuatnya terlihat seperti seorang pangeran yang sedang liburan ke kota Vuan tersebut.
"Aku ingin memesan beberapa makanan dan minuman terbaik direstoran ini. " ucap Cao Zhen Xin kemudian mencari tempat duduk yang kosong.
Sang pelayan mengangguk dan dengan segera membuatkan pesanan Cao Zhen Xin, sedangkan untuk Cao Zhen Xin sendiri tengah mendengarkan cerita yang sedang disampaikan oleh pelanggan resto disebelahnya.
"Aku dengar pusaka itu akan diperebutkan saat tengah malam nanti. " ucap salah satu pelanggan.
"Tapi kenapa tengah malam? " tanya pria disampingnya menimpal.
"Aissh kau ini, pusaka tersebut dilindungi oleh kabut beracun, bahkan beberapa mantra formasi yang aneh juga ikut melindungi pedang tersebut. Namun aku mendengar biksu Wangyan mengatakan bahwa racun dan segel formasi itu akan melemah saat tengah malam nanti. " ucap lirih pelanggan lainnya.
Walaupun lirih, nyatanya Cao Zhen Xin dapat mendengar cerita mereka dengan jelas. Rasa penasarannya yang tinggi, membuatnya tak sabar mengetahui sebenarnya senjata apa yang akan diperebutkan itu.
"Maaf senior. " ucap Cao Zhen Xin membuat pelanggan yang bercerita mengalihkan perhatiannya pada Cao Zhen Xin.
Mata mereka menelusuri tubuh Cao Yuan dari atas hingga bawah dengan raut wajah keheranan.
"Iya bocah, apa ada yang bisa kami bantu? " tanya mereka ramah.
"Jika boleh tau, pusaka apa yang kalian akan perebutkan itu, sepertinya sangat penting bagi kalian." ucap Cao Zhen Xin tenang.
Namun keterkejutan terlihat diwajah mereka membuat Cao Zhen Xin heran.
"Aissh apakah kamu ini baru mengenal dunia kultivator? " tanya pria paruh baya.
__ADS_1
"Maaf senior, saya hanya ingin mengetahui saja. " ucap Cao Zhen Xin tenang.
Pria paruh baya bertatapan dengan temannya, seakan akan meminta persetujuan mereka.
"Baiklah, lebih baik kamu ikut bergabung dengan kami, karena aku rasa kamu bukan murid sekte aliran hitam. " ucap lirih pria paruh baya sambil melirik kesana kemari.
Cao Zhen Xin mengangguk, dan kemudian mengangkat kursinya untuk bergabung dengan rombongan orang yang tidak dikenal itu.
"Senior dari raut wajah kalian tadi, sepertinya pusaka itu sangat penting. " ucap Cao Zhen Xin.
"Tentu saja ini sangat penting, karena jika pusaka itu jatuh pada sekte aliran hitam dan Kultivator jahat, bisa bisa mereka membuat onar dan mengacaukan seluruh benua tinggi ini dengan pedang itu. " ucap pria paruh baya.
Seketika Cao Zhen Xin mengetahui alasan mengapa banyak para Kultivator yang datang di kota Vuan.
"Emm, jadi itu alasannya. Terimakasih senior, oiya karena senior telah berbaik hati, pesanan senior akan aku bayarkan semuanya. " ucap Cao Zhen Xin serius.
Mata mereka seketika berbinar mendengar hal tersebut.
"Hahaha terimakasih anak muda, tak kusangka disaat nyawa kita sebentar lagi dipertaruhkan, ada seorang pemuda tampan baik hati sepertimu itu berusaha menghibur kami. " ucap pria paruh baya yang disetujui lainnya.
"Apakah akan terjadi pembantaian dikota ini, jika iyaa maka aku tidak bisa tinggal diam. " gumam Cao Zhen Xin.
Sifat ayahnya yang suka ikut campur urusan orang lain jika terkait nyawa dan kedamaian alam semesta tiba tiba hadir di semangatnya. Setelah itu, mereka semua berbincang santai, makanan pesanan Cao Zhen Xin juga telah ada didepan mejanya. Hingga sepuluh menit makan sambil mendengarkan mereka semua berbincang bincang, Cao Zhen Xin mengetahui kesimpulan mereka semua.
"Senior, jika boleh apakah senior meengijinkanku ikut dalam perebutan pusaka pedang Nirwana maut? " tanya Cao Zhen Xin.
Seketika para pria tersebut berhenti berbincang dan menatap Cao Zhen Xin dengan serius.
"Anak muda, malam nanti bukanlah tempat bermain, karena malam nanti di timur kota Vuan tepatnya bukit Wijaya akan terjadinya ladang pembantaian...." saat akan melanjutkan ucapannya, Cao Zhen Xin memotong ucapan pria tersebut.
"Senior tenang saja, aku rela mati demi kedamaian Benua ini. " ucap Cao Zhen Xin.
Aura yang aneh keluar dari tubuhnya membius pria paruh baya yang ingin kembali menasehati Cao Zhen Xin.
__ADS_1
"Ba-baiklah. " ucap mereka sambil menghela napas.
Senyum tampan diperlihatkan oleh Cao Zhen Xin.
"Tak pantas jika yang muda ini tak mengenalkan identitas. Aku Cao Zhen Xin berterimakasih atas kebaikan senior. " ucap Cao Zhen Xin menuangkan arak kedalam gelas yang ada didepannya.
Setelah itu ia meneguk arak tersebut dengan senyuman yang dapat membius hati para wanita jika melihat senyuman itu. Para pria paruh baya pun mengenalkan nama mereka dengan senang hati.
"Senior Liu, Feng, Hao, Tie, Dao aku harap kita bisa bekerjasama. " ucap Cao Zhen Xin kembali menangkupkan tinjunya.
"Hahaha baiklah anak muda, semoga keberuntungan dipihak kita. " ucap Senior Liu.
Dhuaaar! Tiba tiba suara ledakan dari arah barat terdengar, tentu saja semua orang berhamburan melihat apa yang sedang terjadi.
"Zhen Xin, apakah kau ingin melihat pertempuran yang terjadi? " tanya Tie.
"Baiklah senior, tapi tunggu aku aku ingin membayar semua makanan yang telah kita pesan. " ucap Cao Zhen Xin bergegas membayar makanan yang telah ia pesan, tak lupa ia juga membayar seluruh makanan yang dipesan oleh senior Liu dan teman temannya.
Sesudah membayar, mereka berenam segera mencari sumber ledakan tersebut. Sesampainya, Cao Zhen Xin melihat seorang pemuda yang tengah menginjak kepala seorang kakek berjanggut putih.
"Siapa pemuda itu. " ucap Cao Zhen Xin.
"Tu-tuan muda Hu Feng. " ucap Liu sedikit takut mengucapkan nama pemuda itu.
Cao Yuan menaikan alisnya seketika melihat wajah ketakutan senior Liu.
"Paman sepertinya latar belakang pemuda yang menindas kakek itu tidak biasa. " ucap Cao Zhen Xin.
Tie kemudian menjelaskan latar belakang Hu Feng dengan jelas, Cao Zhen Xin bukannya takut, kini ia malah memperlihatkan senyum anehnya.
"Hehehe aku tidak peduli anak dari ketua sekte, ataupun seorang anak dari Kaisar kekaisaran, jika telah melakukan tindakan yang menindas pada orang lebih tua. " ucap Cao Zhen Xin kemudian menghilang.
Hu Feng terlihat tengah mengangkat kakinya yang menginjak wajah kakek tua bernama Tao Liung Fao.
__ADS_1
"Kakek bau tanah, karena kau telah memprovokasiku, maka aku akan membunuhmu hari ini. " ucap Hu Feng kemudian mengumpulkan Qinya ke arah kakinya.